
Setelah kepergian Bima dan ibunya, suasana mendadak hening. Ibu yang sedari tadi diam menyaksikan debat panas antara aku dan Bima, nampak memijat pelipisnya. Ada kecewa dan kesedihan di wajah teduhnya, maafkan aku ibu, karena kebodohan ku, engkau pun ikut merasakan akibatnya. Sedangkan Mas Raihan sudah duduk di sofa single dengan tatapan yang entah, aku tidak dapat mengartikannya. "Apakah mantan suamimu sering kesini, Sekar?" Suara bariton milik mas Raihan memecah keheningan, tatapannya yang setajam elang membuatku tak kuasa menatap balik sorot matanya itu.
"Baru tadi, dia menghilang dari enam bulan yang lalu. Sejak ketahuan mengambil perhiasan ibu dan uang hasil toko." Aku menjelaskan tanpa ada yang ditutupi, biarlah mas Raihan tau semuanya, dari pada nanti ada salah paham.
"Ya Tuhan." terlihat Mas Raihan mengusap wajahnya kasar serta berkali mengucap istighfar.
"Lalu, apa kamu sudah melaporkan perbuatannya itu?" tanya mas Raihan dengan tatapan menyelidik.
"Tidak Mas. Waktu itu, mereka langsung kabur ke Surabaya. Dan aku memutuskan untuk membiarkannya, karena aku pikir tanpa adanya Bima akan memperlancar proses perceraian."
"Apakah Bima sudah tau kalau kamu sudah menggugatnya?"
"Sudah. Tadi akte cerai miliknya sudah aku berikan dan ya itu, dia tidak terima, karena merasa di campakkan begitu saja. Bahkan dia mau menuntut harta Gono gini." terlihat alis mas Raihan bertaut, seolah meminta penjelasan dari apa yang aku ucapkan barusan.
"Iya. Mas Bima ingin pembagian harta Gono gini, tapi tentu tidak aku kabulkan. Dia tidak punya hak apa apa dari hartaku. Saat menikah dia hanya modal badan saja, bahkan hampir satu tahun pernikahan, Bima juga tidak memberiku nafkah, justru dia yang sering meminta uang dengan dalih berhutang." Berulang kali mas Raihan mengucap istighfar mendengar ceritaku, mungkin hanya laki laki seperti Bima yang bisa melakukan itu, tidak tau malu juga tidak tau cara menghargai. Sungguh aku saja malu saat menceritakan itu semua.
"Bagaimana kalau dia nekat dan tetap ngeyel meminta harta Gono gini? Apa kamu sudah siap melawan dia yang sepertinya sangat berambisi untuk mendapatkan bagian dari hartamu."
"Itu tidak akan pernah bisa terjadi Mas. Rumah dan toko ini sertifikat nya masih atas nama ibu semua, dan butik itu, aku beli setelah ketuk palu. Jadi tidak ada yang bisa digugatnya, kalau dia tetap ngeyel, ya biarkan saja. Biar dia repot sendiri."
"Tapi orang seperti Bima tidak akan berhenti dan menyerah begitu saja sebelum mendapatkan apa yang dia mau, kamu harus hati-hati."
__ADS_1
"Insya Alloh Mas, semoga Alloh selalu melindungi kami semua."
"Bagaimana kalau kita bayar satpam untuk jaga dirumah nduk, kok ibu ngeri melihat sikap Bima yang tadi marah marah." setelah hanya diam, ibu baru membuka suara mengatakan kecemasannya terhadap perangai mantan mantunya itu.
"Aku setuju usul ibu, di rumah ini, semuanya perempuan, harus ada yang melindungi. Sebelum aku halal menjadi suami kamu. Lebih baik mencari orang untuk menjaga keamanan kalian, karena tidak menutup kemungkinan kalau Bima akan berbuat nekad. Besok aku akan cari tukang buat renovasi depan, kita pasang pagar dan lebih merapatkan toko, juga bikin pos satpam antara toko dan rumah. Aku akan cari dua orang untuk menjaga keamanan dirumah ini. Biar semuanya aku yang mengurusnya." jelas mas Raihan panjang lebar, gurat kecemasan terlihat jelas dari bagaimana dia menatap antara aku dan ibu.
"Iya Mas, aku ngikut saja dan menyerahkan semuanya sama kamu. Terimakasih ya."
"Ini sudah jadi kewajiban ku menjaga kalian, Ibu minta doa restunya, insya Allah bulan depan, saya akan melamar anak ibu sekaligus menghalalkannya. Karena tidak baik menunda nunda niat baik, bukan begitu Bu?"
"Iya nak, ibu akan merestui kalian, jaga Sekar dengan baik, karena dia butuh laki laki yang bisa mengayomi dan membimbingnya ke jalan yang lebih baik, biarlah masa lalunya dengan mantan suaminya dijadikan pelajaran jika hidup berumah tangga tidak cukup dengan modal cinta dan nampak baik di luar. Ibu harap, nak Raihan bisa menjadi suami yang baik buat anak ibu nantinya." balas ibu dengan sorot mata berkaca kaca, terlihat sekali ibu sangat kecewa denganku yang sudah pernah memilih mas Bima sebagai suami. Maafkan aku ibu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Bima marah marah tak terima atas penghinaan dari mantan istrinya, bahkan kehadiran Raihan yang menurut Bima adalah selingkuhannya Sekar semakin membuatnya tersulut dendam.
"Aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja, lihat saja, apa yang bisa seorang Bima lakukan untuk menghancurkan hidup mereka." Bima menyeringai jahat, terlintas pikiran untuk membalas semua perlakuan Sekar hari ini padanya. Bahkan Bima berniat untuk membuat Sekar sakit tanpa bisa tersentuh oleh obat medis.
"Bim, kenapa kamu pergi begitu saja dari rumahnya Sekar. Kita belum dapat apa apa dirumah itu." Bu Patmi kesal dengan sikap anaknya yang dianggapnya tidak tegas dan terkesan tidak mau mempertahankan haknya.
"Ibu tenang saja, Bima sudah ada rencana lain untuk membuat mereka menyesal karena sudah merendahkan kita hari ini."
__ADS_1
"Rencana apa? kasih tau ibu."
"Malam ini, Bima akan pergi kerumahnya Sekar tapi untuk masuk ke tokonya, Bima akan menguras habis isi toko itu."
"Jangan gila kamu Bim. Sama apa kamu membawa barang barang itu, bisa bisa kamu ketahuan duluan, bonyok di hajar masa. Tidak dapat apa apa malah masuk penjara."
"Ibu tenang saja, bukan Bima yang akan melakukannya tapi orang yang sudah ahli di bidang itu. Bima hanya sekedar memantau dan menikmati hasilnya. Setelah itu pasti mereka akan kelabakan karena rugi banyak. Dan Bima juga akan membuat Sekar muntah darah, dari mulutnya itulah dia sudah merendahkan harga diriku."
"Maksudmu apa Bim? kok ibu gak ngerti."
"Besok, Bima akan pergi ke tempatnya Mbah Parto untuk memintanya memberi pelajaran pada Sekar."
"Wah, ibu setuju banget dengan caramu membalas kesombongan perempuan itu, biar tau rasa dan menyesal karena sudah berani berurusan dengan kita. Baik ibu akan menunggu kabar gembiranya saja."
" Tapi untuk melancarkan rencana itu, Bima butuh modal banyak Bu. Bima pinjam perhiasan ibu dulu untuk dijual, nanti setelah pencurian itu berhasil, Bima akan kasihkan ke ibu semua. Hasilnya lebih banyak dari harga perhiasan ibu."
"Tapi beneran ya, kamu akan ganti dengan yang lebih banyak dari ini. Awas saja kalau tidak kembali. Ibu akan hajar kamu."
"Iya, ibu tenang saja. Pasti Bima ganti kok."
#entah apa yang ada di pikiran ibu dan anak itu, suka sekali membuat ulah, nyata nyata mereka yang salah tapi tidak pernah mau menyadari kesalahannya, apakah rencana yang mereka susun untuk menghancurkan Sekar akan berhasil? ikuti saja cerita ini di bab bab selanjutnya. Semoga saja Bima dan ibunya cepat sadar, jika semua perbuatan akan menerima balasan sesuai dengan apa yang di perbuat.
__ADS_1