Sekar Arumi

Sekar Arumi
hilang rasa malu


__ADS_3

" pinjami aku uang lima ratus untuk ongkos, dan satu juta buat diberikan pada orang tuaku". tanpa rasa malu mas Bima meminta uang padaku, setelah apa yang ia lakukan padaku dan ibu, dasar lelaki tak punya akhlaq, mulutnya begitu enteng bilang ibuku yang menghabiskan uangku, tapi kenyataannya, justru dia dan keluarganya yang terus merong rong uangku dengan berbagai macam alasan.


"maaf mas, aku tidak punya uang, bukankah baru dua hari, kamu meminta uang padaku?, untuk apa uang itu,? satu juta banyak loh, kok sudah habis saja, aku bukan gudang uang, jadi jangan seenaknya kamu terus meminta padaku."


jujur, dada ini terasa sesak, menahan luapan emosi pada lelaki yang bergelar suamiku, baru dua hari minta dikirimi uang dengan alasan yang sama, pinjam dulu, tapi hasilnya sudah bisa ditebak, saat gajian, ia akan pura pura lupa, bahkan dengan wajah memelas mau meminjam uang lagi, jujur aku sudah lelah dengan semua sikapnya.


"mulai perhitungan ya kamu Sekar, ingat...kamu itu istriku, istri sudah sepantasnya berbakti pada suaminya, surgamu ada di keridhoanku , camkan itu".

__ADS_1


mas Bima melotot dan mulai meninggikan suaranya dikala keinginnannya tidak terpenuhi, dulu aku akan takut, dan dibilang takut jika dituding sebagai istri durhaka, tapi makin kesini makin menyebalkan sikap tak tahu malunya itu.


"lihat dulu, suaminya yang seperti apa dulu mas, iya kalau suaminya bersikap baik dan bisa menjadi panutan, mencukupi semua kebutuhan rumah tangga dengan baik, bisa bertutur kata lembut dan menyenangkan hati istri, boro boro bisa seperti itu, menghargai aku saja kamu nggak bisa, sebelum bicara itu baiknya intropeksi dulu, biar tau kesalahan diri, bukan hanya banyak bicaranya tapi minim ilmu nya, ibarat tong kosong nyaring bunyinya."


aku sudah benar benar lelah hingga tak bisa menahan mulut ini untuk tidak menjawab semua argumentnya yang ngawur itu, biarkan saja, dia mau marah atau mau meninggalkanku, aku sudah nggak perduli, bagiku hubungan ini sudah tidak sehat, jadi tidak ada alasan untukku bertahan.


ya Tuhan, laki laki seperti apa yang aku nikahi ini ya Robb, kenapa dia nggak sadar Sadar jika sedikitpun nggak punya hak atas uangku, dengan seenaknya meminta bahkan dengan enteng menyuruhku memberi uang keluarganya dengan jumlah yang dia tentukan sendiri, nggak akan aku kasih, dikiranya cari uang itu mudah apa, bisa bisa aku gila jika terus berhadapan dengan lelaki tak punya malu ini.

__ADS_1


"pulang saja kalau mau pulang, dan satu lagi, jangan lagi minta uang padaku, karena kamu atau keluargamu bukan kewajibanku, justru kamu sebagai suami yang harusnya memenuhi kebutuhanku, bukan malah terus terusan minta uang padaku, mulai sekarang, jangan pernah mengusik uangku".


geram sekali menghadapi lelaki minim moral sepertinya, aku sudah tidak sanggup lagi, dan tidak ada satupun wanita yang Sudi dibodohi seperti ini, ku tinggalkan mas Bima dengan emosinya, masuk ke kamar lantas menguncinya rapat, luruh sudah harapanku memiliki keluarga yang indah, semua sudah dipatahkan oleh sikapnya yang tak tau diri itu.


menangis dan menyesal itulah yang kini aku lakukan, untuk hari ini, akan kutumpahkan semua air mataku, agar besok aku bisa kembali berdiri tegar menghadapi mas Bima dan keluarganya.


mas Bima terus berteriak dan menggedor gedor pintu kamar, tanpa malu sedikitpun terus memaksa agar aku cepat memberikan uang yang dia minta, rasanya sesak sekali, wajah yang dulu kulihat lembut, dengan pandangan yang terus menunduk, menandakan dia lelaki Sholeh yang akan bisa membawaku ke arah yang lebih baik, nyatanya itu palsu, hanya topeng yang ia gunakan untuk memikat, sesal dihati semakin dalam ketika ucapan tidak suka dari om Huda dan mas Akhir waktu itu terngiang kembali.

__ADS_1


karena cinta sudah membutakan mata, hingga aku tak bisa melihat ketulusan atau hanya kepura puraan, nyatanya kini berlahan semua mulai terbuka siapa sesungguhnya laki laki yang aku nikahi, hanya menginginkan uangku untuk memenuhi gaya hidupnya tanpa mau bersusah payah, aaah betapa aku merasa sangat bodoh sekali bisa tertipu oleh wajah polos yang dibuat buat, rasanya menyesal kenapa dulu tidak mendengarkan nasehat dari keluargaku dan kini aku merasakan akibat dari kebodohan yang aku lakukan.


__ADS_2