
lelah sudah pasti, bahkan rasanya seperti remuk tulang tulang di tubuh mungilku ini.
merawat orang tua sakit itu tidak mudah, apa lagi ini dua orang sekaligus, ditambah dengan tiga orang anak, meskipun Rini dan Rere anak yang baik dan penurut, tapi diusia mereka juga belum bisa membantu pekerjaan rumah dengan utuh, apa lagi, mereka sudah terbiasa dengan dimanja, semua harus tersedia tanpa perlu bersusah payah, namun tidak mungkin juga, aku terus diam membiarkan kesalahan didikan untuk mereka, dan aku pun mulai mengajari mereka untuk membantu pekerjaan rumah, dimulai dari menyapu, ngepel dan cuci piring, untuk memasak, setrika dan nyuci aku yang mengerjakan.
Dengan keadaan keluarga yang tidak baik baik saja, aku memutuskan untuk tidak dulu melanjutkan kuliah, setelah lulus aku fokus mengurus rumah dan kesehatan budhe juga pakdhe.
om Huda sebenarnya memintaku untuk kuliah, dan akan mencari pembantu untuk mengurus rumah dan anak anaknya, tapi aku tidak tega, meninggalkan budhe dan juga pakdhe, raga mereka sakit, pun dengan hati mereka yang lebih sakit dengan tingkah polah anak perempuannya, bahkan dengan keadaan orang tuanya yang sakit-sakitan, mbak Irma tidak berubah sama sekali, tetap suka kluyuran tidak jelas, bahkan kadang tidak pulang, om Huda memutuskan untuk kembali kerumah hanya demi anak anaknya, sehingga hubungan antara om huda dan istrinya seperti layaknya orang asing yang tidak saling mengenal, meskipun tinggal satu atap, keadaan ini lah yang kadang membuat budhe maupun pakdhe semakin memburuk.
__ADS_1
Rini, Rere juga Reza, mereka semakin dekat denganku dibanding dengan ibunya, bahkan mereka lebih mendengarkan ucapanku ketimbang ibunya, mungkin itu terjadi karena terlalu seringnya mbak Irma mengacuhkan anak anaknya.
mas akhir seringkali mengirimi aku uang, katanya sebagai ucapan terimakasih karena aku merawat orangtuanya dengan sangat baik, bahkan mas Akhir juga membelikan aku ponsel terbaru, perhiasan juga baju baju bagus, mas Akhir berjanji akan membiayai kuliahku nanti, jika aku sudah siap untuk melanjutkan studiku, aku bersyukur masih memiliki keluarga yang begitu baik dan perduli padaku, bahkan om huda juga selalu memberikan uang padaku setiap sebulan sekali, karena katanya aku sudah membantu menjaga dan merawat anak anaknya dengan baik, bahkan anak anaknya tumbuh dengan sikap yang baik, santun, penurut dan pintar.
aku menggunakan uang yang didapat dari om Huda dan mas Akhir untuk membantu kebutuhan ibuku, mengirimkannya sebagian, dan sisanya aku tabung, karena aku masih bermimpi untuk bisa meneruskan pendidikanku setelah keadaan budhe dan pakdhe membaik.
bertahun tahun tinggal dan hidup di keluarga yang mungkin Dimata orang luar begitu sempurna dan indah, memiliki segalanya dengan tampak hidup bertumpuk harta, padahal sesungguhnya didalam begitu hampa dan luka yang ada, minim cinta, apalagi kasih sayang, hambar , ibarat sayur tanpa garam.
__ADS_1
aku mulai terbiasa dengan keadaan keluarga ini, bahkan mulai terbiasa dengan semua fasilitas dan kehidupan mewahnya, uang yang terus mengalir dari om huda dan mas akhir tidaklah sedikit, hingga aku bisa membeli apa yang aku mau, namun Alhamdulillah, aku tidak pernah meninggalkan ibadahku dan cintaku untukNYA, bahkan dirumah ini, dulu yang semua penghuninya enggan mengaji dan sholat, kini lambat laun, semua dengan terbiasa menjalankannya, tak terkecuali dengan mba Irma dan om huda, Alhamdulillah, ada hikmah dibalik semua yang terjadi, semoga hubungan imnhuda dan mbak Irma juga berlahan bisa membaik, agar tidak semakin terjerumus dalam limbah dosa.
waktu terus berlalu, keadaan budhe berangsur membaik, dan sudah mulai beraktivitas lagi seperti semula, tinggal pakdhe yang semakin hari semakin kurus dan lemah, bahkan hampir sebulan sekali masuk rumah sakit dan dirawat, dengan keadaan budhe yang membaik dan berangsur sehat, mas akhir menemukan jodohnya dan akhirnya menikah dengan wanita pilihannya, wanita cantik asal Surabaya yang dulu pernah jadi mahasiswinya, orangnya lembut dan santun, itulah gambaran istri dari mas akhir, menikah dengan acara sederhana karena keadaan pakdhe yang tidak memungkinkan, namun nampak binar bahagia tersirat dari wajah kedua orang tua yang sudah kuanggap sebagai orangtuaku sendiri.
setelah menikah mas akhir dan istrinya memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya, dan menitipkan budhe juga pakdhe padaku, bahkan mas akhir menambah uang bulanan untukku.
setelah pernikahan mas akhir, selang tiga bulan setelahnya, pakdhe menghembuskan nafas terakhirnya, karena sakitnya sudah parah dan Alloh lebih sayang pada beliau, mungkin inilah jalan terbaik untuknya, agar tak lagi menanggung rasa sakit, di waktu terakhirnya sebelum meninggal, pakdhe memanggilku dan memberikan aku sebuah map yang isinya serifikat tanah, rumah dan sawah, dan satu buku tabungan, sertifikat yang sudah atas namaku, dan tabungan yang nominalnya tidak sedikit juga sudah beralih dengan namaku, jujur aku kaget mendapatkan ini semua, karena aku memang merawat beliau iklas, tulus dan menjadikan kewajibanku sebagai bentuk taatku pada orangtua, tapi pakdhe membalasnya jauh lebih banyak yang tak pernah ada dalam pikiranku, pakdhe memintaku menyimpannya, karena harta yang diberikan padaku, semua harta pribadinya, tak ada yang tau jika pakdhe memilki simpanan rumah dan sawah, kecuali harta warisannya yang memang semua sudah tau, sawah berhektar hektar, rumah yang kini ditempati, kebun kelapa, dan tegalan yang ada tak jauh dari rumah ini, hanya itulah hartanya yang nampak Dimata keluarganya, selebihnya mereka tidak tau, makanya pakdhe memintaku untuk menyembunyikan apa yang sudah diberikannya untukku sebagai pegangan untukku nanti, aku hanya bisa menangis dan berharap keajaiban untuk kesembuhan laki laki baik yang sudah aku rawat hampir dua tahun dengan penuh sungguh, namun takdir berkata lain, keesokan setelah aku membe sihkan kamar dan menyuapinya, pakdhe memejamkan mata untuk selamanya.
__ADS_1
#jangan pernah mengharapkan balasan dari kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, karena sesungguhnya saat kita melakukan kebaikan untuk orang lain, kita sebenarnya melakukan kebaikan untuk diri kita sendiri.