Sekar Arumi

Sekar Arumi
pak RT dan warga


__ADS_3

entah sudah berapa lama aku terkungkung buaian peraduan yang membius lamunan ini, setelah hati dan otakku dibuat lelah oleh laki laki yang kuanggap mampu mengayomi, mata ini tertutup untuk menikmati nikmatnya tidur.


sudah tidak ada lagi suara gaduhnya mas Bima, semoga saja dia sudah pergi kerumah ibunya, aku sudah muak jika melihat wajahnya yang tak kenal malu itu, astagfirullah, ampuni aku ya Alloh.


kulangkahkan kaki ini keluar kamar, niat hati ingin mandi dan segera menunaikan kewajiban empat rokaatku, namun saat kubuka pintu, pemandangan yang ada langsung membuatku mengurut dada, mas Bima tidur terlentang di depan pintu kamar dengan berbantal tas ranselnya.


entah terbuat dari apa hatinya itu, bisa bisanya dia bersikap seperti orang yang tak mengenal pendidikan, apa tidak sedikitpun malu pada ibu juga adikkku yang juga tinggal dirumah ini, ya Robb lebihkan rasa sabar ini, agar emosi tak menguasai diri ini terus menerus.


kugelengkan kepala dan mulai berjingkat pelan untuk melewatinya, entah hati ini sudah terasa kebas, hingga tak ingin lagi perduli dengan apa yang dia lakukan.


meneruskan niat awal untuk mandi dan segera sholat ashar, karena jam didinding sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit, aah karena larut dengan perasaan hingga aku hampir kehilangan waktuku beribadah, ibu selalu mengingatkan untuk tepat waktu dalam sholat, karena Alloh akan membukakan pintu rejeki dan mempermudah semua urusan kita.


setelah selesai mandi, aku memutuskan untuk naik ke lantai atas, lebih baik mengerjakan sholat disana, aku juga ingin menikmati keluh kesah ku dengan pemilik hidupku.


setelah selesai menumpahkan rasa yang membuat hati sesak, tiba tiba aku teringat jika belum mengunci lemari, aku takut jika mas Bima nekad mengambil apa yang bukan haknya, tanpa melepas mukena, aku secepat kilat berlari menuruni anak tangga, membuat Rina kaget bahkan ikut menyusulku berlari melewati tangga demi tangga.


apa yang aku hawatirkan ternyata terjadi, tanpa berdosa mas bima sudah berada di dalam kamar dengan posisi menghadap lemari baju, dan terlihat tangannya sedang membuka dompetku, astagfirullah, astagfirullah, tak henti hentinya ku ucap istighfar agar sisi gilaku tidak keluar.


" apa yang kamu lakukan mas?


kembalikan dompetku, jangan menyuruhku untuk berpikir jika suamiku pencuri, iya mencuri uangku."


dengan dada naik turun menahan amarah sedari tadi, mulut ini tanpa sadar membentak dan mengucapkan kata yang seharusnya tidak terucap, emosi sudah menguasai hati yang lelah karena tingkahnya.


"jaga mulutmu Sekar, aku tidak mencuri, aku hanya mengambil hakku sebagai suamimu, apa salahnya, aku suamimu, aku punya hak, uangmu juga uangku, tidak usah kamu besar besarkan, dasar kamu saja yang susah untuk berbagi."


mas Bima dengan entengnya bicara seolah kerja kerasku juga menjadi haknya, dan dia bisa seenaknya mengambil dan menggunakan uangku sesukanya, tidak akan aku biarkan itu terjadi lagi, mulai detik ini, aku pastikan dia keluar dari rumah ini, dan tidak akan kembali, biar saja orang mau berpikir apa tentangku, aku hanya ingin menjaga hatiku biar tetap waras.


"kembalikan dompetku, jangan lancang kamu Bima, aku sudah muak dengan semua sikapmu."

__ADS_1


dengan emosi dan amarah yang sudah memuncak, kuhampiri mas Bima dan berusaha merebut dompetku yang ada ditangannya.


dengan wajah shoknya karena ucapanku, mas Bima tidak sadar jika aku sudah merebut dompet ditangannya.


aku memang tidak pernah mengisi banyak uang di dompet, paling hanya tiga sampai lima ratus, buat jaga jaga saja jika tiba tiba butuh beli sesuatu, aku periksa isi dompetku dan ternyata sudah kosong, mas Bima sudah mengamankan isinya, sumpah demi apapun aku sangat membenci laki laki yang ada di depanku ini, bukan karena uang, tapi lebih pada kelakuan tak tau malunya itu.


masih dengan dada yang meletup letup, aku memeriksa ATM yang ada di dompetku, ada empat ATM dan disini hanya tiga ATM itu artinya mas Bima sudah mengambil salah satu ATMku.


" kembalikan ATM ku yang kamu ambil dan juga uang yang sudah kamu curi, sebelum aku teriak dan mengundang perhatian semua orang disini, karena aku tidak pernah rela, kamu mengambil uangku seenaknya, dasar laki laki tidak tau malu kamu Bima."


" teriak saja, aku tidak perduli, toh aku tidak mencuri, aku cuma meminjam uang istriku."


Bima tanpa malu tetap kokoh dengan pikiran bodohnya, tanpa merasa bersalah apa lagi malu, Bima berjalan melewati Sekar, saat sudah sampai diambang pintu, Bima kembali menoleh, lagi tanpa malu, dia bertanya berapa pin ATM yang dia bawa.


" owh iya, berapa pin atm mu ini?"


"baiklah, kamu sudah menantangku Bima, jangan salahkan aku jika harus berbuat ini padamu."


Sekar melewati Bima dengan langkah tergesa menuju teras rumah, tanpa di duga, Sekar berteriak kalau ada maling dirumahnya, dan tentu saja mengundang perhatian semua tetangga, apa lagi hari masih terang, tak perlu waktu lama, banyak tetangga yang sudah berlarian kerumah Sekar dan ada salah satu warga yang memanggil pak RT.


"maling....tolong ....tolong...ada maliiing"


"gila kamu Sekar"


bima mulai panik, dan segera mengambil montornya berniat untuk segera pergi, tapi terlambat, karena sudah banyak warga berdatangan memenuhi depan rumah Sekar.


"maling, dimana malingnya mbak Sekar?"


tanya beberapa warga yang sudah ada ditempat.

__ADS_1


" itu malingnya" Sekar menunjuk Bima yang sedang bersiap naik ke montornya, dan seketika warga langsung bengong, karena bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"itu kan mas Bima, suami mbak Sekar, masak jadi maling" salah satu warga berucap bingung.


"iya dia Bima suamiku, dan akan menjadi mantan suami, dia sudah mencuri uangku dengan paksa, tolong bantu saya untuk mengambil apa yang menjadi hak saya."


Sekar bicara dengan tatapan tajam ke arah Bima tanpa rasa segan dan takut sedikitpun, wanita yang sudah lelah karena kelakuan semena mena suaminya itu tidak lagi Sudi memberi ampun laki laki yang saat ini mulai merasakan panas karena menahan malu oleh ulah bar bar istrinya.


" apa benar seperti itu mas Bima?


mungkin ini salah paham, lebih baik diselesaikan baik baik"


timpal pak Kardi yang rumahnya tak jauh dari rumah Sekar, dan dibenarkan oleh warga lainnya.


" iya, selesaikan dulu baik baik mbak Sekar, dan untuk mas Bima, jika benar dengan apa yang dikatakan mba Sekar, lebih baik mas Bima kembalikan uangnya mbak Sekar, karena uang istri milik istri, suami tidak berhak meminta apa lagi mencuri." timpal salah satu warga.


" sudah saya minta baik baik, tapi justru dia nekad mengambil ATM saya juga, apakah saya harus diam saja, sedangkan saya di dzolimi oleh suami saya sendiri?" ucap sekar berapi api, dan Rina berusaha menenangkan kakaknya.


" dasar istri durhaka kamu Sekar, bisa bisanya kamu permalukan suamimu di depan banyak orang, aku tegaskan pada kalian semua, aku sedikitpun tidak mencuri uang Sekar, aku hanya mengambilnya dari dompet istriku, karena dia tidak mau kasih waktu aku memintanya baik baik, aku hanya meminta satu juta lima ratus untuk ibuku, tapi dia pelit , jadi aku mengambilnya, toh ibuku juga ibunya dia, dimana salahku ?"


Bima bicara dengan nada tinggi seolah apa yang dia ucapkan benar dan berpikir jika semua orang akan mendukung sikapnya itu, tapi justru sorakan dan umpatan umpatan kasar yang dia dapat.


semakin riuh dan gaduhnya warga, pak Hartono, selaku ketua RT datang untuk menengahi.


"sudah sudah, jangan ribut dan nanti berakibat fatal, mari kita selesaikan baik baik." pak RT berusaha untuk meredam emosi ibu ibu yang gemas dengan cara berpikirnya Bima.


" mbak Sekar dan mas Bima, lebih baik selesaikan baik baik, mari kita bicarakan ini di dalam, malu sama warga."


dengan berat hati Bima melangkah masuk dan diikuti pak RT dan dua warga laki laki yang ikut masuk, emak emak yang masih kepo, memilih berdiri di teras untuk mencuri dengar.

__ADS_1


__ADS_2