
"Kalau begitu saya tunggu diluar saja, sambil menunggu kedatangan dokter Haris." tanpa disuruh, Raihan sudah tau apa yang harus dilakukan. Dengan langkah berat Rayhan meninggalkan kamar, menunggu tubuhnya dibersihkan oleh ibunya.
"Iya, Nak Raihan! Terimakasih banyak ya, nanti kalau sudah selesai, nak Raihan silahkan masuk lagi. Doakan semoga Sekar lekas sadar dan tidak terjadi apa apa." sahut Bu Fatimah sendu.
Raihan mengangguk dan berlalu keluar kamar, pikirannya berkecamuk dengan apa yang terjadi pada Sekar.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan Sekar? tidak mungkin kalau dia hamil, karena dia sudah sangat lama tidak berhubungan dengan Bima mantan suaminya, tapi kenapa tiba tiba dia pingsan dan tubuhnya bisa dingin dan pucat seperti itu? Ya Tuhan, ada apa lagi ini, kenapa masalahnya tidak juga selesai. Kasihan Sekar, sejak dia menikah dengan laki-laki itu, hidup Sekar selalu banyak masalah." Raihan terus berpikir tentang apa yang menimpa calon istrinya, hatinya terus merasa cemas dan bahkan dadanya dari tadi berdebar kencang.
"Aaaa, sakit!" Sekar terus berteriak kesakitan dan memegangi perutnya, membuat Bu Fatimah dan Rina panik dan histeris, lantaran Sekar belum membuka matanya tapi dia sudah berteriak kesakitan bahkan tubuhnya berguling guling tak terkendali. Mendengar kegaduhan yang ada di dalam kamar, dengan langkah cepat Raihan menuju ke arah suara, melihat keadaan Sekar yang tak biasa, membuat Raihan mematung dan sangat terpukul.
Raihan lulusan dari pesantren ternama, ilmu agamanya sudah tak diragukan lagi, sekali dua melihat Sekar seperti ini, Raihan langsung tau, apa yang terjadi pada wanita yang sangat dicintainya itu.
"Astagfirullah." Raihan menghembuskan nafasnya dalam dan mendekati Sekar dengan raut menegang.
__ADS_1
"Siapa yang sudah berani melakukan ini padamu, Sekar? aku tidak akan membiarkan orang itu hidup nyaman setelah ini." gumam Raihan penuh kemarahan, tapi masih bisa terdengar di telinga Bu Fatimah dan Rina yang langsung menatap bingung ke arah Raihan, seolah meminta penjelasan dari ucapannya.
"Ada apa nak Raihan? apa yang terjadi dengan Sekar?" tanya Bu Fatimah kalut, air matanya terus mengalir di wajahnya yang mulai ada keriput.
"Ada yang berbuat jahat pada Sekar, Bu. Dua sudah mengirimi Sekar guna guna, sampai Sekar kesakitan seperti ini. Tapi ibu tenang saja, saya akan berusaha untuk membuang guna guna itu. Tolong ambilkan air putih dan sedikit garam di gelas."
Tanpa menunggu lagi, Rina langsung berlari mengambil apa yang diminta Raihan dan kembali dengan cepat serta menyerahkan apa yang tadi Raihan suruh.
"Ini, mas, air putih dan garamnya." Rina menyodorkan satu gelas berisi air putih dan sedikit garam di mangkok kecil. Raihan menerimanya dengan raut wajah menegang.
Hampir satu jam lebih, Raihan berusaha membuang guna guna itu keluar dari tubuh Sekar. Dan Alhamdulillah berhasil, Sekar sudah tidak lagi berteriak kesakitan dan tubuhnya lemas penuh dengan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya, namun berangsur kesadarannya mulai kembali, dengan telaten Raihan meminumkan air di dalam gelas ke mulut Sekar, air yang sudah di isi dengan doa dari ayat-ayat suci Alquran, memohon perlindungan dan pertolongan dari Alloh SWT.
"Apa yang terjadi denganku, kenapa tubuhku rasanya gak enak begini dan kepalaku pusing sekali." Sekar memang merasakan tubuhnya sakit semua dan kepalanya pusing hingga pandangannya berputar.
__ADS_1
Raihan tersenyum dan meminta Sekar untuk beristirahat dulu, agar tenaganya pulih kembali.
"Istirahat saja dulu, biar tubuhmu kembali segar, nanti aku akan ceritakan apa yang terjadi, habiskan airnya, insyaallah tubuhmu akan segar dan lebih enakan." Raihan menyodorkan gelas yang berisi air putih ditangannya kepada Sekar, Sekar menatapnya bingung, dan matanya beralih ke arah ibu juga Rina dengan wajah heran.
"Ada apa ini, Bu?" Sekar kembali beralih bertanya pada ibunya.
"Sudah, kamu istirahat saja dulu, biar kembali sehat, nanti kamu juga akan tau, sekarang ibu minta kamu istirahat saja ya. Pasti nanti kamu akan ceritakan semuanya sama kamu, tapi setelah kamu sudah benar benar pulih." bakas Bu Fatimah dengan tatapan sayu, kasihan melihat anak kesayangannya menanggung begitu banyak penderitaan hanya karena ulah Bima, laki laki kurang ajar yang terus membuat hidup Sekar bermasalah sebab ulahnya.
"Yasudah, ibu keluar dulu, mau menyiapkan makanan buat para tukang yang bekerja, sudah ham tiga sore. Rin, temani mbakmu, pastikan dia istirahat, jangan tinggalkan mbak kamu sendirian, nanti kalau ibu sudah selesai, ibu akan kesini lagi, ganti menjaga mbakmu." lanjut Bu Fatimah lembut, terlihat jelas kesedihan sedang menggelayuti perempuan paruh baya itu, hatinya memang benar benar sakit, melihat anak perempuannya di perlakukan sangat kejam oleh mantan menantunya.
"Aku juga akan tunggu di luar ya, mau lihat pekerjaan para tukang sudah sampai mana. Nanti kalau kamu sudah merasa enakkan, kita bicara. Sekarang istirahat saja dulu." Raihan menyahuti dan ikut berlalu keluar dari kamar meninggalkan Sekar yang mematung, bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, bahkan bertanya sama Rina pun, juga enggan menjawab, Rina memilih diam dan sama memintanya untuk istirahat dulu. Tapi Rina tetap berada di sampingnya, menjaga dan menemani Sekar.
Tak mau banyak berpikir dulu, akhirnya Sekar memutuskan untuk memejamkan matanya. Kepalanya benar benar masih terasa pusing, "mungkin setelah tidur semua akan kembali baik." batin Sekar bermonolog.
__ADS_1
Melihat kakaknya tertidur, membuat Rina sedikit tenang, dan tak terasa air matanya menetes, tak habis pikir, kakaknya yang dikenalnya sangat baik dan periang, harus mengalami ujian seberat ini hanya karena ulah laki laki seperti Bima. Laki laki tak tau malu dan tidak tau adab, sudah salah tapi justru menyalahkan orang lain, bahkan sekarang berani menyakiti Sekar dengan cara yang begitu kejam dan menjijikkan. "Semoga Bima segera mendapat balasan dari semua perbuatannya. Aku tidak akan pernah memaafkan laki laki itu." bisik Rina di dalam hati. Kebenciannya pada Bima semakin besar, setelah apa yang sudah dilakukan laki-laki itu kepada keluarganya.