Sekar Arumi

Sekar Arumi
Raihan


__ADS_3

Bima mengingat ingat laki laki bernama Raihan yang fotonya kini terus di pandangnya tanpa kedip.


Ingatannya tertuju pada saat sebelum menikah dengan Sekar. Raihan adalah salah satu teman kajian Sekar yang kini tinggal di Bandung Jawa barat, pria kharismatik yang memiliki beberapa usaha, salah satunya pemilik Bengkel mobil terbesar di kota Bandung. Waktu itu Sekar pernah mengenalkan dirinya pada Raihan saat Sekar mengundangnya di acara pertemuan keluarganya Sekar. Nampak om akhir begitu menyukai laki laki itu, bahkan tidak menghiraukan keberadaan Bima saat itu.


" Pantas saja Sekar berubah, ternyata mereka ada hubungan kusus dan memang berniat menyingkirkan ku. Awas saja kamu Sekar, aku tidak akan tinggal diam." Bima merasa sakit hati dan marah dengan pikirannya sendiri yang belum tentu itu benar. Pada kenyataannya Sekar tidak memiliki ikatan atau hubungan apapun dengan Raihan. Sekar sangat tau batasannya sebagai wanita bersuami. Dan Raihan adalah laki laki berpendidikan dan sopan, meskipun di lubuk hatinya menyimpan rasa cinta untuk Sekar, tetapi Raihan selalu menutupinya dan hanya menyimpan rasa itu di dalam hatinya.


Dengan dada yang bergemuruh penuh amarah dan cemburu, Bima menelpon Sekar.


" Hallo Asalamualaikum." jawab Sekar datar di ujung sana. Karena hatinya masih sakit dengan kelakuan laki laki yang statusnya masih sah menjadi suaminya.


" waalaikumsallam." balas Bima ketus.


"Sekarang aku tahu, kenapa kamu jadi kasar dan berani denganku Sekar. Dasar perempuan murahan kamu." sambung Bima penuh penekanan, emosinya sudah membuatnya hilang kendali dan itu semakin membuat Sekar semakin membencinya.


" Apa kamu bilang Mas? Murahan? Apa maksudmu bicara seperti itu padaku?" sahut Sekar tak terima tapi tetap berusaha tenang agar emosinya tidak meledak hanya karena ucapan ngawur sang suami.


" Tidak usah pura pura kamu. Aku tau, kamu sedang dekat dengan laki laki itu kan, orang Bandung yang jadi kebanggaan keluargamu."


"Astagfirullah, istighfar kamu Mas. Jangan asal nuduh, jatuhnya fitnah loh."


" Kamu pikir, aku tidak tau kelakuanmu. Pantas kamu jadi membenciku bahkan berani mengusirku, ternyata kamu punya niat untuk menyingkirkan ku demi laki laki itu kan. Murahan sekali kamu jadi perempuan." caci Bima penuh emosi dan membuat Sekar terbakar amarah.


" Cukup! hentikan tuduhan keji mu itu Mas. Aku bukan perempuan Murahan seperti yang kamu tuduhkan, dan satu lagi, jangan bawa bawa orang lain dalam masalah kita. Raihan tidak ada sangkut pautnya."

__ADS_1


" Wah, wah. Sudah hebat kamu ya, bentak bentak suamimu demi membela laki laki selingkuhan mu itu."


" Cukup Mas. Aku makin muak dengan sikapmu ini. Bukannya introspeksi tapi justru kamu semakin tidak tau diri, tadinya aku pikir kamu bisa merenungi sikapmu, tapi kenyataannya justru kamu berlindung dari kesalahan demi mencari kesalahan orang lain yang tidak dilakukannya. Maaf, aku menyerah." Balas Sekar kecewa. Tak terasa air matanya jatuh seiring rasa sakit yang semakin membuatnya yakin untuk berpisah dari laki laki egois seperti Bima.


" Dasar perempuan tidak punya malu, masih bersuami tapi sudah berani menjalin hubungan dengan laki laki lain. Menjijikkan.!" herdik Bima mencemooh, rasa cemburunya sudah membuat akal sehatnya tidak berfungsi. Tanpa disadari sikapnya ini semakin membuat Sekar hilang rasa padanya. Hati wanita mana yang tidak sakit, jika dituduh dengan apa yang tidak dilakukan, apa lagi dengan orang terdekatnya.


Dengan perasaan terluka, Sekar menutup telponnya. Semua ucapan dan tuduhan Bima terekam jelas dalam ingatannya. Sakit sekaligus kecewa kini memenuhi hati Sekar karena sikap suaminya.


" Tega sekali kamu Mas, menuduhku se hina itu. Apakah kamu tidak sedikitpun menyadari kesalahan yang kamu perbuat?. Maaf jika aku memilih berpisah dari pada harus terus menanggung sakit hati karena sikapmu yang tidak bisa berubah." batin Sekar mengiringi setiap tetesan kristal bening yang terus berjatuhan dari kedua matanya yang indah.


Ting! Suara pesan masuk di gawai milik Sekar.


[ perempuan murahan, menjijikkan ]


" Baiklah Mas. Sikapmu ini sudah menghapus rasaku sepenuhnya padamu. Maaf, aku tidak sanggup lagi." bisik Sekar pada hatinya yang teriris. Blokir! dengan hati meradang, Sekar memutuskan untuk memblokir semua akses yang berkaitan dengan Bima. Cukup laki laki itu, menginjak injak harga dirinya dengan segala fitnahan yang di dituduhkannya. Menyakitkan bahkan sudah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sekar.


Suara ponsel Sekar kembali berdering, tapi kali ini Panggilan dari nomer yang tidak dikenal. Sekar ragu untuk mengangkatnya, karena bisa saja itu nomer baru milik Bima yang hanya akan mencari masalah dengan semua tuduhan gilanya. Tidak mau semakin sakit hati, Sekar memilih mengabaikan panggilan hingga ke tiga kalinya.


Ting.


[ Sekar ini saya, Raihan. Ada yang ingin saya bicarakan soal pekerjaan. Tolong angkat telpon ku.] pesan yang dikirim dari nomer yang tidak dikenal barusan yang terus menelponnya.


" Tenyata ini nomer Mas Raihan. Kenapa bisa kebetulan sekali. Ada apa ini ya Rob." batin Sekar meringis. Belum usai dari keterkejutannya, kembali suara telpon berdering dengan nomer yang masih sama. Mau tidak mau Sekar menerima panggilan dari Raihan, apalagi ini menyangkut tentang pekerjaan. Sekar tidak mau kehilangan kesempatan dalam bisnis, karena itu sama saja menolak rejeki yang hadir.

__ADS_1


"Asalamualaikum." sapa Sekar gugup, karena laki laki ini dulu sempat mengisi ruang di hatinya, laki laki yang tidak mungkin sekar gapai. Hanya cinta yang terpendam tanpa bisa terucap, hingga pada akhirnya Sekar menikah dengan Bima, akan tetapi hingga kini Raihan belum juga menikah.


" Waalaikumsallam. Alhamdulillah akhirnya telponku terangkat, apa kabar?" balas suara lembut pria di ujung sana.


" Alhamdulillah, Mas Raihan apa kabar juga?" dengan degup jantung yang tidak lagi bisa dikontrol Sekar menjawab dengan suara lirih.


" Maksud saya menghubungi Sekar ingin bicara soal bisnis, semoga Sekar tidak terganggu."


" Tidak Mas, gimana?"


" Begini, saya ada projects di Kediri dari pemerintah untuk membuat kandang sapi dan butuh lahan yang luas, kira kira sepuluh hektar. Sekar bisa bantu?"


" insya Alloh bisa. Nanti akan Sekar kabari. Mas Raihan mintanya di daerah seperti apa?"


" kalau bisa di pedesaan saja, tapi yang bisa buat jalan keluar masuk truk."


" Baiklah, besok akan Sekar usahakan. Insya Allah."


" Trimakasih ya, selamat istirahat. Maaf sudah mengganggu."


" Insya Allah tidak kok Mas." jawab Sekar Merona meskipun tidak terlihat oleh mata elangnya Raihan.


" yasudah, asalamualaikum, ditunggu kabar selanjutnya ya." sambung Reyhan tersenyum di ujung sana, entah ada apa dengan hatinya, bicara dengan Sekar saja hatinya sudah melonjak kesenangan, ada damai yang tercipta oleh suara lembut wanita yang masih kuat mengisi ruang rindu di hidupnya.

__ADS_1


Terkadang Cinta memang serumit itu.


__ADS_2