Sekar Arumi

Sekar Arumi
terbongkarnya aib


__ADS_3

"Pergi! Jangan lagi pernah kesini, aku tak Sudi lagi berhubungan dengan kalian. Sok kaya dan gak punya etika!" sungut Bima murka, berharap om om nya Sekar segera pergi dan tak ikut campur masalahnya.


"Santai saja, bro! kita pasti akan pergi tanpa harus anda teriak. Itu sama saja anda menunjukan seperti apa kualitas diri anda, memalukan!" sahut Reihan dengan senyuman miring di bibirnya.


"Kurang ajar."


Bug! Bug! Bug.


Tanpa berpikir panjang, Bima melayangkan pukulan ke wajah Raihan. Karena tidak menduga kalau akan diserang, Raihan tidak sempat mengelak, dan wajahnya terkena pukulan sebanyak tiga kali, membuat nya memar dan bibirnya mengeluarkan darah.


Melihat kelakuan Bima yang keterlaluan, Akhir yang sejak tadi sudah tidak tahan untuk tidak memberinya pelajaran, akhirnya lepas juga kesabarannya.


Dengan gagah Akhir mencengkram kaos Bima, memukulnya dan menendang tubuh Bima hingga Bima tersungkur. Bu Patmi menjerit histeris melihat anaknya dipukuli. Dan mengundang warga berdatangan untuk melihatnya. Ibu ibu yang sedang rewang di dapur pun pada berhamburan keluar.


"Ada apa ini?"


Pak RT datang dengan beberapa warga lainnya, karena ada yang datang melapor kalau sedang ada keributan di rumahnya Bu Patmi.


Akhir menghentikan aksinya, sedang Bima tersungkur menahan sakit di tubuhnya.


"Mereka yang bikin ribut pak RT, datang datang main pukul anak saya." Sahut Bu Patmi mencari perlindungan dengan melontarkan kebohongannya.


"Maaf, boleh saya tau, kenapa bisa terjadi keributan seperti ini. Saya lihat kalian orang baik baik dan sepertinya bukan orang sembarangan, pasti ada penyebabnya bisa seperti ini." Sahut pak RT bijak dan tidak mendengarkan perkataan. Bu Patmi, karena pak RT dan warga sudah sangat hafal sifat perempuan itu, culas dan pembohong.

__ADS_1


"Baiklah saya akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Agar tidak terjadi salah paham disini.


Kami keluarga dari Sekar, Saya om nya, dan ini kakak saya, dan itu calon suami Sekar keponakan saya. Sekar adalah mantan istrinya Bima. Mereka sudah bercerai dari enam bulan yang lalu. Sejak Bima kabur bersama ibunya ke Surabaya setelah mencuri uang dan perhiasan milik ibunya Sekar." Akhir dengan tegas dan gamblang membeberkan semua kebusukan Bima dan ibunya. orang orang yang bergerombol saling berbisik, ada yang langsung memaki dan ada yang menatap Bu Patmi dan Bima sinis.


"Dan kenapa kami kesini, Karena kami sudah geram dengan kelakuan laki laki ini. Bima sudah berbuat melebihi batas, dia merencanakan pencurian di toko milik Sekar dan bahkan mengirimkan guna guna pada keponakan saya itu, tapi untungnya, Sekar masih dilindungi Gusti Alloh, Hingga guna guna yang dikirim laki laki ini lewat dukun nya tidak berpengaruh sama sekali pada keponakan saya, meskipun Sekar sempat merasakan kesakitan tapi itu hanya sebentar.


Saya berniat bicara baik baik untuk memberi Bima peringatan, tapi justru dia tidak ada niat baik dan mengakui kesalahannya. Malah dengan kelakuan preman nya itu memukuli calon suaminya Sekar, saya geram dan tidak bisa hanya diam saja dengan ulahnya itu, makanya saya memberinya pelajaran.


Itulah yang sebenarnya terjadi, tanpa saya mengurangi ataupun menambahi." Akhir bicara dengan tenang dan dibenarkan oleh Huda juga Reihan.


Sedangkan pak RT dan warga terdengar saling beristigfar dan banyak yang langsung percaya dengan apa yang dituturkan Akhir, karena Bu Patmi maupun Bima terkenal orang yang sombong dan tak mau dipandang rendah.


"Owalah ternyata uang hasil maling toh? gitu kok bangga!"


"ternyata cuma pencuri, katanya dapat pekerjaan yang bergaji besar, eeh gak taunya pekerjaan mencuri. Ih memalukan."


Suara suara cemoohan saling bersahutan dan membuat Bima juga Bu Patmi malu dan sekaligus geram dengan kelakuan Akhir yang membongkar aibnya. Bahkan ibu ibu yang tadi berniat membantu masak di dapur pada memilih kembali kerumah masing masing, tidak ada yang mau meneruskan, karena mereka berpikir, uang yang digunakan untuk hajatan adalah uang haram hasil mencuri.


Pak RT membubarkan kerumunan warga, dan hanya menyisakan Pak RT dan beberapa bapak bapak untuk menyelesaikan masalah antara buka dan keluarganya Sekar.


Bima di papah untuk duduk diatas kursi dan disampingnya ada Bu Patmi.


Sedangkan Raihan, Akhir dan Huda duduk di satu kursi panjang. Sedangkan pak RT duduk di kursi kosong dekat dengan Bima, yang lain memilih berdiri tak jauh dari pak RT duduk.

__ADS_1


"Apa benar begitu Mas Bima? Apa yang Pak Akhir bilang semuanya benar?" tanya pak RT mengawali obrolan, yang sebelumnya sudah berkenalan dengan Raihan, Akhir dan Huda.


"Bima bergeming dengan tatapan penuh kebencian pada ketiga lelaki dihadapannya yang justru bersikap tenang.


"Mas Bima! kok diam?" ulang pak RT kembali mengorek jawaban dari Bima.


"Tidak, saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan! Kalau mereka bisa menuduh harusnya mereka juga punya buktinya. Tapi mana buktinya?


kalau cuma bicara saja semua pasti bisa." sahut Bima kesal dengan suara bergetar, dadanya naik turun penuh dengan emosi.


"Apa yang dikatakan Mas Bima benar, semua harus berdasarkan bukti. Apakah bapak bapak punya bukti?" pak RT kembali menengahi.


Dan disambut senyuman ramah oleh Raihan, dengan tanpa ragu, Rihana mengeluarkan ponselnya dan membuka Vidio rekaman cctv dirumah Sekar, menunjukkan aksi pencurian Bima yang mengambil uang di atas kulkas dan perhiasan di kamar ibunya sekar, lalu ditunjukkan pada pak RT dan beberapa warga yang ikut hadir.


Pak RT dan bapak bapak yang lain geleng geleng melihat kebenaran akan kelakuan Bima.


Dan Raihan juga menunjukan Vidio tentang ancaman Bima waktu datang bertamu dirumahnya Sekar bersama ibunya. Pun dengan Vidio hasil rekaman cctv yang ada di komplek Sekar pas pencurian di tokonya yang sudah dikembangkan oleh kepolisian.


"Wah parah ini, ternyata kelakuannya seperti itu, Memalukan." sahut bapak bapak yang berdiri dibelakang pak RT berkomentar.


"Iya, harus dilaporkan kalau begitu, biar dihukum dan kapok. Bahaya kalau dibiarkan bebas, bisa bisa semakin buat resah warga lainnya." bapak bapak yang satunya ikut berkomentar.


"Kita serahkan saja sama pak Akhir dan keluarganya mau gimana. Karena ini sudah masuk tindak kriminal, bahaya kalau dibiarkan. Karena bisa membuat warga disini resah, takutnya dia juga akan melakukan kejahatan di kampung sini." pak RT menimpali dan menatap serius pada akhir dan Huda bergantian.

__ADS_1


"Iya pak, kita juga sudah melaporkan pada pihak yang berwajib. Tunggu saja, sebentar lagi pasti Bima akan dijemput dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Raihan membalas ucapannya pak RT. Dan membuat Bima juga Bu Patmi langsung kaget dan cemas.


Bima panik, dan berniat melarikan diri tapi dengan sigap bapak bapak yang berdiri tak jauh dari tempatnya langsung menangkapnya.


__ADS_2