
kami hanya berbincang sebentar, karena aku meminta untuk pergi mandi lebih dulu, aku juga mengejar waktu agar tidak ketinggalan waktu sholat magrib, meskipun kami orang miskin dan ibukku minim ilmu, akan tetapi ibukku selalu mengajarkan anak anaknya untuk sholat tepat waktu, "di dunia ini, kita tidak punya siapapun yang bisa diandalkan dan punya tempat ternyaman untuk menyandarkan segala kekurangan, kecuali hanya selain pada yang kuasa, hanya DIA satu satunya tempat yang paling tepat untuk kita berlindung,meminta dan mengadu, tempatkanlah DIA menjadi yang utama dalam hidup dan tujuan, insya Alloh segala kesulitan akan selalu menemukan kemudahan dan jalan nya sesuai kehendakNYA, tidak ada yang tidak mungkin bagi Alloh, ingatlah itu selalu nak".
itulah sepenggal nasehat yang selalu membekas di lubuk hatiku dari ibu, meskipun keadaan memaksanya untuk terus berbaku hantam dengan derita dan sengsara, tetapi hatinya tetap luas memuja sang pencipta, luar biasa, itulah kekagumanku akan sosok indah ibukku.
setelah menunaikan sholat magrib, aku terbiasa meneruskan membaca Alquran hingga adzan isya tiba, dan setelah itu menunaikan kewajiban empat rakaat, hingga entah sudah berapa kali aku sudah mengkhatamkan Al-Qur'an, ada rasa damai dan nyaman tatkala jiwa menyatu dan memuji keagunganNYA.
setelah selesai menyelesaikan kewajiban empat rokaatku, aku baru keluar kamar, dan nampak om huda juga mbk Irma sedang menonton tivi diruang tengah, pun dengan Rinni adikku, yang pada nyatanya, dia bahkan tidak mengenali aku adalah kakaknya, karena mereka lebih tepatnya om huda, meminta kami semua merahasiakan jati diri Rini yang sebenarnya, biarlah nanti setelah Rini dewasa baru akan diungkapkan siapa dia yang sebenarnya, untuk saat ini, dia cukup tau om huda dan mbk Irma orang tuanya.
meskipun begitu, ada rasa perih yang sempat mengoyak hati ini, tapi aku berusaha untuk tetap berusaha kuat, mungkin ini yang terbaik untuk masa depannya kelak.
__ADS_1
aku terus berjalan ke arah dapur, niat hati ingin mengisi perut yang sudah sangat lapar, tapi karena merasa enggan, belum ada yang menawari akupun hanya diam dan menahan, karena sadar jika aku tidak boleh bersikap semauku, bagaimanapun disini bukanlah rumahku, aku berjalan lunglai dan menatap tumpukkan piring kotor berserakan, gelas gelas bekas minum, dan beraneka perobatan yang masih berserakan, aku hanya bisa menggeleng dan mulai membersihkan semua dengan perut yang terus meronta minta di isi, minum air putih, iya, hanya itu yang bisa aku lakukan, untuk mengganjal rasa lapar ini.
setelah semua bersih, aku juga mulai mengepel lantai dapur, hingga jam sudah menunjukkan sembilan malam, dan sudah selarut ini, tak ada satupun yang menawari atau sekedar bertanya, aku sudah makan atau belum, "ya tuhan, apakah ini firasat yang kemarin terus membayangi hatiku?".
setelah semua terlihat bersih, aku kembali meminum air putih dua gelas besar, untuk mengganjal perut yang lapar, dan kalaupun mau makan, di meja makan, juga sudah tidak ada sisa masakan lagi, dengan hati dan perut yang perih, aku melangkah kembali masuk ke kamar, berusaha memejamkan mata, agar bisa tertidur dan besok bangun pagi pagi untuk membantu di dapur.
waktu terus beranjak, pukul dua dini hari, tapi mata masih enggan terpejam, memutuskan untuk keluar kamar mengambil wudhu, mungkin dengan bercengkrama denganNYA di sepertiga malam ku, hati dan kegelisahan ini akan hilang dan berganti dengan kekuatan yang lebih besar.
saat aku ingin membuka pintu dapur, aku mendengar ada suara seorang mengobrol, dan ternyata itu mbak Irma, dia duduk di kursi kayu yang ada di dapur, mengetahui kedatanganku, mbak Irma langsung mematikan teleponnya, nampak dia merasa sangat canggung dan gugup, saat mata kami saling beradu pandang, dan aku tau maksud dari sikapnya itu.
__ADS_1
begitulah kalau sesorang ketehauan boroknya, iya, meskipun tak banyak dengar,tapi aku sangat paham arah dan caranya bicara dengan seseorang yang sedang ditelpon, mudah sekali menebak, jika mbak Irma sedang selingkuh dengan pria lain, mengerikan sekaligus menjijikkan, tapi entahlah, aku tak ingin terlalu perduli itu.
saat aku selesai berwudhu, ternyata mbak Irma, masih menungguku, bahkan dia meminta untuk aku mengikutinya ke lantai atas untuk bicara, akupun menurut dan tak ingin banyak tanya.
sesampai dilantai atas, kami masuk ke kamar yang memang kusus untuk disediakan sebagai ruang shalat, aku meminta ijin untuk sholat terlebih dahulu, akan tetapi mbak Irma hanya meminta waktu sebentar untuk bicara, dan akupun mengiyakan.
"apa yang kamu lihat dan dengar barusan, tolong anggap saja kamu tidak tau apa apa, dan aku akan memberimu uang saku tiga ratus ribu setiap bulan, selama kamu disini, anggap saja, sebagai ucapan terimakasih karena kamu tidak bicara apapun tentang apa yang kamu tahu hari ini"
aku tersenyum dan sangat miris memang, seorang yang sudah bersuami tetapi mencintai pria lain, dan bahkan tanpa dosa meminta dan membayar orang lain untuk menutupi dosanya, dari sini, aku sudah bisa menilai, bagaimana watak asli mbak irma yang sebenarnya, dibalik sikap lembut, dan wajah kalemnya, ternyata menyimpan sesuatu yang sangat tak terduga oleh siapapun, itulah manusia, tak cukup, kita menilai sesorang hanya dengan melihat, wajah luarnya saja.
__ADS_1