Sekar Arumi

Sekar Arumi
Bima tertangkap


__ADS_3

"Iya pak, kita juga sudah melaporkan pada pihak yang berwajib. Tunggu saja, sebentar lagi pasti Bima akan dijemput dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Raihan membalas ucapannya pak RT. Dan membuat Bima juga Bu Patmi langsung kaget dan cemas.


Bima panik, dan berniat melarikan diri tapi dengan sigap bapak bapak yang berdiri tak jauh dari tempatnya langsung menangkapnya, Bima langsung dipegangi dan diringkus, kedua tangannya di tarik kebelakang dan dikunci oleh kedua laki laki paruh baya yang tak lain adalah tetangganya sendiri.


"Mau kemana kamu, Bima?" tekan Akhir dengan sorot mata yang tajam, mendekati Bima dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Biarkan aku pergi, aku tidak Sudi di penjara karena sesuatu yang bukan salahku. Ini semua gara gara Sekar, harusnya kalian berpikir dulu sebelum bertindak. Dasar keluarga munafik!


Sekar yang sudah membuatku melakukan ini, kalau saja dia tidak merendahkan harga diriku dan mau berbagi hartanya, aku tidak akan melakukan hal nekad itu. Salahkan Sekar yang egois itu, bukan aku!"


Teriak Bima tak terima, dan masih bisa menyalahkan orang lain, padahal jelas jelas kesalahan dia sendiri yang membuatnya.


"Terus saja berteriak, sampai tenggorakan kamu kering, itu semakin menunjukan siapa kamu, Bima!


Kalau memang kamu merasa tidak bersalah, harusnya kamu tenang dan hadapi. Bukan malah berniat melarikan diri, apalagi menyalahkan Sekar dalam masalah ini. Sekar tidak punya kewajiban membagi harta yang dia peroleh dari kerja kerasnya padamu!"


Raihan menimpali dengan sikap tenang, meskipun wajahnya terluka tapi kharismanya tidak hilang sedikitpun.


"Diam kamu! Jangan ikut campur, kamu bukan siapa siapa buat Sekar! Jangan berlagak jadi pahlawan untuknya!"


Cih, Bima meludah dan menatap nyalang ke arah Raihan yang justru tersenyum melihat tingkah Bima.

__ADS_1


"Reihan, apa sudah ada informasi dari kepolisian?" sahut Akhir menatap Reihan serius, karena bisa saja Bima akan melawan dan berhasil melarikan diri, Akhir mencemaskan itu.


"Sebentar lagi akan sampai, barusan mereka kasih kabar kalau sudah meluncur, sekarang sudah sampai di Wates." balas Reihan dengan sikap tenangnya, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


Bima dipegangi bapak bapak dan ada yang berjaga di depan pintu masuk, untuk mengantisipasi kalau kalau Bima akan melawan dan kabur, dua orang memegangi Bima, dua orang berjaga di dalam pintu keluar, dan tiga orang berjaga diluar, didepan teras rumahnya Bima. Menunggu hingga polisi datang dan menangkap Bima.


"Kurang ajar kalian! akan aku pastikan kalian akan membayar ini semua, aku tidak terima diperlakukan seperti ini!"


Bima terus berontak dan berteriak, tidak terima dan terus menyangkal kalau dirinya tidak bersalah. Melihat anaknya tak bisa berkutik. Bu Patmi mengambil sapu lantai yang tak jauh dari tempatnya berdiri, dan tanpa takut langsung memukuli satu persatu orang yang memegangi Bima.


Tidak menduga kalau akan dapat serangan dari ibunya Bima, bapak bapak yang memegang Bima menjerit kesakitan karena terkenal pukulan sapu. Dan Bima akhirnya terlepas dari cekalan kedua bapak bapak tetangganya.


Kesempatan itu digunakan Bima sebaik mungkin, di dalam sedang sibuk menghindari amukan Bu Patmi, dan Bima berusaha kabur keluar, dan di kejar Raihan juga bapak bapak yang ada diluar.


Sedangkan Bu Patmi masih terus berusaha memukul orang orang yang ada di dalam rumah dengan membabi buta.


Saat aksi kejar kejaran antara Reihan dan Bima juga warga sekitar. Dari arah depan datang mobil polisi, Seketika Bima langsung panik dan terus berlari kencang, tak perduli semua orang meneriakinya.


Setelah tau tersangkanya kabur, beberapa polisi pun turun dan ikut melakukan pengejaran terhadap Bima. Hingga ada suara letusan pistol terdengar mengudara.


Bima tersungkur dan menahan sakit, karena kakinya terkena tembakan yang dilepaskan salah satu polisi, Bima sudah diperingati untuk berhenti, tapi justru semakin lari dan tak perduli dengan peringatan yang diberikan. Hingga akhirnya tembakan yang mengenai kakinya membuatnya berhenti berlari.

__ADS_1


Mendengar ada tembakan, Bu Patmi langsung berhenti dari mengamuk, dan membuang sapu di tangannya, lari keluar dan mencari keberadaan anak lelakinya.


Matanya menatap kerumunan tak jauh dari rumahnya, dan terlihat Bima tengah di papah oleh kedua pria berseragam polisi.


Bu Patmi langsung histeris melihat kaki anaknya berdarah dan pincang.


"Lepaskan anak saya, dia tidak bersalah. Lepaskan dia!" Bu Patmi berteriak histeris melihat anaknya yang terluka dan akan dibawa ke kantor polisi.


"Lepaskan anakku, lepaskan! Semua ini gara gara perempuan itu, kalau bukan karena Sekar pelit, anakku tidak akan nekad mencuri. Mantan istrinya itu serakah, mengambil semua yang jadi hak anakku. Lepaskan, Bima gak bersalah! Tangkap perempuan itu, tangkap saja Sekar! Ini semua karena perempuan itu!" huhuhuhu Bu Patmi terus meraung, tapi sedikitpun tidak dihiraukan oleh polisi yang membawa Bima, justru Bima langsung di masukan ke dalam mobil


"Maaf Bu! Kami akan membawa anak ibu ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, namun karena saat ini pak Bima sedang sakit, kami akan membawanya kerumah sakit dulu, untuk mendapat perawatan. Setelah itu pak Bima akan langsung mengikuti proses hukum untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya." ucap salah satu polisi yang bertugas dan kembali masuk ke dalam mobil .


Sedangkan Bu Patmi masih shock dengan apa yang terjadi, air matanya terus mengalir. Anak satu satunya yang ia harapkan dan andalkan kini sedang menjalani hukumannya, di tangkap dengan cara yang menyedihkan. Padahal hari ini niatnya akan mengadakan syukuran untuk membuat tetangga percaya kalau Bima sudah dapat pekerjaan yang mapan, tapi karena kedatangan keluarganya Sekar, semua jadi kacau, Bima dipermalukan, ditangkap dengan cara yang sangat memprihatinkan.


Dendam dan kebencian di hati ibu dan anak itu semakin membara pada Sekar dan keluarganya.


#Coretan pesan Author 💓


Beban terbesar dalam hidup, mengontrol keinginan duniawi agar tidak mengubur akidah dan akhlak karimah saat menjalankan aktifitas sehari-hari. Baik aktifitas yang berkaitan dengan ikhtiar, pekerjaan, karir, memiliki fasilitas kehidupan dan lainnya. Sebab tidak sedikit, banyak yang tumbang akidahnya dan kehilangan akhlak karimah nya saat mengejar pernak-pernik duniawi tersebut. Karena ikhtiar dan pekerjaan meninggalkan ibadah, karena meraih karir berlaku zalim terhadap saudara dan orang lain, karena ingin memiliki fasilitas pernak pernik duniawi kehilangan rasa malu, berani menipu, bohong, mencuri dan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan nafsu duniawi nya, yang justru mendorong dalam kesesatan.


Tetaplah belajar al hilm dan al'anah.

__ADS_1


__ADS_2