Sekar Arumi

Sekar Arumi
aksi balas dendam bima


__ADS_3

Bima mulai mengatur segalanya untuk melancarkan aksinya nanti malam, tidak ada yang tau, kalau Bima memang seorang penjahat, sejak masih sekolah, dia sudah tergabung dengan kelompok para preman pasar dan sering ikut jadi komplotan dalam pencurian di rumah rumah mewah. Tapi kalau sudah dirumah, Bima memang terkenal pendiam dan sopan pada semua tetangga tetangganya. Tapi diluar sana dia tak lebih dari seorang penjahat.


Dengan mudah Bima mencari orang untuk membantunya merampok di toko Sekar. Preman yang sudah ahli dan sudah melaksanakan aksinya hampir tanpa cela bertahun tahun selalu bebas tak tersentuh.


Jarwo, Rano, dan Joko. Sudah siap dengan aksinya atas perintah Bima, ketiga penjahat yang terkenal alim di desanya, itulah kenapa mereka tak tersentuh, karena tidak ada yang curiga satupun pada mereka.


"Gimana? kalian sudah siapkan? Nanti saat kalian bertiga eksekusi, aku akan tetap menunggu di dalam mobil, biar saat semua sudah terangkut, kita langsung bisa lolos, biar aman." Bima memberi instruksi pada ketiga sekutunya.


"Siap bos. Tenang saja, pasti semua beres dan kita akan mendapatkan hasil yang banyak malam ini." jawab Jarwo yang di iyakan oleh kedua temannya.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Sudah waktunya." Bima melirik jam yang melingkar ditangannya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari, di jam jam itu pasti semua warga sudah terlelap ke alam mimpi masing-masing.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Wah, kita untung banyak nih bos, aku pikir tadi akan ada tantangan, tapi ternyata semua mulus mulus saja, lancar seperti sedang belanja di pasar." hahahaaa tawa mereka menggema di dalam mobil. "Sudah sudah, lebih baik kita langsung cairkan barang barang ini menjadi uang di tempatnya koh Alan. Sebelum warga disana ada yang melihat." Bima melajukan mobilnya menuju tempat Koh Alan yang menjadi penadah barang barang curian, tempatnya sedikit jauh dari tokonya Sekar, membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk menuju kesana.

__ADS_1


"Wah, kebetulan aku juga lagi butuh barang sembako kayak gini, buat mengisi toko anakku." sambut koh Alan saat Bima dan kawan kawannya turun dari mobil dan mulai menurunkan semua barang-barang hasil curian mereka dari tokonya Sekar.


"Ini, kalau ada lagi, bawa saja kesini. Karena aku masih butuh banyak." lanjut koh Alan sambil memberikan uang lembaran seratus ribuan satu gepok tebal.


"Siap koh, asal sama sama untung saja. Kalau begitu kita permisi dulu." pamit Bima sumringah sambil mencium uang ratusan ribu yang ada di genggamannya.


"Besok pagi, aku yakin, Sekar dan keluarganya akan menangis histeris saat tau tokonya sudah kosong." hahahaaaaaa tawa Bima puas karena sudah membalaskan sakit hatinya pada Sekar.


"Ini bagian kalian, bagi bertiga. Aku pulang jalan kaki saja sampai sana, jangan lupa kembalikan mobilnya dan ganti lagi platnya dengan yang asli." perintah Bima pada ketiga teman kejahatannya.


"Asalamualaikum Bu." sampai dirumah, pintu masih tertutup rapat, dan lampunya juga masih nampak gelap, sepertinya sang ibu masih nyenyak dengan tidurnya. Hingga sampai tiga kali salam dan gedoran baru pintu terbuka, dan wajah sang ibu terlihat sangat kusut dan berantakan khas orang bangun tidur.


"Owalah kamu Bim! kenapa gak bawa kunci sendiri saja sih." omel Bu Patmi pada anak laki-lakinya.


"Lupa Bu, lagian ini juga sudah pagi, Bima lapar, tolong buatkan anakmu ini sarapan yang enak." Bima masuk dengan langkah malas, perutnya memang sudah keroncongan, karena semalam tidak makan apapun.

__ADS_1


"Gayamu Bim, di kulkas tidak ada apa apa, cuma ada telor sama mie instan, kamu mau? kalau mau ibu bikinin."


"Iya, itu aja gak papa, tapi nanti ibu harus masak yang enak enak."


"Uang dari mana buat belanja itu, ibu aja gak punya uang lagi buat belanja."


"Ini, nanti ibu belanja apa aja yang ibu butuhkan dan itu juga buat ganti perhiasan yang Bima pinjam kemarin." Bu Patmi melotot dan mulutnya langsung menganga melihat uang lembaran merah, yang disodorkan Bima ke meja.


"Bener ini semua buat ibu Bim? Ya ampun, ibu bisa beli apa saja dengan uang ini. Terimakasih ya, kamu memang anak ibu yang paling bisa ibu andalkan. Yasudah, ibu akan masakin kamu mie nya dulu, habis itu ibu akan belanja ke pasar, buat isi kulkas."


Hanya karena silau akan kenikmatan dunia, Bu Patmi lupa tugasnya sebagai orang tua, mendidik anak ke jalan yang lurus, mengingatkan jika anak berada dalam kesesatan. Menasehati jika anak mulai berada di jalan yang salah. Bukan justru mendukung dan menyuruh anak melakukan segala cara demi sebuah ambisi dan ego, padahal tau jika jalan yang diambil itu salah. Tanpa disadari sebagai orang tua dia sudah mendorong anak menuju panasnya bara api Neraka. Demi sebuah gengsi dan ingin terlihat wah di mata sesama manusia, Bu Patmi rela mengorbankan anaknya, bahkan menjerumuskan Bima pada perbuatan nista.


Bima merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang terletak di ruang tamu rumahnya, pikirannya menerawang pada Sekar mantan istrinya, dendam serta kebencian sudah menguasai hati dan pikirannya. Bahkan Bima sudah bertekad untuk membuat hidup Sekar menderita, sebagai bakas dendam sakit hatinya karena sudah diusir dan di ceraikan sepihak oleh Sekar, baginya itu sudah sangat merendahkan harga dirinya sebagai laki laki, Bima tidak terima itu.


"Lihat saja Sekar, hidupmu akan hancur secara berlahan, ini masih permulaan. Dan akan ada lagi yang lebih membuatmu menangis darah setelah ini. Tunggu saja permainan Bima selanjutnya." Bima menyeringai jahat, membayangkan penderitaan mantan istrinya akibat ulahnya. Sisi iblisnya terus membisikkan untuk membalas sakit hatinya dengan cara lebih kejam dan menyakitkan. Padahal apa yang terjadi semua juga atas ulahnya sendiri, tapi namanya Bima yang tidak pernah mau menyadari kesalahan dan tak pernah bisa intropeksi diri, selalu memandang setiap masalah dari kesalahan orang lain, kalau saja sikap Bima dan keluarganya tidak keterlaluan, Sekar tidak akan mungkin berbuat nekad dengan memilih bercerai, karena perangai dan bima terus menerus berulah, membuat Sekar tidak mampu lagi bertahan, bukan hanya dirinya yang terluka dan kecewa tapi juga ada ibunya yang merasakan hal yang sama atas sikap dan perilaku Bima. Tanpa punya malu dan bersalah, Bima sudah mengambil perhiasan dan uang milik ibunya, bukannya bertanggung jawab justru Bima memilih kabur tanpa ada kabar sampai enam bulan lamanya, dan kini saat kembali Bima dan ibunya, bukannya minta maaf tapi malah ingin menuntut harta Gono gini, yang bahkan tidak ada sepeserpun uang Bima di harta tersebut.

__ADS_1


__ADS_2