
" Besok pagi pagi kita kerumahnya Sekar, Bim. Biar ibu yang bicara sama dia. Kita harus bersikap baik untuk kembali menarik simpatinya. Gimana lagi, kita masih membutuhkannya untuk jadi mesin ATM, ibu gak Sudi miskin lagi." sungut Bu Patmi dan di balas anggukan oleh Bima.
" yasudah kamu tidur, besok habis subuh kita berangkat, sebelum Sekar pergi kerja kita harus lebih dulu sampai sana. Ibu mau minta uang buat bayar arisan." lanjut Bu Imah semangat, dipikirannya hanya uang dan bisa memenuhi gayanya yang wah, tidak lagi di perdulikan rasa malu bahkan seolah harga dirinya pun sudah tidak ada.
Pagi pagi sekali Sekar sudah bersiap, hari ini dia akan pergi ke kantornya dan menyelesaikan tugas secepatnya, agar siangnya bisa ijin meninggalkan kantor untuk cek lokasi dengan Tante Ririn. Hatinya berbunga, bayangan hasil yang akan di dapat sudah membuatnya berpikir untuk membeli tanah lagi, Sekar ingin berhenti bekerja dan fokus dengan usahanya sendiri, Sekar sangat ingin punya toko baju. Sangking semangatnya Sekar sampai lupa jika pernikahannya sedang ada di ujung tanduk. Entahlah, hati Sekar seolah tidak perduli dengan apa yang menimpa dirinya dengan Bima. Niatnya untuk berpisah sudah sangat kuat.
"Wah, ibu lagi bikin apa? baunya harum banget ini." sapa Sekar saat kakinya sudah menginjak ke dapur, disana terlihat ibunya sedang memasak dan dibantu oleh Rina adiknya.
" Bikin nasi goreng mbak, sama bikin Cha kangkung juga telor balado kesukaan mbak Sekar." sahut Rina mewakili ibunya yang sedang fokus mengaduk nasi goreng di wajan.
" kok banyak banget masaknya, bingung tau makannya, apa lagi yang masak itu ibu, duh pasti enak enak." balas Sekar sambil mendaratkan bokongnya di kursi.
" kan nanti satunya buat bawa bekal mbak." balas Rina yang masih mengaduk gula dalam teh yang di seduhnya di cangkir.
" Tau gak sih, aku itu beruntung banget. Punya ibu dan adik yang super baik, selalu sayang sama aku, selalu perduli sama aku. Trimakasih Bu, makasih Rina, aku sangat menyayangi kalian.'" balas Sekar haru, baginya Rina dan Bu Fatimah adalah segalanya. Cinta yang diberikan oleh keduanya begitu tulus padanya.
" Kami juga menyayangi mu nduk, kita harus saling menyayangi dan perduli." sahut Bu Fatimah, sambil menuangkan nasi goreng ke dalam wadah mangkok besar di atas meja makan.
" Duh kelihatannya enak banget, yuk kita mulai sarapannya." Sekar sudah tidak bisa menahan untuk mencicipi masakan ibunya yang menurutnya mempunyai rasa yang khas, tidak ada duanya.
" mbak, nanti mau bawa bekal apa? biar sekalian Rina siapin."
" kita sarapan bareng aja dulu Rin, nanti biar mbak yang siapin bekalnya, mbak mau bawa Cha kangkung sama telor balado dan juga nasi gorengnya nanti mba juga mau bawa, buat di kasih ke Santi, dia suka banget sama nasi goreng buatan ibu." sahut Sekar.
__ADS_1
Saat sedang menikmati sarapan, terdengar suara pintu di ketuk dengan sangat keras.
" siapa pagi pagi begini yang bertamu?" Bu Fatimah bertanya heran, dan dibalas gelengan oleh kedua anak perempuannya.
" Biar Rina saja yang lihat, ibu sama mbak Sekar lanjutin sarapannya." Rina meninggalkan meja makan untuk melihat siapa yang datang.
Saat membuka pintu, Rina langsung dikejutkan dengan dua orang yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah tanpa berdosanya.
Tanpa mengucap salam dan permisi terlebih dulu, Bu Patmi dan Bima langsung masuk. Seolah ini rumahnya sendiri. Bahkan belum di persilahkan mereka langsung berjalan menuju ke arah dapur, langsung ikut duduk serta ikut mengambil makanan tanpa malu sedikitpun. Rina yang sadar dari keterkejutannya barlari menyusul dua orang tamu yang tak diundang itu, alangkah terkejutnya saat dengan santainya Bima dan ibunya makan dengan lahap tanpa permisi lebih dulu, membuat Sekar juga Bu Fatimah melongo dan saling lirik.
" Maaf ya jeng, tadi pas berangkat kesini masih pagi banget, jadi gak sempat masak. Sekarang lapar dan kebetulan di sini sudah ada makanan. Ya ampun jeng Fatimah kok tau sih kalau akan ada tamu dari jauh, makanya masak banyak gini. Enak loh jeng masakannya, sumpah deh, sampai saya mau nambah lagi. Iyakan Bim?." tanpa rasa malu Bu Patmi terus saja bicara dan di iyakan sama Bima. Memang keluarga ajaib, ibu dan anak sama saja. Sama sama tidak punya malu.
Sekar muak dan menahan emosinya, teringat bagaimana semalam Bima sudah merendahkannya, dan sekarang datang dengan tidak tau malunya seolah bersikap kalau ini rumahnya. Untuk menjaga lisannya agar tidak keceplosan, Sekar memilih untuk meninggalkan meja makan, bersiap untuk pergi ke kantor. Dan tak lupa juga menyiapkan berkas berkas yang akan di bawa ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerainya sebelum berangkat ke pare dengan tantenya.
" Sekar tunggu, Mas mau bicara." kejar Bima tergopoh dan bahkan tidak direspon sama sekali oleh Sekar yang terus melangkah.
" Ada apa Mas? Apa lagi yang perlu dibicarakan?" balas Sekar dingin dengan tatapan tajam ke arah Bima yang langsung salah tingkah.
" Maafkan Mas, Mas cemburu sampai menuduhmu yang tidak tidak, maafkan Mas ya." sambung Bima santai, seolah apa yang dikatakan semalam pada Sekar, hal yang biasa saja. Tanpa dia tau, Sekar sangat terluka dan terhina oleh semua kata kata kasarnya.
" Sudahlah Mas, semua sudah berlalu. Dan aku akan tetap pada keputusanku. Kita berpisah." ucap Sekar tegas dan itu membuat Bima langsung shock seketika.
" Sekar, beri Mas kesempatan sekali lagi, tolong maafin mas." rayu Bima mengiba.
"Owalah nduk, perempuan kok senang banget ngucapin kata pisah. Pamali loh, gak boleh, gak baik begitu. Dosa." sahut Bu Patmi dari arah dapur.
__ADS_1
" Kalau ada masalah itu diselesaikan baik baik, dibicarakan dengan kepala dingin. Di benahi lagi apa yang salah. Bukan ujug ujug langsung minta cerai, kamu ini perempuan berpendidikan tapi kok kasar begitu sama suami." sungut Bu Patmi membela anaknya, dan semakin membuat Sekar merasa kesal, sedangkan Bu Fatimah hanya diam menatap iba putrinya.
" Saya rasa, ibu tau seperti apa kelakuan anak ibu. Bahkan dengan sangat mudahnya mas Bima sudah merendahkan harga diri saya. Maaf saya lebih baik mundur dari pada saya terus merasakan sakit hati dari ulah anak ibu ini." Sekar sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, Bu Fatimah mengelus pundak putrinya lembut.
" Sudah nduk, istighfar." bisik Bu fatimah menenangkan anak perempuannya.
" Silahkan duduk, kita bicarakan baik baik." Bu Fatimah mengeluarkan suaranya, wanita lembut itu sudah tidak lagi bisa tinggal diam melihat anaknya di pojokkan oleh mertuanya.
" Bilang sama anak jeng, jangan mudah minta cerai, dosa." lanjut Bu Patmi setelah mendaratkan bokongnya di sofa empuk ruang keluarga.
" Yang menjalani Sekar, sebagai orang tua, saya hanya berhak menasehati yang baik baik, keputusan tetap ada di tangan Sekar sendiri. Dan jika Sekar memutuskan untuk berpisah, saya rasa Sekar sudah punya pertimbangan sendiri, karena dia yang selama ini menjalani rumah tangganya dengan nak Bima seperti apa." jawab Bu Fatimah panjang lebar dengan sikap yang begitu tenang meskipun hatinya meletup kesal dengan ucapan besannya yang terus menyalahkan putrinya tanpa mau melihat bagaimana sikap anaknya sendiri.
" Saya tidak ingin kita cerai, kamu akan tetap jadi istriku sampai kapanpun."
" terserah kamu Mas. aku akan tetap mengajukan gugatan ke pengadilan. Sudah tidak ada lagi yang harus kita bahas, aku harus pergi kerja." balas Sekar dengan tatapan tajam, terlihat jelas amarah dimatanya.
" Sebelum kamu pergi berangkat kerja, kasih ibu uang buat bayar arisan, tidak banyak cuma tiga juta saja." sahut Bu Patmi tanpa berdosa.
Sekar dan Bu Fatimah langsung saling pandang, menganga tak percaya dengan apa yang barusan di dengar.
" Apa Bu? coba ulangi sekali lagi." balas Sekar santai.
" heleh pura pura tidak dengar, jangan pelit kamu, aku ini masih ibumu loh, cuma tiga juta saja, bagimu itu kecil kan?" sahut Bu Patmi dengan gayanya yang ah tak bisa dijelaskan.
" maaf Bu, aku bukan mesin ATM ibu. Permisi, Asalamualaikum."
__ADS_1
" Sekar! tunggu Sekar, mana uangnya?" kejar Bu Patmi tergopoh.