
"Lebih baik, ibu panggilkan Bima untuk menemui kami, simpan tenaga ibu, tidak perlu marah marah, nanti aja kalau sudah di kantor polisi, silahkan teriak dan marah marah gak ada yang melarang."
Sahut Amir sedikit menggertak. Dan mampu membuat Bu Patmi terdiam dan terlihat gugup.
Dengan gemetar dan langkah tergesa, Bu Patmi menuju ke kamar anak lelakinya yang sedang tertidur pulas.
"Bim! Bima!
Bangun, Bim! itu diluar ada keluarganya Sekar."
Bu Patmi terus menggoyang tubuh Bima dengan gugup, berharap anaknya segera bangun dan mampu mengatasi masalah yang sama sekali tidak pernah Bu Patmi pikirkan.
"Apaan sih, Bu! aku masih ngantuk." sahut Bima dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun, Bim! Kamu dicari keluarganya Sekar, mereka sudah ada diruang tamu, ayo cepat bangun. Ibu gak mau kalau sampai mereka bikin rusuh disini. Mau ditaruh mana muka kita, kalau sampai mereka membongkar kelakuan kamu dan di dengar banyak orang. Duh jangan sampai."
Bu Patmi terus saja berceloteh, sedangkan Bima masih enggan membuka matanya, kesadarannya belum benar benar pulih.
"Sudahlah, Bu. Aku masih ngantuk, mau tidur. ibu jangan berisik!" balas Bima yang kembali memejamkan matanya.
"Kamu mau kita masuk penjara Bim? bangun dan temui mereka, ayo!" Bu Patmi berusaha menyeret Bima agar bangun dari tidurnya, dan usahanya berhasil. Bima bangun dan mengusap wajahnya kasar, kepalanya sedikit pusing karena kaget dibangunkan secara tiba tiba oleh ibunya.
Dengan wajah khas orang bangun tidur, Bima keluar kamar mengikuti ibunya. Dengan santai Bima menemui keluarganya Sekar, bahkan tanpa takut sedikitpun. Karena Bima yakin kalau semua kejahatannya tidak ada bukti sama sekali.
"Ada angin apa nih, orang orang terhormat datang kesini untuk menemuiku?" sapa Bima menyambut tamunya tanpa segan dan etika sama sekali. Sikapnya mencerminkan betapa tidak beradab sekali, padahal di hadapannya adalah kedua lelaki yang usianya diatas Bima jauh.
__ADS_1
Sedangkan Raihan hanya diam membisu dengan tatapan tajam mengarah ke Bima yang bahkan enggan melihatnya sama sekali.
"Wah, terimakasih. Kalau anda mengganggap kami orang terhormat, karena kami memang terhormat, tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, dan tidak melakukan pencurian dirumah orang lain." sahut Akhir tegas penuh intimidasi menatap Bima yang seketika langsung memucat.
"Kenapa? kamu kaget, kenapa kami bisa tau?" sambung om Huda tak kalah tegasnya.
"Maksudnya apa ini?
Apa kalian kesini berniat untuk memfitnah ku? menuduh aku mencuri dirumah kalian, begitu?"
Balas Bima berusaha tetap tenang menyembunyikan kegugupannya agar tidak semakin di curigai.
"Oh iya? Sepertinya kamu lupa, kalau dirumahnya Sekar ada cctv dimana mana yang dipasang secara sembunyi, dan juga di gang jalan kampung juga terpasang cctv . Jadi aksi kejahatan kamu sudah terekam disana, dengan ketiga teman kamu." Sahut Akhir menggertak, padahal di layar cctv tidak menunjukkan wajah Bima sedikitpun.
Bima yang terlanjur cemas, seolah tak lagi bisa berpikir jernih. Wajahnya langsung terlihat pucat dengan peluh yang mulai membasahi wajahnya. Gugup dan cemas yang dirasakan Bima saat ini, pun dengan Bu Patmi yang memilih diam takut kalau kalau ikut bicara akan keceplosan.
"Gak perlu cemas dan nge gas gitu. Santai saja bro. Kan jasa dukun gak bisa dilacak polisi, tapi bisa dilihat dengan mata batin dan setidaknya bisa dikirim kembali pada yang mengirim. Bukan begitu, Mas Bima?" sahut Raihan dengan tenang, dan sengaja memancing emosi Bima.
"Jaga bicara kamu! Emangnya kamu siapa? ikut campur urusan orang." sungut Bima tidak terima.
"Oh iya, belum kenalan ya?
Baiklah, kenalkan saya Raihan, calon suaminya Sekar. Insyaallah bulan depan kita akan menikah." Balas Raihan yang masih memasang wajah tenangnya yang dibalut dengan senyuman tipis.
Mendengar jawaban dari Raihan membuat Bima semakin kesal dan emosi. Karena Sekar benar benar sudah tidak bisa dia miliki.
__ADS_1
"Tidak usah bertele-tele, katakan tujuan kalian kesini, aku tidak punya banyak waktu meladeni orang seperti kalian." Bima menekan suaranya penuh dengan kebencian pada orang orang yang ada dihadapannya, terutama Raihan.
"Baiklah, kita kesini datang menemui kamu untuk memperingati kamu, jangan pernah usik kehidupan Sekar. Jangan kamu pikir kami bodoh, tidak tau apa yang kamu lakukan pada Sekar. Kami tau kalau pencurian itu kamulah yang jadi dalangnya, dan kamu juga sudah mengirimkan Sekar guna guna bukan?
Jangan mengelak, karena kami sudah tau semuanya. Dan satu lagi, kami juga punya buktinya. Jadi jangan berbuat macam macam kalau kamu dan ibumu tidak ingin mendekam dipenjara!" herdik Akhir mengintimidasi laki laki dihadapannya yang terlihat salah tingkah dan langsung gugup.
"Dan soal guna guna, sekali lagi, kamu berani menyakiti Sekar, aku pastikan kamu yang akan menerima balasannya, kamu yang akan terbaring tak berdaya di atas kasur. jadi jangan pernah lagi kamu usik keluargaku. Paham?" Akhir sebenarnya sangat geram dan tak tahan untuk memberi pukulan pada Bima, tapi sekuat tenaga ditahan karena, Huda sedari tadi mencegahnya.
"Wah, wah. Hebat banget keluarga orang kaya ini. Seenaknya sendiri menuduh orang tanpa bukti. Apa buktinya kalau anakku melakukan semua itu? harus jelas bukan hanya cuma mulut saja yang bicara tapi juga harus disertai dengan bukti bukti." sahut Bu Patmi yang sudah tak tahan untuk tidak bicara. Hatinya kesal melihat Bima dipojokkan dan tak bisa melawan.
"Ibu mau bukti? sudah siap menginap dipenjara dengan anaknya tercinta ini Bu?" sahut Huda tegas dengan sorot mata yang tajam.
Bu Patmi langsung gelagapan dengan pertanyaan Huda yang tidak disangkanya akan langsung memojokkan dirinya.
Karena panik dan cemas, Bu Patmi maupun Bima tak lagi bisa berpikir jernih. Padahal Huda, Akhir dan Raihan sekedar menggertak agar mereka mengakui.
"Lebih baik kalian pergi dari rumahku, jangan bikin keributan, kami sedang ada hajatan, Jangan membuat kita malu karena fitnahan kalian ini." balas Bu Patmi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kami gak bikin ribut loh, Bu! Kami datang bertamu baik baik dari awal. Ya cuma Bu Patmi saja yang terlalu takut dan merasa cemas karena kesalahan yang ibu buat sendiri, bukan begitu Bu?" Akhir membalas ucapan Bu Patmi dengan santai. Dan membuat Bu Patmi dan Bima makin terbakar emosi.
"Pergi! Jangan lagi pernah kesini, aku tak Sudi lagi berhubungan dengan kalian. Sok kaya dan gak punya etika!" sungut Bima murka, berharap om om nya Sekar segera pergi dan tak ikut campur masalahnya.
"Santai saja, bro! kita pasti akan pergi tanpa harus anda teriak. Itu sama saja anda menunjukan seperti apa kualitas diri anda, memalukan!" sahut Reihan dengan senyuman miring di bibirnya.
"Kurang ajar."
__ADS_1
Bug! Bug! Bug!