
" Aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, untuk sementara aku harus bisa membuat Sekar lengah dan kembali membuat nya bisa mempercayaiku lagi." bisik Bima dalam hati.
Bima kembali membawa koper yang berisi baju miliknya ke dalam kamar, tapi dengan sigap Sekar melarang.
" Mulai sekarang kamar kita beda Mas. Kamu sebaiknya bawa koper itu ke kamar sebelah, dikamar tamu dekatnya tangga." perintah Sekar santai. Entahlah perasaan cinta di hati Sekar seolah menguap begitu saja untuk laki laki yang masih sah menjadi suaminya itu.
" jangan sembarangan kamu Sekar! aku masih suamimu." bentak Bima tidak terima, namun sedikitpun tidak menjadikan sekar takut.
" Terserah kamu Mas. Itu kalau kamu masih mau tinggal disini." balas Sekar cuek bahkan tidak perduli sama sekali.
" Lebih baik aku pergi, dari pada harga diriku kamu injak injak disini. Lihat saja aku akan membuatmu mengemis untuk memintaku kembali kerumah ini." Sahut Bima dengan wajah memerah yang diliputi emosi.
Sekar hanya diam tidak menoleh sedikitpun. Membiarkan suaminya pergi adalah pilihan terbaik untuknya saat ini. Karena bersama pun sudah tidak ada kecocokkan, apa lagi sikap Bima yang tidak pernah bisa menghormati ibu nya, membuat Sekar mantap jika harus berpisah dengan laki laki arogan itu.
Dengan langkah lebar Bima menyeret kopernya keluar, dengan mengendari sepeda montornya, Bima memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya.
"Sekar, apa yang kamu lakukan nak?" tiba tiba Bu Halimah muncul dengan wajah teduhnya, menatap anak perempuan yang sangat disayanginya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
" Ibu! maafkan Sekar Bu. Semoga ibu mengerti keputusan yang Sekar ambil."
" Tapi apakah harus dengan berpisah nak? jika bisa diperbaiki, sebaiknya perbaiki. Karena perceraian sangat di benci Alloh. Ibu hanya mengingatkan sebagai orang tua, untuk selanjutnya kamu berhak menentukan jalan mana yang harus kamu pilih. Ibu yakin, anak ibu sudah dewasa dan cukup bijak menentukan pilihan." Bu Halimah memeluk tubuh langsing Sekar penuh dengan kasih sayang.
-------------------------+
Brak!
Bima membuka pintu dengan kasar, menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu yang ada dirumah orang tuanya. Melihat kedatangan anaknya dengan wajah lesu Bu Patmi heran.
" Sekar mengusirku Bu."
" Apa? dia berani mengusirmu? keterlaluan sekali dia." sungut Bu Patmi tak suka.
" Sudahlah Bu, pusing aku."
"kalau kamu di usir, gimana dong nanti ibu bayar arisan yang jumlahnya gede, uang dari mana? bisa malu ibu." sungut Bu Patmi cemas.
__ADS_1
"Haduh Bu, bukannya bantu mikir gimana Bima bisa kembali membuat Sekar nurut, ini malah ibu sibuk mikir arisan. Bima pusing ini."
" lha gimana to Bim. wong arisan ibu dua hari lagi. Kamu pulang pulang bawa koper diusir istrimu, pasti kamu gak bawa uang kan?."
Bima menghirup udara kasar, kepalanya makin pusing mendengar ocehan ibunya, yang selalu bahas uang, uang terus. Tanpa mau ambil pusing dengan Omelan ibunya, Bima menutup wajahnya dengan bantal sofa, memejamkan matanya, berharap bisa tidur, tapi justru pikirannya terus tertuju pada sikap Sekar yang dinilainya berubah.
" apa Sekar punya selingkuhan ya, kenapa dia berubah kasar begitu." Bima menerka nerka di dalam hatinya.
" coba aku cek akun sosmednya, barangkali aku bisa menemukan petunjuk dari sana." Bima bergumam sendiri tapi masih bisa terdengar oleh ibunya yang masih duduk tak jauh dari tempatnya merebahkan diri.
" Apa Bim? kamu mau selidiki istrimu itu? Bagus! ibu juga curiga, jangan jangan beneran si Sekar selingkuh, wah kamu harus kasih pelajaran jika itu benar. Istri kok kurang ajar." Bu Patmi semakin memperkeruh dengan ucapannya yang di penuhi emosi.
Tanpa menjawab omongan ibunya, Bima langsung berselancar di gawainya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membuka akun Facebook Sekar, menscrool satu persatu unggahan yang ada di akun Sekar.
Bermacam komentar di setiap unggahannya tak satupun lepas dari akun yang bernama Raihan Pratama. Dan terlihat Sekar selalu menanggapi di semua komentarnya.
Dengan perasaan penuh amarah, Bima membuka akun yang bernama Raihan, nampak dalam unggahannya, Raihan adalah pria tampan yang mapan, karena di setiap foto foto yang dia unggah selalu menampilkan latar belakang orang orang terpandang yang berpakaian rapi. ' Tapi sepertinya aku tidak asing dengan laki laki ini.' batin Bima menyelidik.
__ADS_1