Sekar Arumi

Sekar Arumi
mulai kelihatan sifat aslinya


__ADS_3

setelah kedua keluarga sepakat, akhirnya kami melangsungkan pernikahan dengan cukup meriah.


Bima bukan dari keluarga berada, dari keluarga petani yang sederhana, bahkan sawah yang digarap orang tuanya pun, sawah milik orang lain.


Bima memiliki dua saudara, satu kakak perempuan yang kini tinggal disurabaya dan sudah berkeluarga, namanya mbak ayu, serta satu adik laki laki, namanya beni, masih bujang dan bekerja di luar negri sebagai TKW.


kesan pertama yang aku dapat dari mereka adalah ramah dan baik, bahkan ibunya Bima begitu menyayangiku, setiap hari selalu berkabar dan cerita lewat telepon, akan banyak hal yang akan beliau ceritakan bahkan kadang sering diulang ulang dengan cerita yang itu itu saja, bosan dan te besit rasa tak nyaman, tapi aku berusaha untuk memakluminya, mungkin kebanyakan orang tua pasti akan begitu, jadi aku anggap itu hal yang wajar.


setelah menikah, kami memutuskan untuk tinggal dirumah ibuku, ya meskipun sebenarnya aku bisa saja membeli rumah baru dengan uang tabungan yang aku punya, tapi aku teringat dengan ucapan mas akhir dan om huda, untuk tidak jujur dengan harta yang aku punya untuk sementara, bukannya apa, hanya saja kami memang belum mengenal watak dan sikap satu sama lain dengan baik, jadi om huda dan mas akhir memintaku untuk menyembunyikan yang aku punya.


awal awal menikah, mas Bima nampak bersikap sangat ramah pada ibu dan adikku, terlihat sopan dan begitu menghormati ibu, tapi semua berubah saat mas Bima mulai mengusik hasil uang kerja kerasku, dia mulai ingin mengatur bahkan terkesan ingin menguasai gajiku.


pernikahan yang baru memasuki usia empat bulan, tapi sudah dihadapkan dengan berbagai masalah dan semua masalah yang tercipta semua hanya masalah uang.


mas Bima pulang seminggu sekali, dia disurabaya, karena memang pekerjaannya disana, dan aku tetap di Kediri dan kadang sekali kali ke Surabaya saat akhir pekan, aku berusaha memaklumi keadaannya.


selama empat bulan menikah dengannya, aku hanya sekali diberi uang nafkah, itupun jumlahnya tak seberapa, lima ratus ribu rupiah, mas Bima bilang, gajinya habis untuk membayar angsuran montor dan menafkahi ibunya, serta membayar sewa kos di Surabaya.


gaji mas Bima kurang lebih empat juta, dikasih ke ibunya dua juta, buat angsuran montornya lima ratus tujuh puluh, dan bayar sewa kos lima ratus, sisanya dia simpan untuk bensin dan makan, bahkan dia sering meminjam uang dariku, tapi tidak pernah dikembalikan, dan lagi lagi lagi aku berusaha mengerti dan menerima, toh gajiku lebih dari cukup dan aku tidak kekurangan apa pun.


tapi lama lama aku mulai tidak nyaman dengan sikapnya yang seolah ingin mengatur dan menguasai gajiku.


"Sekar, apa tidak lebih baik ATM gajimu, aku yang pegang, aku suamimu, dan aku yang berhak mengatur kebutuhan rumah tangga, biar kamu tidak kebablasan kalau belanja, dan tidak seenaknya ngasih uang untuk ibumu, dia kan sudah punya penghasilan dari tokonya" mas bima berucap seolah ucapannya benar dan tidak menyakiti hatiku.


"apa maksudmu mas?


kenapa kamu bicara seperti itu terhadap ibuku?"


aku berusaha untuk tetap tenang, agar emosi ini tidak meledak.


"masak kamu nggak paham dengan yang aku bicarakan, kamu ini sarjana loh, bahkan kamu sangat cerdas kan, masak harus dijelaskan lagi" mas Bima bicara tanpa rasa bersalah bahkan nampak acuh dan berhak mengatur uangku, emang siapa dia, meskipun kini dia suamiku, tapi tidak ada hak ikut campur mengatur uangku.


"maaf mas, sepertinya aku tidak setuju, kamu mengatur uangku, aku sudah menerima dengan iklas, kamu tidak menafkahiku, tapi tolong jangan usik yang hasil keringatku, biarkan itu menjadi urusanku, bukankah aku sudah berusaha untuk mencukupi kebutuhan kita?"


"jangan suka membantah ucapan suami kamu Sekar, kamu istriku, uangmu uangku juga, aku berhak mengaturnya" mas Bima mulai bicara dengan nada tinggi.


aku hanya diam mematung, rasanya emosi di hatiku serasa mau meledak, kalau saja aku tidak ingat dosa, mungkin sudah kulempar asbak mulutnya yang ngaco itu.


"sudahlah mas, aku tidak ingin melanjutkan perdebatan ini, aku tetap dengan keputusanku, biarkan uangku menjadi urusanku"


kulangkahkan kaki keluar dari kamar dengan dada bergemuruh, ternyata apa yang menjadi firasat om huda dan mas akhir terbukti, mas Bima tak sebaik yang aku kira, di otaknya hanya uang dan uang, padahal dompetnya tak pernah ada isinya, huh enak saja mau membodohi ku.

__ADS_1


kusenderkan tubuh dikursi ruang tamu, nampak ibu mengintip dari balik pintu kamarnya, mungkin ibu mendengar pertengkaranku dengan mas Bima yang bukan untuk pertama kalinya, terlihat matanya merah dengan raut wajah murung, oh ibu maafkan anakmu yang justru membuatmu tidak nyaman dengan pernikahan ini.


ibu kembali menutup pintu kamarnya, dan tak lama setelah itu ibu keluar menghampiriku di kursi ruang tamu, tangan keriputnya mengelus pundakku lembut lalu menggenggam erat jemari ini dengan penuh cinta.


"Sekar, maafkan ibu, ibu tidak sengaja mendengar kalian, kalau masalahnya uang, terima ini nak, ibu punya simpanan, kamu pakai saja"


ibu menyodorkan kantong kresek yang isinya gepokkan uang yang cukup tebal, aku mendesah resah, malu campur sedih, ibukku harus melihat ini.


"Bu, bukan ini masalahnya, uang Sekar masih sangat cukup untuk kebutuhan kami, tapi hanya saja Sekar tidak suka dengan caranya mas Bima yang mau menguasai hasil kerja keras nya Sekar, ibu simpan saja uang ibu, bukankah ibu ingin naik haji? gunakan uang ini Bu, insya Alloh nanti akan Sekar tambah lagi" aku sodorkan lagi kresek hitam yang berisikan uang kepada ibu, aku tidak ingin ibu menggunakan uang yang ia tabung selama ini, hanya untuk ke egoisan mas Bima, bahkan dengan gamblangnya mas Bima sudah berani membicarakan tentang ibuku, jujur aku tidak suka itu.


"wah wah" prok prok mas Bima keluar kamar sambil bertepuk tangan dan menatap sinis kearahku dengan ibu, apa maksudnya lelaki ini.


"ternyata kamu lebih memilih uangmu habis untuk keluargamu dari pada untuk dibawa suamimu, hebat kamu Sekar, istri tidak tau adab".


mas Bima bicara seolah dia benar, dasar lelaki tak punya etika.


"apa yang kamu bilang mas?, jangan lancang kamu, ibuku punya uang sendiri, dan tidak menjadi beban anaknya, ibu tidak pernah menggantungkan dirinya pada kami anaknya, ibuku selalu bekerja keras bahkan bisa mengumpulkan uang untuk memperbesar usahanya, jadi jangan sekali kali kamu bicara seolah ibu menghabiskan uangku, dan satu hak lagi, jika aku memberi uang pada ibuku, itu adalah kewajibanku dan keinginanku sendiri, karena bagiku, ibu adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku"


aku sudah tidak tahan lagi untuk tidak membalas ucapannya yang ngawur itu, biar saja dia tersinggung, toh apa yang aku ucapkan semuanya nyata dan fakta yang sebenarnya.


"kamu sedang menghina ibuku Sekar? kurang ajar kamu"


mas Bima melayangkan tangannya untuk menamparku tapi ibu melerainya.


dengan secepat kilat mas Huda menyambar uang ibu dan membawanya masuk kamar.


"kembalikan uang ibuku, itu bukan hakmu"


"bukankah ibu sudah menyerahkan uang ini sama kamu, jadi uang ini akan aku simpan"


mas Bima ingin memasukkan uang itu ke dalam tas ranselnya, tapi dengan secepat kilat aku menyambarnya, enak saja dia mau mengambil uang ibuku yang sudah dengan susah payah beliau kumpulkan, dasar laki laki tak tau malu.


"apa apa an kamu Sekar, kembalikan uang itu, biar aku gunakan untuk membeli sapi dan kambing untuk dirawat ibuku, bukankah nanti kalau sapi dan kambingnya beranak, akan ada keuntungan".


"tidak mas, ini uang ibuku, kalau kamu mau membelikan hewan ternak untuk ibumu, gunakan uangmu sendiri, bukan uang ibuku"


aku keluar kamar dan menyusul ibu dikamarnya, tapi ibu menguncinya dari dalam, lebih baik aku taruh uang ini dikamar Rina biar lebih aman, biar besok aku daftarkan ibu ke bank untuk membuka rekening, agar uang ibu aman, karena aku yakin, mas Bima orangnya nekat dan ngawur, bisa saja ia mengambil dengan paksa uang ini dari ibu.


kulangkahkan kaki kelantai atas, menuju kamarnya Rina, dan ternyata Rina juga sepertinya mendengar pertengkaranku dengan mas Bima, dia duduk di kasur busa depan televisi diruang santai lantai atas dengan wajah muram.


"mbak, mbak ngga papakan?"

__ADS_1


Rina langsung bertanya saat melihatku menghampirinya.


" nggak papa, mbak baik baik saja, owh iya, ini uang simpanan ibu, kamu simpan ditempat yang aman, jangan sampai mas Bima tau dan mengambilnya, ternyata lelaki itu sungguh memalukan, tidak tau malu dan bersikap seenaknya, mbak menyesal karena tidak mendengarkan nasehat dari mas akhir dan om huda waktu itu".


Rina memelukku dan tangannya mengelus pundakku berulang, seolah memberi kekuatan agar aku tidak merasa sendiri.


"sudahlah mbak, tak perlu mbak menangisi keadaan yang terlanjur terjadi, justru dengan semua ini, kita jadi tau seperti apa mas Bima dan keluarganya, mbak yang sabar ya, dan tetap hati hati, karena orang seperti itu akan nekad melakukan apa yang dia mau"


"iya, mbak juga sudah menyembunyikan aset mbak ditempat yang aman, karena mbak ingat dengan nasehat mas akhir waktu itu, dan ternyata sekarang semua terlihat sikap nya yang s sungguhnya"


"yasudah kamu simpan uang ini, besok mbak mau bukakan ibu rekening untuk menyimpan uangnya, dan nanti kamu yang simpan ATM dan buku tabungannya, sembunyikan ditempat aman ya"


" mbak tenang saja, aku punya tempat aman yang bahkan mbak sendiri tidak tau"


"owh iya, hemmm curang ya"


dan kamipun tertawa, sedikit mengobati rasa kesalku dengan mas Bima.


" sudah mbak turun sana, nggak baik ninggalin suami dalam keadaan marah, selesaikan dan bicarakan baik baik, barangkali mas Bima tadi hanya khilaf".


"aaah entahlah Rin, mbak capek, mbak mau tidur disini saja"


"mbaak, dosa Lo, nggak baik, sana turun"


aku menatap adikku yang mulai bisa bersikap dewasa dengan segala kelembutannya, semoga saja, dia dipertemukan dengan laki laki baik yang tulus mencintainya.


"kenapa mbak melihatku seperti itu?" tanya Rina menyelidik sambil mengerutkan keningnya heran.


"nggak, mbak cuma bangga saja, adik mbak udah dewasa dan bijak lagi"


Rina tersenyum malu malu.


"yasudah mbak turun dulu ya, kamu jangan lupa cepet simpan uangnya ditempat yang aman, dan kunci pintu masuk dari dalam"


"oke mbakku sayang, siap laksanakan"


kami pun tertawa dan lantas aku kembali melangkahkan kaki untuk turun kebawah.


saat sampai dilantai bawah, kulihat mas Bima sedang duduk sambil menenteng tas ranselnya, aah mau kemana dia, bukankah baru tadi siang dia sampai, ngerajuk kayak perempuan saja, dasar lebay.


aku berusaha tak menghiraukan keberadaannya, jujur hatiku masih kesal dengan sikapnya, kulangkahkan kaki masuk kedalam kamarku, dan mas Bima mengikutiku dari belakang.

__ADS_1


"Sekar, aku pinjam uangmu lima ratus ribu saja, buat ongkos kerumah ibuku, dan kasih aku uang satu juta buat pegangan ibu" ucap mas Bima enteng.


"apa mas?, coba ulangi kamu tadi bicara apa?"


__ADS_2