Sekar Arumi

Sekar Arumi
POV Bima


__ADS_3

waktu itu aku bertemu dengan sekar lewat Yudhi temanku yang bekerja satu perusahaan dengan Sekar, pertama kali aku melihat wanita itu hatiku langsung tertarik, dia cantik juga manis, tubuhnya yang mungil dan kulitnya yang putih terawat membuatku ingin menjadikan dia milikku, apa lagi saat aku tanya pada Yudhi, jika Sekar adalah sosok wanita yang mandiri, gajinya besar dan dia cukup cerdas, masih menurut Yudhi, Sekar dari keluarga berada, katanya salah satu keluarga dekatnya ada yang menjadi dosen di universitas Surabaya, wah memang bukan keluarga sembarangan, aku semakin berminat untuk mendekatinya, setelah aku mengantongi informasi dari temanku itu tentang Sekar, aku mulai menyusun rencana untuk membuatnya kagum dan simpati padaku, aku terus saja mencari tau semua tentang Sekar, mulai dari kegiatannya, kesukaan dan kebiasaannya, dan menurut pencarian yang aku dapat dari sosok Sekar, dia tipe perempuan yang tidak mau pacaran, hidupnya yang terlalu mandiri dan banyak uang, membuat dia seolah begitu nyaman dengan kesendiriannya.


saat aku pulang ke Blitar diwaktu hari libur, aku menceritakan semua tentang Sekar pada ibuku, dan ibu sangat mendukungku untuk mendekati Sekar, ibu memintaku untuk bersikap seolah aku ini lelaki alim yang terkesan Sholeh, dan jangan terlihat aku begitu mengejarnya, karena wanita seperti Sekar akan mudah ditundukkan dengan bermodal Sholeh dan taat.


aku menyusun rencana seolah kami bertemu secara tidak terduga, padahal aku sudah mencari tau jadwalnya ke Surabaya untuk meeting, waktu bertemu dengannya aku selalu berpura pura jadi lelaki kalem yang sopan dan selalu menundukkan pandangan, dan akhirnya aku bisa mendapatkan nomer ponselnya, akan tetapi aku tidak langsung menghubunginya layaknya laki laki pada umumnya yang mengumbar kata rayuan yang menurutku bisa membuat Sekar ilfil, aku biarkan dulu, dia penasaran dan merasa jika aku beda dengan lelaki lain, paling sesekali aku akan memberi komentar pada status watshap nya.


setelah cukup lama, akhirnya aku beranikan diri untuk langsung mengutarakan niatku untuk melamar lewat aplikasi berlogo hijau, dan ternyata sekar langsung mengiyakan lamaranku.


saat itu aku merasa menjadi laki laki yang paling beruntung di dunia ini, bisa mendapatkan wanita yang aku inginkan dan sekaligus bisa menguasai hartanya, bisa dipastikan hidupku juga keluargaku pasti akan berubah lebih baik dan terjamin.

__ADS_1


aku tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada, langsung aku kabari ibu untuk mencari pinjaman dana buat melamar kerumah Sekar, tidak apalah sekarang mengeluarkan sedikit uang, untuk mendapatkan ganti yang lebih banyak.


saat lamaran pun tiba, aku sedikit kurang suka dengan laki laki yang dipanggil Sekar dengan sebutan om huda dan mas akhir yang aku tau itu orang orang yang sangat penting dikeluarganya, om huda kerja di kedinasan dan mas akhir menjadi dosen di Surabaya, mereka terlihat begitu tidak menyukaiku, apa lagi saat mas akhir bilang pada Sekar untuk memikirkan lagi keputusannya, mengganggu saja, bisa bisa rencanaku gagal karena Sekar terpengaruh dengan ucapannya, tapi aku harus menahan diri untuk tetap dengan sikap sok alim, agar Sekar percaya jika aku adalah lelaki baik yang akan bertanggung jawab.


keputusan tetap pada Sekar, dan akhirnya kami pun menikah dengan pesta yang lumayan meriah, semua menggunakan uang dari Sekar, aku hanya memberinya uang tiga juta rupiah untuk bantu uang dapur, dan untuk mas kawin cukup seperangkat alat sholat serta cincin dua gram, itupun ibu mencari uang pinjaman dulu, nanti setelah dapat amplop dari nikahan baru dikembalikan, aku yakin pernikahan ku akan mendapat amplop yang besar, karena tamu tamu dari keluarga sekar kebanyakan orang orang penting dan sangat banyak, dari siang hingga malam orang orang datang dan pergi seolah tidak ada habisnya.


pukul delapan malam kami turun dari pelaminan, karena Sekar sudah mengeluh capek dan risih dengan riasan yang menempel ditubuhnya, padahal masih banyak tamu yang berdatangan.


diruang tamu kulihat Sekar dengan ibu dan adiknya sedang menghitung amplop hasil hajatan kemarin, ada dua kotak tempat untuk amplop , satu buat tamu ibunya dan satu lagi buat tamunya Sekar, dan kulihat nampak ibu mertuaku menghitung amplop miliknya yang dibantu oleh Rina adiknya Sekar, dan akupun mulai ikut membantu Sekar menghitung jumlah uang yang tidak sedikit itu.

__ADS_1


amplop milik ibu mertuaku cukup banyak, tiga puluh delapan juta lebih, dan saat ibu mau memberikan uangnya untuk Sekar istriku, oleh Sekar justru ditolak, padahal apa salahnya diterima, lumayan bisa beli montor baru yang sedang aku incar, aah sial aku masih pura pura menjadi lelaki baik baik, kalau aku langsung menunjukkan sikapku yang asli, bisa bisa aku menyandang status duda dalam sehari.


hasil uang amplop Sekar juga tidak kalah jauh, justru makin besar nilainya, hampir enam puluh juta, pantas saja sih, tamu nya Sekar dari golongan orang orang sukses dan teman temannya juga terlihat dari orang orang kaya, pasti isi amplop nya lumayan tebal, bahkan bosnya sekar kasih amplop tiga juta, belum lagi tenan temanya kantor nya yang lain, kebanyakan amplopnya di isi dua ratus hingga lima ratus ribu.


setelah menikah dengan Sekar, aku tidak lagi kekurangan atau bahkan bingung soal keuangan, tinggal minta dengan dalih meminjam pasti dengan senang hati sekar memberi, bahkan aku bisa memberi uang lebih pada ibuku, pun dengan ibukku yang sering meminta uang ke Sekar hanya untuk membeli barang barang yang di inginkan sekedar untuk pamer ke tetangga, agar mereka tidak lagi meremehkan keluargaku.


tapi sialnya, saat aku bilang mau meminta untuk membawa ATM gajinya, Sekar mulai tidak terima dan marah marah, apa dia tidak tau, kalau surga istri itu ada pada keridhoan suami, dasar dianya saja yang terlalu angkuh, bahkan saat aku cuma mau meminjam uang untuk bensin dan ibukku dengan nominal yang tidak banyak, hanya satu juta lima ratus, Sekar sudah marah marah bahkan tidak mau memberinya, padahal sebelum aku minta uang dan ATM nya untuk aku pegang, sekar tidak perhitungan begini.


lama-lama aku pusing dan tidak betah dengan sikapnya, maka aku memutuskan untuk pulang kerumah ibuku saja, dan minta Sekar memberiku yang tadi kuminta, tapi Sekar kekeh tidak mau memberinya, dengan terpaksa aku pura pura tidur didepan pintu kamarnya, sengaja untuk menunggu Sekar lengah, dan benar saja, saat Sekar terbangun dia keluar kamar dan pasti menuju kamar mandi, aku tidak menyia nyiakan kesempatan itu, saat Sekar sudah menghilang, aku dengan cepat mencari dompetnya, ketemu, tapi isinya hanya lima ratus ribu, sangat kurang dari yang aku inginkan, tapi aku akan mengambil atmnya dan pasti isinya lebih banyak.

__ADS_1


sialnya, sebelum aku keluar, ternyata sekar sudah memergoki aku memegang dompetnya, dia menuduhku mencuri dan memaksaku untuk mengembalikan dompet juga uangnya, enak saja, apa dia tidak paham, jika aku suaminya, yang lebih berhak dengan uangnya, kenapa dia marah marah tidak jelas seperti tidak paham dengan hukum tentang rumah tangga dimana istri diminta untuk taat dan menurut dengan suaminya, tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Sekar, benar benar membuatku emosi, apa lagi sekar makin bar bar, dia meneriaki aku maling seenaknya dan mengundang para tetangga berdatangan, sumpah demi apapun dia sudah menginjak harga diriku, apalagi saat pak RT datang dan menyidang kami, memalukan, awas saja kamu sekar.


__ADS_2