
satu tahun berlalu, dan kebiasaan dirumah besar itu masih tetap sama, tidak ada perubahan, justru ditambah hadirnya anak bungsu mbak Irma, Reza, anaknya cukup tampan, matanya sangat indah, namun garis wajahnya tidak sama sekali ada kemiripan dengan om huda, dan semenjak kehadiran Reza, pertengkaran antara mbak Irma dan om huda makin sering terjadi, bahkan seringkali mba Irma minggat, pergi dari rumah berhari hari tidak pulang, dan tentu saja tidak membawa serta Reza bersamanya, Reza masih cukup kecil, yang tak seharusnya di tinggal begitu saja oleh ibunya, tapi ya namanya mbak Irma, tak sedikitpun mau memikirkan keadaan anaknya, hanya selalu membesarkan egonya sendiri, mau tidak mau, Reza menjadi tanggung jawabku dengan budhe, ada atau tidak adanya mbak Irma dirumah, toh sama saja tidak mempengaruhi keadaan, karena meskipun mba Irma dirumah, Reza tetap yang ngurus budhe dan aku, maka tidak heran, Reza lebih dekat dengan kami, meskipun mba Irma sering minggat dan tidak pulang berhari hari bahkan Minggu, tak pernah Reza menangis mencarinya, beda kalau aku atau budhe yang tidak ada, pasti Reza akan rewel sepanjang kami tidak ada, pernah pas aku pulang kerumah ibuku, dan mau menginap dua hari disana, tapi pagi pagi sudah di TLP untuk balik, karena Reza nangis nggak diem diem ingin bertemu denganku.
saat usia Reza tiga tahun, dan waktu itu aku mau kelulusan SMA ku, ada huru hara yang luar biasa dirumah, mbak Irma dengan terang terangan membawa selingkuhannya ke rumah, dan ternyata pria yang selama ini menjadi selingkuhan mba Irma, berprofesi sebagai dokter, dan kebetulan pakdhe sedang sakit, pakdhe terkena batu ginjal dan tidak mau dirawat dirumah sakit, waktu itu mbak Irma membawa dokter itu, sebut saja namanya dr soni, orangnya tinggi, berkulit bersih dan wajahnyapun mirip dengan Reza, awalnya semua hanya diam dan menganggap semua kebetulan, tapi yang namanya kebohongan pasti akan terkuak juga, karena sepandai pandai nya menyimpan bangkai, pasti lama lama baunya tercium juga, itulah mbak Irma dengan segala kebohongan dan perselingkuhannya.
waktu itu, aku sedang kurang sehat, karena memang aku bersekolah di sekolah tempat om huda bekerja, melihatku pucat dan lemas, akhirnya om huda membawaku pergi kedokter untuk diperiksa, dan memintakan ijin ke guru untuk membawaku pulang, karena memang aku waktu itu dalam keadaan benar benar sakit, waktu itu masih pukul sepuluh pagi, aku pulang diantar om huda dengan naik mobilnya, tapi pas waktu sampai, om huda sengaja tidak memasukkan mobilnya ke garasi, om huda hanya memarkir kan mobilnya di depan pagar rumah saja, karena setelah mengantarkan aku pulang, om huda berniat langsung ingin balik ke sekolah melanjutkan pekerjaannya.
alangkah terkejutnya kami, saat mau melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dengan lewat pintu samping dari garasi, diruang keluarga, kami dikejutkan pemandangan yang sangat menjijikkan, mbak Irma dan dokter Soni sedang berbuat mesum, melakukan adegan dewasa di sofa depan televisi, aku langsung menutup mataku dan jujur sangat takut dengan ekspresi om huda yang langsung merah padam penuh dengan amarah.
__ADS_1
om huda langsung menyuruhku untuk masuk ke kamar dan menguncinya, aku tidak tau apa yang selanjutnya terjadi, karena aku takut untuk melihatnya, tapi bisa kudengar sangat jelas om huda mencaci mereka berdua, bahkan suara pukulan pukulan dan jeritan dari mbak Irma dan budhe, budhe mengetuk kamarku, dan memintaku untuk menjaga Reza dikamar, dengan keringat dingin dan kepala yang terasa pusing, aku berusaha untuk tatap kuat, takut dan juga cemas, bahkan Reza terus saja menangis, mungkin dia takut mendengar suara suara keras khas orang bertengkar, rasanya hampir pingsan diri ini, aku berusaha untuk tetap memeluk dan menenangkan Reza dengan kondisiku yang lemah, hampir satu jam lebih, Kami terkurung dikamar tanpa berani keluar.
keadaan sudah agak tenang, tidak ada lagi teriakan dan cacian, hanya masih terdengar isakan budhe dan mba Irma, bahkan tadi kudengar sepertinya suara mobil om huda terdengar, apakah om huda sudah kembali ke sekolahan dengan keadaan seperti ini, kasihan sekali beliau.
Reza merengek meminta minum susu, akupun memberanikan diri untuk keluar dari kamar sambil membawa Reza dalam gendongan, saat membuka pintu, aku terpaku melihat keadaan ruangan yang sebelumnya selalu bersih dan rapi, kini hancur tak bersisa, bahkan televisi ukuran besar yang biasa terpampang didinding pun sudah hancur berantakan, banyak pecahan beling dan benda lainnya, nampak budhe sedang berusaha untuk membersihkan kegaduhan diruangan ini, sedangkan mbak Irma hanya menangis sambil meringkuk disudut ruangan, dan entah kemana dr soni saat ini, tapi aku tidak melihatnya ada diruangan ini lagi.
kusenderkan tubuh diatas ranjang milik budhe, menahan rasa sakit ditubuh ini agar tetap terlihat baik baik saja, kasihan budhe, nampak ia begitu shock dan sangat terpukul dengan apa yang terjadi, apa lagi pakdhe juga sedang sakit, rumah sudah kembali rapi dan terdengar suara Rini dan Rere pulang sekolah yang dijemput oleh semi tetangga belakang rumah, semi adalah pemuda desa yang lugu, dia sudah biasa dimintai tolong oleh keluargaku kalau kami sedang repot.
__ADS_1
aku berusaha untuk beranjak dari pembaringan, menyambut kepulangan Rini dan Rere, tapi budhe melarang, budhe memintaku untuk tetap istirahat biar aku cepat kembali sehat, kalau aku sakit budhe pasti akan lebih repot lagi.
om huda tidak pulang kerumah sudah hampir empat hari, dan saat aku bertemu di sekolah om huda hanya memberiku uang untuk diberikan pada Rini dan Rere dan juga uang saku untukku juga, aku tidak berani banyak bertanya, hanya terkadang menyampaikan apa yang dipesankan budhe untuk aku sampaikan ke om huda.
satu bulan berlalu dan om huda juga tak kunjung ada niat untuk kembali kerumah, tapi beliau selalu memberikan uang saku buat kami dan sesekali juga selalu membelikan makanan untuk aku bawa pulang buat anak anaknya dirumah, bahkan mbak Irma juga nampak tak perduli dengan keadaan rumahtangganya, memang mbak Irma sudah tidak lagi pergi pergi, tapi dia tetap tidak begitu perduli dengan kondisi rumahtangga nya, keadaan budhe juga pakhe sama sama tidak sehat, jadi akulah yang mengurus kedua orang sakit dan juga anak anak mbak Irma sendirian.
#materi berlimpah memang tak menjamin kebahagiaan, tapi haruskah mengorbankan anak dan orangtua hanya demi nafsu dan keegoisan?
__ADS_1
kisah Irma ini nyata, dan saat ini sosok Irma sudah tua dan sakit sakitan bahkan anak anaknya tidak ada yg perduli, mungkin ini imbas dari sikapnya di masa lalu, yuuuk ikutin terus kelanjutan cerita aku Yaaa, masih panjang dan seru.