
Selama satu Minggu Sekar sekeluarga tidak pernah keluar rumah, hanya melakukan aktifitas di dalam dan pekarangan rumah saja. Hari ini pembangunan perbaikan toko dan pos satpam juga sudah selesai, bahkan pagar besi bercat hitam juga sudah terpasang dengan Kokoh, rumah Sekar terlihat lebih tertutup dan aman, begitupun dengan toko sembakonya. Sebelum di pasang pintu, di dalamnya juga di pasang pagar teralis yang sulit di bobol, di pasang beberapa cctv di sekitar toko. Raihan merancangnya dengan begitu sempurna.
Dan Sekar juga mulai mendatangkan guru ngaji ke rumah, setiap jam empat sore, Sekar akan belajar mengaji bersama ibu juga adiknya. Kehidupan Sekar benar benar berubah, berubah jadi lebih baik dan lebih bijak, masalah yang menimpa dijadikannya sebagai sebuah pelajaran.
"Alhamdulillah, renovasi tokonya sudah selesai, besok kita akan mulai kembali belanja, lewat telpon saja, pesan barang di pak haji Nurdin kayak biasanya, biar nanti orang suruhan beliau yang mengantarkan barang barang belanjaan kita." ucap Sekar pada ibu dan adiknya yang saat ini sedang berkumpul duduk di depan telivisi sambil menikmati pisang goreng yang masih hangat.
"Alhamdulillah, semoga setelah ini, kita dijauhkan dari niat jahat dari orang yang iri." sahut Rina menimpali sambil mulutnya mengunyah pisang goreng dengan lahap.
"Owh iya, itu pak satpamnya sudah kamu buatkan kopi belum, Rin? sekalian suguhkan pisang gorengnya, taruh di piring biar buat cemilan di pos." Sambung Bu Fatimah dengan tatapan diarahkan pada anak keduanya.
"Oh iya, belum. Maaf, lupa!" Sahut Rina nyengir dan langsung berdiri pergi ke dapur untuk membuatkan kopi kedua satpam yang tengah berjaga di luar. Satu berjaga di pos dalam pagar rumah dan yang satu berjaga di pos depan samping toko sembako. Tapi mereka lebih sering duduk berjaga diluar kalau hari masih terang, saling ngobrol tapi tetap waspada.
Saat Joko sedang asik ngobrol di pos jaganya Parman, ada mobil yang berhenti tepat di depan pagar rumah, pria paruh baya dengan tampilan bersahaja turun dari mobil dan menghampiri kedua satpam yang sejak tadi memperhatikan.
"Maaf permisi, Bu Fatimah nya ada di dalam? Tolong bukakan pagarnya, saya ingin bertemu dengan beliau." sapa pria bersahaja tersebut sopan.
"Maaf, dengan bapak siapa? biar disampaikan dulu Sama Bu Fatimah nya." sahut Joko ramah dan saat kakinya mau melangkah masuk ke dalam, tiba tiba Rina muncul membawa nampan ditangannya, yang berisi kopi dan pisang goreng yang masih hangat.
"Buka saja pak Joko, itu om akhir, keluarga saya." Dari kejauhan Rina sudah melihat kedatangan omnya dan langsung meminta Joko untuk membukakan pagarnya.
__ADS_1
Mobil om akhir memasuki pekarangan rumah yang terlihat lebih luas dan tertata rapi, yang dulunya masih tanah, sekarang sudah papingan dan ada taman kecil di sudut ujung tembok pembatas.
"Om, asalamualaikum." sapa Rina yang langsung menyalimi pria yang begitu ia hormati, setelah Akhir turun dari mobilnya.
"Ibu, ada Rin?" balas Akhir tenang dengan senyuman hangat.
"Ada, om. Di dalam sama mbak Sekar." balas Rina segan, dan berjalan beriringan memasuki rumah.
Rina mempersilahkan om Akhir duduk di ruang tamu, lalu berniat manggil ibu dan kakaknya akan kedatangan om nya.
"Bu, ada om Akhir." Rina memberitahu ibunya, dan Bu Fatimah sedikit terkejut dengan kedatangan anak dari kakaknya itu, secara datang tidak memberi kabar terlebih dulu, biasanya akan menelpon memberi kabar lebih dulu setiap akan berkunjung.
"Kok tumben gak ngasih tau dulu kalau mau datang." sahut Bu Fatimah, lantas berdiri dan langsung menemui keponakannya yang sedang duduk menunggu diruang tamu dengan tenang.
"Alhamdulillah baik Bulik. Bulik juga sehat kan?" balas akhir tenang dan wajahnya selalu terlihat teduh.
"Alhamdulillah, Le." sahut Bu Fatimah singkat.
"Bulik kenapa gak kasih tau akhir, tentang apa yang terjadi disini? Bima sudah sangat keterlaluan loh, dia harus dikasih peringatan." tiba tiba Akhir membahas tentang Bima, mantan suaminya Sekar. Padahal Bu Fatimah belum pernah bercerita apapun tentang keadaan dirumahnya, apa yang menimpa keluarganya.
__ADS_1
"Akhir tau dari Raihan, Bulik. Kemarin kita ketemu membahas pekerjaan, dan Raihan sudah cerita semuanya, kurang ajar sekali itu Bima. Dia tidak sepantasnya berbuat hal menjijikkan seperti ini. Aku akan menemuinya dan memberi laki laki itu pelajaran, agar dia tau, Sekar masih punya pelindung yang tidak akan membiarkan dia disakiti oleh siapapun." sambung Akhir geram, dari dulu akhir memang tidak begitu menyukai Bima, tapi Sekar sudah terlanjur memutuskan pilihannya, jadi ya mau tidak mau semua ikut menyetujui.
"Sekar ada dimana?" sambung Akhir yang mencari keberadaan Sekar yang belum juga terlihat, padahal tadi Rina sempat bilang kalau Sekar juga ada di dalam dengan ibunya.
"Sekar masih sholat di kamarnya, sebentar lagi mungkin juga akan keluar." Sahut Bu Fatimah jujur dan menatap lekat pada keponakannya yang memang memiliki sikap tegas dan sangat menyayangi kedua anaknya, Sekar juga Rina.
"Diminum kopi nya, Om. Dan ini pisang gorengnya juga masih hangat." Rina meletakkan secangkir kopi hitam dan satu piring pisang goreng yang masih hangat di atas meja, serta secangkir teh hangat buat ibunya. Rina ikut duduk mengambil kursi kosong yang berada tak jauh dari ibunya.
"Asalamualaikum, om. Sudah lama?" sapa Sekar saat melihat kedatangan om kesayangannya.
"Waalaikumsallm, baru saja. Kamu apa kabar?" balas om Akhir menatap lekat pada keponakannya.
"Alhamdulillah." balas Sekar singkat.
"Kenapa tidak kasih tau saja om, ini masalah serius loh, sebentar lagi Om Huda juga akan tiba, setelah itu kita akan menemui Bima dan memberinya peringatan." Sambung Akhir serius sambil menatap satu persatu wanita yang ada dihadapannya, wanita yang ingin ia jaga, karena mereka sudah dianggap seperti ibu dan adiknya sendiri.
Sekar terdiam, tak bisa membantah apa lagi protes dengan apa yang sudah menjadi keputusan om nya itu, dan mungkin lebih baik, kalau omnya memberi pelajaran juga buat Bima, agar tidak semakin berbuat sesukanya.
"Bima tidak bisa dibiarkan, karena orang seperti dia itu, tidak pernah bisa sadar dengan kesalahannya, dia akan selalu merasa benar dan akan melakukan apapun untuk bisa memenuhi keinginan nya, sekalipun dia harus menyakiti orang lain. Makanya, setelah kemarin om dapat kabar dari Raihan tentang semua ini, om langsung telpon juga ke Mas Huda, om kamu itu juga kecewa karena kamu tidak memberi kabar apapun tentang apa yang menimpa kalian." ucap Akhir panjang lebar mengutarakan kekecewaannya.
__ADS_1
"Maafin kami, om. Kamu pikir kami masih bisa mengatasinya. Dan ada mas Raihan yang juga sudah membantu." sahut Sekar menunduk, tak berani menatap mata om nya yang sedari tadi menatapnya penuh kecewa.
"Itu bukan pilihan tepat, Sekar. Kamu itu tanggung jawab kami, anggap om ini Saudara, keluarga kamu. Kalau ada Raihan yang sudah bantu, dia masih laki laki asing, kalian belum halal, ada batasan yang harus di jaga di antara kalian, om kira kamu paham semua itu. Kita tunggu Mas Huda, setelah itu kita temui Bima, om kok sudah gak sabar memberinya pelajaran. Laki laki banci yang cuma berani dengan perempuan, Memalukan!" geram Akhir yang sudah terlanjur emosi jika ingat dengan seorang Bima.