
setelah menimang dan memikirkannya, akhirnya aku menerima tawaran pekerjaan di bidang kontraktor, entahlah aku sangat menyukai hal hal yang lebih menantang hingga menjadikan hidup ini lebih berwarna dan semakin semangaat.
tak mudah memang, apa lagi ini awal dari aku melangkah, namun segala sesuatu jika dijalani dengan niat dan keyakinan, insya Alloh akan berjalan dengan baik dan tak terasa berat.
Alhamdulillah, semakin hari hidupku semakin tertata dengan baik, keadaan ekonomi yang dulu begitu menyedihkan kini berangsur mulai stabil bahkan bisa dibilang berlebih.
ibu selalu mengingatkan untuk tidak lupa menyedekahkan sebagian dari harta yang kita dapat, karena itu lah harta yang sesungguhnya kita punya, jadi jangan pernah eman untuk bersedekah.
Alhamdulillah, setiap bulan kami membagikan sembako dan sedikit uang untuk para dhuafa yang ada disekitar rumah dan tak lupa menyisihkan beberapa lembar untuk yayasan yatim piatu, mungkin tak seberapa dan insya Alloh jika rejeki berlebih kami akan terus menambah nominal untuk bersedekah.
__ADS_1
waktu terus berjalan, toko yang dulu kecil, kini sudah semakin besar, ibu dan Rina mengelolanya dengan sangat baik, bahkan adikku itu, sekarang sudah nampak ceria lagi, meskipun dia masih belum percaya diri dengan penampilannya, tapi aku dan ibu terus memberinya semangat dan membesarkan hatinya, jika suatu hari pasti akan ada laki laki yang tulus yang mau menerima dan mencintainya apa adanya, pasti itu akan tiba saat nya entah kapan, hanya butuh bersabar dan banyak berdoa.
karena pekerjaan aku sering keluar kota, dan suatu hari aku bertemu dengan laki laki yang nampak begitu baik, pendiam, irit bicara, bahkan selalu menundukkan pandangannya, jujur, meskipun belum tercipta rasa suka, tapi entah ada kekaguman di hati ini, aku bertemu dengannya bukan sekali, tapi sudah dua kali, meskipun kami tidak satu pekerjaan, kami bertemu selalu dengan cara yang tidak sengaja.
Bima namanya, dia kerja di perak Surabaya.
kami berkenalan karena Bima ternyata adalah teman dari salah satu teman kantor yang ada di cabang Surabaya.
setelah hampir lima bulan, baru kami menjalin komunikasi itupun hanya seputar pertanyaan pertanyaan datar yang pada umumnya, kamu sudah makan, sudah pulang kerjanya, gimana sehat, hanya itu itu saja, tapi entah kenapa aku merasa ada yang lain disudut hatiku, Bima nampak berbeda dengan laki laki pada umumnya, yang kenal langsung merayu lewat kata kata gombalnya bahkan tidak segan mengajak ke arah pacaran, tapi itu tidak berlaku bagi seorang Bima.
__ADS_1
tanpa pacaran, minim komunikasi, dan mungkin saling memendam rasa, saling mengagumi dalam diam, itulah mungkin yang terjadi antara aku dan Bima, hingga akhirnya dia mengutarakan niat untuk datang melamarku pada orang tuaku.
jujur ada rasa haru juga bahagia, tapi juga terbesit ragu, karena aku belum mengenal seutuhnya, belum tau seperti apa sifatnya, bagaimana keluarganya, tapi entah dari mana hati ini begitu yakin jika dia adalah laki laki yang baik dan santun.
akhirnya aku mengutarakan niat Bima melamar pada ibu dan juga seluruh keluarga budhe, dari pihak ibu, tidak masalah dan ibu merestui jika memang dia pilihanku, ibu percaya jika aku sudah bisa tau mana yang baik dan mana yang tidak, tapi tidak dengan keluarga budhe, bahkan om huda dan mas akhir terkesan enggan untuk menerima Bima, karena mereka merasa jika Huda bukan pilihan yang baik untuk jodohku, mas akhir bilang ada rasa cemas dan tidak percaya pada Bima dari sorot matanya.
entahlah mungkin karena hatiku sudah terlanjur yakin dia baik dan bisa mengarungi kehidupan yang lebih baik dengannya nanti, hingga aku buta oleh nesehat dan kecemasan dari om Huda dan mas Akhir, dengan berat hati mereka pun akhirnya merestui dan setuju dengan pilihanku, meskipun nampak di mimik wajah mereka ada rasa enggan untuk beramah dengan Bima, meskipun begitu mereka tetap menghormati keputusanku.
karena bagaimanapun aku yang lebih berhak atas hidup yang aku jalani, aku tau keluargaku sangat menyayangiku, mereka tidak ingin aku salah mengambil keputusan, aku memaklumi kehawatiran mereka.
__ADS_1
#inilah awal dari kemelut kehidupanku yang sebenarnya, ikuti terus ceritanya ya, terimakasih