
Tak terasa waktu begitu cepat bergulir, menjadi istri sekaligus seorang ibu membuatku sedikit lupa tentang waktu, hari hari yang kujalani terasa indah dan penuh warna kebahagiaan.
Alif anak pertamaku dengan Mas Reihan sekarang sudah berumur hampir dua tahun. Dia tumbuh sehat dan cerdas.
"Sayang, aku akan ada proyek di Jawa timur. Mungkin sekitar dua bulan akan ada disana. Kamu ikut atau disini saja?"
Suamiku tak pernah berubah, selalu melibatkan aku dalam segala hal, dan itu membuatku merasa dianggap penting olehnya, aku selalu nyaman dengan sikapnya itu.
" Emang boleh mas?" sahutku dan ingin meyakinkan ucapannya.
"Boleh dong, kamu itu istri aku, ya sudah sewajarnya aku berbagi pendapat dengan istriku." balas mas Raihan dengan mimik serius dan menatap penuh cinta padaku.
"Kalau aku ikut, kita akan tinggal dimana?
Jawa timur nya dimana emangnya?"
"Nanti kamu bisa tinggal dirumah ibu, aku bisa pulang dua hari sekali. Tepatnya di Surabaya.
Gimana?"
"Surabaya? memang Mas gak capek nanti bolak balik Kediri Surabaya?
Aku gak mau nanti mas sakit." Sahutku gak nyaman, karena Surabaya ke Kediri lumayan jauh, kalau mas Reihan nekad pulang pergi dua hari sekali, takutnya dia kelelahan dan jatuh sakit.
Aku gak ingin suamiku kenapa kenapa.
"Gak papa sayang, kamu gak perlu khawatir. Kan sudah ada jalan tol, Kediri Surabaya bisa ditempuh hanya satu jam perjalanan, kalau aku capek kan ada Reza dan Sandi yang gantiin nyetir." balas suamiku yakin dan terlihat tenang.
"Baiklah, kalau begitu aku setuju. Terimakasih ya mas, terimakasih selalu membuatku bahagia dan nyaman dengan kamu." aku memeluk mas Raihan dari belakang. Dan suamiku langsung meresponnya dengan mengusap lembut jemariku.
"Alif dimana sayang?"
Mas Reihan membalikkan tubuhnya dan menatapku lekat, aku tau kalau sudah begitu, pasti dia menginginkan aku melayaninya. Makanya dia mencari keberadaan anak kami, agar nanti tidak mengganggu saat kami sedang mengarungi puncak surganya rumah tangga.
"Alif sama mbak Yati, lagi main sepeda di halaman belakang, kenapa?" jawabku pura pura tidak tau maksudnya.
"Berarti bisa dong?" Mas Reihan mengedipkan matanya nakal.
"Bisa apa?" balasku masih pura pura tidak tau apa yang dia maksud.
__ADS_1
"Bisa bikin adik buat Alif." sahutnya cepat dan tanpa banyak kata lagi, Mas Reihan membopongku masuk ke dalam kamar dan kita saling berbagi raga dalam deru nafas yang saling bersahutan, mengarungi indahnya lautan cinta, mereguk madu bersama menuju puncak kenikmatan.
"Makasih sayang, kamu selalu luar biasa." Mas Reihan mengecup keningku dan memeluk tubuh ini erat, selalu begitu, kebiasaannya setelah kami melakukannya, ucapan terimakasih dan pelukan hangat selalu mewarnai kisah di atas ranjang kita, sehingga cinta itu tak pernah memudar, selalu terjaga dan semakin erat.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul delapan pagi, kami berangkat menuju ke Kediri. Urusan rumah kami pasrahkan pada satpam juga ART yang sudah bertahun tahun bekerja dengan Mas Reihan. Suamiku itu begitu perduli dan menaruh kepercayaan pada ART kami. Karena memang mereka orang orang yang baik dan setia, sehingga Mas Reihan tidak pernah segan untuk membantunya, bahkan anak anaknya di sekolahkan hingga menjadi sarjana dan ada yang sudah bekerja di kantor milik suamiku.
Aku beruntung memiliki suami seperti mas Raihan, di balik sikap dinginnya dia adalah orang yang memiliki keperdulian yang tinggi pada orang lain.
Namun sikap dinginnya hanya berlaku untuk orang orang yang tak begitu dekat dengannya.
Selama perjalanan, Alhamdulillah Alif tidak rewel sama sekali. Banyak tidur jadi aku bisa tenang dan ikut istirahat. Mas Reihan di temani Reza asisten kepercayaan nya. Bergantian menyetir dalam dua jam sekali.
"Kamu sudah kabari ibu, kalau hari ini kita pulang?" Mas Reihan melontarkan pertanyaan saat aku sedang ingin terpejam.
"Sudah Mas, ibu seneng banget. Dan ada kabar baik juga dari ibu tadi." Sahutku sambil memejamkan mata.
"Kabar apa?"
"Rina sudah menemukan jodohnya, Ibu bilang dia akan dilamar Minggu depan."
"Belum tau, tadi aku belum sempat tanya ke ibu.
Nantilah saat sudah sampai rumah. Sekalian juga ingin tau, laki laki itu seperti apa!
Ibu bilang, nanti malam dia akan datang kerumah.
Sengaja di undang untuk dinilai sama kita.
Nanti mas saja ya yang kasih penilaian."
"Hmm kok Mas, gak papa nih? Takutnya nanti Rina gak ridho!"
"Ibu tadi juga bilang gitu, Rina juga. Mas itu sudah dianggap mantu kesayangan ibu, dan jadi pelindung juga menjaga buat keluarga aku. Jadi penilaian Mas sangat penting."
"Alhamdulillah, makasih ya sayang.
Kamu istirahat dulu saja, nanti di rumah dilanjutin lagi ngobrol tentang Rina ya, kasihan, tuh kamu udah kelihatan capek banget."
__ADS_1
"Iya Mas, aku juga ngantuk, aku tidur dulu ya."
"Iya sayang, masih jauh kok ini, paling tiga jam lagi baru nyampai." Sahut mas Reihan lembut dan kembali fokus menghadap arah jalan raya.
Meskipun mata ini terpejam, tapi aku tidak bisa sepenuhnya bisa tidur. Sayup sayup aku mendengar obrolan Mas Reihan dengan Reza.
"Maaf, Pak! Apa adiknya Bu Sekar mau menikah?"
Terdengar Reza menanyakan soal Rina.
"Iya, katanya sih begitu. Tapi masih tahap lamaran. Minggu depan katanya.
Ada apa?" sahut Mas Reihan dengan suara biasa saja.
"Gak papa, cuma memastikan saja." sahut Reza singkat, namun terdengar dari suaranya ada kecewa.
"Kamu suka ya sama Rina?" Mas Reihan kembali membuka suaranya, kali ini terdengar serius.
"Saya cukup tau diri, Pak. Siapa saya. Maaf!"
"Harusnya kamu bilang ke saya dari dulu, pasti akan saya bantu. Lagian kamu pantas kok jadi pendamping Rina. Kamu baik dan pekerja keras. Aku suka." Sahut mas Reihan seperti menyayangkan, kenapa Reihan baru jujur saat Rina sudah akan menikah.
"Saya, takut pak! Gak berani melewati batasan saya yang hanya pekerja biasa."
"Ya ampun Reza! Kamu itu ikut kerja dengan saya sudah berapa lama?
Masak kamu gak paham dengan karakter saya selama ini. Kalau saya tidak pernah melihat orang itu dari kedudukan dan harta?
Justru saya itu suka dengan kegigihan kamu dan sikap pendiam kamu itu. Kalau saja kamu mau terus terang lebih awal, Pasti saya sendiri yang akan meminta Rina untuk kamu, Za!"
Aku melirik ke arah Reza, dia hanya terdiam dengan raut wajah yang sayu. Seperti orang yang sedang patah hati.
Mas Reihan terlihat menepuk pundak Reza memberi semangat dan kekuatan. Mengerti kalau asistennya sedang patah hati.
"Minggir Za, kita gantian nyetirnya. Aku khawatir kamu gak fokus, kamu kan sedang patah hati." Mas Reihan nampak menggoda Reza yang tertunduk malu. Dan terasa mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti. Mas Reihan menggantikan Reza menyetir.
"Kenapa Mas?" aku pura pura tidak mendengar obrolan mereka dan bersikap biasa saja, kasihan nanti pasti Reza akan malu kalau aku mendengar obrolan mereka. Apa yang dikatakan Mas Reihan benar, Reza baik dan pekerja keras, pendiam dan sopan, anaknya tidak pernah neko neko.
Kalau dia sama Rina aku juga setuju, pasti dia akan mencintai dan menjaga adikku dengan sangat baik. Tapi mau bagaimana, Rina sudah menemukan jodohnya, kalau saja Reza mau bicara dari dulu, mungkin aku juga akan membantunya.
__ADS_1
Jodoh itu rahasia Tuhan, aku hanya bisa berharap dan berdoa, siapapun Yang jadi jodoh adikku, semoga dia laki laki yang baik. Aamiin.