
" Terimakasih sekali lagi, nanti mas akan kabari setelah ada laporan dari tim untuk selanjutnya, semoga lolos ya, biar kita cepet ketemu."
Sekar terdiam, hatinya mendadak dingin seperti tersiram air es, sejuk. Mungkin ini salah, tapi itulah rasa, meskipun bertahun tahun dipendam, bertahun tahun di tutup, tetap saja rasa yang lahir dari sebuah ketulusan yang terdalam akan selalu menemukan jalannya sendiri.
" Sekar, kamu masih disana kan?" ulang Raihan setelah beberapa kali memanggil nama Sekar tapi tidak ada jawaban.
" Iya Mas, maaf." jawab Sekar gugup bercampur malu.
" Sepertinya kamu capek, dan hari juga sudah mulai gelap. Sebaiknya Sekar segera pulang, tapi jangan lupa kirim share location nya ya. Nanti kalau sudah dirumah kasih kabar ke Mas."
" Iya Mas, Asalamualaikum." balas Sekar yang mendadak kehilangan kata kata.
"Waalaikumsallam. Kamu hati hati ya."
Setelah mengakhiri obrolan dengan Raihan, Sekar menghembuskan nafasnya dalam, tiba tiba ada rasa aneh yang kini membuatnya resah. Bayangan wajah tampan Raihan dan semua perlakuan manisnya kembali mengusik hati Sekar.
"Sekar, sudah telponnya?" suara Tante Ririn mengagetkan lamunan akan sosok Raihan yang mulai bermain di lubuk hatinya.
" Iya Tan, sudah. Gimana semua sudah beres?" balas Sekar yang balik bertanya pada sang Tante.
" Iya, Alhamdulillah. Semua sudah beres. Dan surat suratnya juga lengkap. Ini sudah Tante foto buat nanti dikirim ke Raihan."
__ADS_1
" Iya sudah, kirim ke hape Sekar Tan, biar nanti Sekar langsung kasih ke Raihan dan ini juga mau kirim lokasinya buat di cek sama tim auditnya."
" yasudah, kalau sudah beres, sebaiknya kita langsung pulang. Sudah hampir magrib ini." Sekar menganggukkan kepala dan tangannya mengurai Atik ponsel mengirim pesan ke Raihan. Setelah dirasa cukup, Sekar dan Tante Ririn berpamitan pada pemilik lahan dan beberapa perangkat desa yang turut datang.
" Tante langsung pulang ke rumah ya, salam sama ibumu, jangan lupa, Tante tunggu kabar baik dari Raihan " ucap Tante Ririn sebelum berpisah. Sekar dan Tante Ririn datang dengan membawa mobil masing masing, jadi mereka langsung pulang dengan mengendari mobilnya masing masing.
" Asalamualaikum." Sekar mengucap salam sebelum masuk rumah, dan langsung dijawab dengan ibunya yang kebetulan memang sedang menunggunya di ruang tamu.
" Waalaikumsallam. Capek nduk? Mandi dulu gih, habis itu makan, ibu sudah masakin kesukaan kamu." jawab Bu Fatimah lembut, sorot matanya nampak menyimpan sesuatu, iya Bu Fatimah kasihan melihat anak perempuannya, yang sudah berjuang begitu gigihnya, bekerja keras tak mengenal waktu demi hidup yang lebih baik, tapi dengan mudahnya Bima mengambil yang bukan haknya seenaknya.
" Ibu kenapa? kok lihatin Sekar segitunya."
" Ya Alloh Bu. Insyaallah Sekar iklas, bahagia Sekar itu kalau lihat ibu dan Rina bahagia dan tanpa kekurangan apa pun. Dan Sekar bisa seperti ini itu juga berkat restu dan doa doa ibu."
" Iya nak, sekarang Sekar bersih bersih gih, itu adikmu sudah panasi sayurnya dan kita makan bareng." Sekar menurut dan langsung melakukan apa yang ibunya ucapkan. Setelah selesai membersihkan diri, Sekar langsung menuju dapur, ibu dan adiknya sudah menunggu di meja makan. Seketika hidung Sekar membaui wangi masakan khas sang ibu yang selalu lezat di lidahnya.
" Wah, ibu masak sambal terong nih, duh perut Sekar langsung lapar. Dan ini juga ada tahu sama ayam goreng. Ibu selalu tau apa yang Sekar suka."
" Iya dong, ini aku tadi juga masak sayur sawi kesukaannya mbak, awas kalau gak dimakan." sahut Rina lucu menatap kakaknya yang makan dengan lahapnya.
" Iya, pasti mbak makan semuanya, ini kan masakan kesukaannya mbak semua. Awas saja kalau mbakmu jadi gendut." cebik kesal menatap adik dan ibunya.
__ADS_1
" Aah dari dulu mbak itu makannya banyak, tapi juga gak gemuk gemuk tuh, banyak cacing kali di perutmu mbak."
" Apa? ih kamu ya, Bu masak aku dibilang cacingan sama Rina. Ngeselin kan." Bu Fatimah hanya tertawa menanggapi celotehan kedua anaknya. Dalam hatinya terus bersyukur, karena memiliki anak anak yang baik hatinya, selalu rukun dan saling menyayangi.
Sedangkan ditempat lain, Bima dan ibunya sedang dalam perjalanan menuju Surabaya dengan naik bus. Bima maupun Bu Patmi sengaja mematikan ponselnya untuk menghindari kalau nanti Sekar menghubunginya dan meminta kembali perhiasan dan uang yang sudah dicurinya.
" Bim, menurutmu apa Sekar akan melapor ke polisi kalau uangnya sudah kamu curi?." tanya Bu Patmi resah kalau Bima dipenjara pasti dia akan malu dan tentu kehilangan sumber uang, meskipun Bima malas kerja, tapi Bima lah yang selalu mau mencukupi kebutuhan ibunya.
" Bima gak tau Bu, makanya untuk sementara kita di Surabaya saja, tunggal di rumahnya mbak dulu. Biar keadaan aman dulu baru ibu pulang ke Blitar lagi. Selama Bima belum dapat kerja, ibu hemat hematin itu uang pegangan ibu, karena mbak juga tidak mungkin mau mencukupi kebutuhan kita nanti disana." sahut Bima tak kalah frustasinya.
" Gimana kalau Sekar nekat, dan kita akan dijemput paksa sama polisi. Ibu takut Bim, ibu gak mau kita masuk penjara."
" Ibu tenang saja, itu tidak mungkin. Sementara ibu pakai nomor baru, nanti Bima akan belikan lagi. Dan Bima juga akan mengganti nomor Bima, sementara kita menghilang dari mereka Bu."
" Benar juga ya, kamu memang anak ibu Bim, pintar juga cerdik. Nanti ibu akan kasih kalungnya sama mbakmu, kasihan hidupnya tetap gitu gitu saja di Surabaya, nikah sana sopir yang bayarannya gak ada kok masih betah mbakmu itu."
" Sudahlah Bu, jangan bahas itu lagi. Biarkan saja, ibu jangan bikin masalah lagi." Bu Patmi mencebik kesal dengan respon Bima yang tidak mendukungnya.
# maaf ya beberapa hari ini tidak up, badan sedang sakit, semoga setelah ini bisa up tiap hari. Ditunggu Like, love n vote nya kak 🤩☺
__ADS_1