Sekar Arumi

Sekar Arumi
pamer


__ADS_3

Bu Patmi dengan senangnya menerima uang yang diberikan oleh anak laki-lakinya, tanpa memikirkan dari mana uang itu di dapat, dan menutup mata akan halal haram uang tersebut, dengan sadar dia tau, kalau anaknya mendapatkan uang itu dengan cara yang tidak baik, mencuri, lebih tepatnya mengambil hak orang lain.


"Kalau saja, setiap hari Bima bisa memberikan uang sebanyak ini, pasti aku akan hidup bahagia tanpa kekurangan dan membungkam mulut tetangga yang sering kali menyindir karena mereka beranggapan aku hanyalah menumpang hidup pada menantu seperti Sekar. Dan sekarang mereka sudah berpisah, tapi anakku bisa memberikan aku uang sebanyak ini, lihat saja, mereka akan berkomentar apa lagi? dasar tetangga mulut comberan." sungut Bu Patmi kesal, berbicara sendiri di sepanjang jalan menuju pasar.


Bu Patmi memborong belanjaan untuk stok hingga satu sampai dua Minggu, karena biar tidak bolak balik pergi ke pasar, jarak pasar dengan rumah lumayan jauh. Bu Patmi sudah mencari tukang becak untuk menemaninya membawa belanjaannya dan nanti juga mengantarkannya sampai di depan rumah tanpa dirinya keberatan dengan membawa belanjaan.


Dua karung beras, empat liter minyak goreng, tiga kilo telur, tiga kilo gula pasir, satu kilo cabe, dua kilo bawang merah dan bawang putih, kopi, dan beraneka ragam jenis sayur dan buah buahan. Tak lupa juga membeli stok ikan, ayam dan daging. Dengan langkah percaya diri bu parmi terus mengitari pasar untuk membeli kebutuhannya, setelah dirasa cukup, Bu Patmi pergi ke toko mas yang tak jauh dari pasar tempatnya berbelanja.


"Aku mau lihat kalung yang itu, mbak, coba bawa sini." tunjuk Bu Patmi pada kalung yang memiliki liontin bunga mawar, 'bagus dan terlihat besar, pasti orang orang akan kagum melihatku memakai ini.' batin Bu Patmi bangga. "Aku mau yang ini mbak, hitung berapa aku harus membayarnya." sambung Bu Patmi sumringah. Yang langsung dilayani dengan sangat ramah oleh pegawai toko.


"Total harga kalungnya, enam juta tiga ratus delapan puluh lima ribu bu, di tulis atas nama siapa?"

__ADS_1


"Tulis saja, Patmi. Aku jadi ambil yang itu ya, dan tolong ambilkan cincin yang matanya biru sama yang permata nya banyak itu, kalau di jariku cukup, sekalian aku mau ambil yang itu." sahut Bu Patmi dengan gayanya yang pongah. "Baik, Bu!" balas pegawainya ramah. Bu Patmi langsung mencoba cincin yang tadi ditunjukkan dan ternyata pas di jari jarinya, tanpa banyak bicara lagi, Bu Patmi memintai pegawainya untuk menghitung semua jumlah perhiasan yang tadi dipilihnya. semua total hampir sembilan juta. Saat ini uang segitu tidak ada artinya buat Bu Patmi, karena Bima sudah memberinya banyak uang, hampir tiga puluh juta lebih.


Setelah selesai acara belanjanya, Bu Patmi meminta diantar pulang sama tukang becak yang tadi dimintanya menunggu tak kau dari toko emas tempatnya membeli perhiasan. Senyum sumringah terus mengembang dibibir Bu Patmi yang sedikit tebal, wanita paruh baya itu sedang berbunga hatinya, karena merasa uangnya sudah sangat banyak dan bisa membeli apa saja yang dia mau. Bu Patmi maupun Bima hanya tau caranya menghabiskan uang, tanpa mau berusaha untuk mendapatkan uang dengan bekerja keras.


"Tolong ya pak, bantu saya membawa belanjaan ini ke dalam, nanti aku kasih uang lebih." Bu Patmi sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh tetangganya yang sedang duduk ngerumpi di depan rumah Mak Pik. Ibu ibu yang ada semua beralih menatap ke arah suara Bu Patmi yang berjalan dengan mendongakkan kepalanya angkuh, sehingga ibu ibu cuma bisa mengelus dada dan menggelengkan kepalanya melihat sikap pongah tetangganya. Belum puas memanasi ibu ibu di depannya, Bu Patmi menyerahkan uangnya satu lembaran biru kepada tukang becak sebagai tanda terimakasih, dengan suara yang cukup keras, sengaja biar dapat di dengar ibu ibu yang sedang ngumpul di teras rumahnya Mak Pik.


"Terimakasih ya pak, jangan kapok loh nganterin saya belanja, saya kasih lima puluh ribu sebagai ucapan terimakasih dan anggap saja itu rejeki buat istrinya bapak." tukang becak yang dikasih uang lebih, dan lumayan banyak menurutnya, sangat berterimakasih dan berungkali mengucap syukur, itu semakin membuat Bu Patmi merasa bangga.


"pindah saja kesini ibu ibu, tadi aku beli jajanan banyak dari pasar, sini saja kita makan bareng bareng sambil ngobrol." Bu Patmi sengaja mengundang ibu ibu yang tengah ngobrol di rumah Mak Pik, agar mereka bisa melihat jelas perhiasan baru yang kini menempel di tubuhnya, dan biar mereka tau apa aja yang dibelinya di pasar, dengan begitu pasti mereka tau kalau uangnya Bu Patmi banyak.


Tanpa menunggu lagi, semua ibu ibu termasuk Mak Pik langsung pindah ke teras rumahnya Bu Patmi, dan Bu Patmi langsung masuk kedalam membawa beberapa jajanan yang tadi memang sengaja dibelinya untuk mengundang tetangganya.

__ADS_1


Macam macam jajanan pasar disuguhkan Bu Patmi untuk ibu ibu sebagai teman ngobrol. Ada bikang, serabi, onde-onde, bolu kukus, lemper, jeruk, salak dan kerupuk petis. Melihat banyaknya makanan yang di suguhkan Bu Patmi, membuat ibu ibu senang dan betah berlama lama berada dirumah Bu Patmi, sambil ngobrol ngalor ngidul ( kesana kemari).


Bahkan perhiasan baru Bu Patmi tak luput dari bahan obrolan mereka.


"Kalung kamu baru lagi toh, Mi? kayak lebih gedean dari yang kemarin, itu cincinmu juga kayaknya baru juga." Mbak April mulai mengomentari emas yang melekat di tubuh Bu Patmi, dan itu membuat ibu ibu yang lain juga ikut berkomentar.


"Iya, baru tadi beli, Bima yang membelikannya. Alhamdulillah dia sudah dapat pekerjaan yang gajinya gede." bohong Bu Patmi membanggakan anak laki lakinya, padahal Bu Patmi tau, kalau uang yang di dapat Bima hasil dari merampok di tokonya Sekar.


"Wah, Alhamdulillah ya, akhirnya anakmu jadi orang sukses, kamu harus syukuran itu, biar berkah dan awet." sahut Mak Pik ikut berkomentar.


"Emang harus ya, kalau iya, nanti bantuin aku masak ya, Mak!" sahut Bu Patmi antusias, karena ini kesempatan untuknya bisa menunjukkan kalau dia tidak pelit dan sombong seperti yang mereka katakan selama ini.

__ADS_1


"Boleh, nanti juga biar dibantu ibu ibu yang lain, kapan kamu masaknya?" balas Mak Pik yang di iyakan ibu ibu yang lainnya. "Besok saja gimana, karena aku belum belanja untuk itu, besok mbak April ikut temani belanja ke pasar ya, beli bahan bahan yang dibutuhkan." sahut Bu Patmi sumringah, dalam hatinya berkata, kalau syukuran tidak akan menghabiskan uangnya, paling hanya menghabiskan lima ratus sampai enam ratus ribu saja, tidak perlu banyak banyak cukup membuat tiga puluh kotak nasi saja.


__ADS_2