Sekar Arumi

Sekar Arumi
Surabaya


__ADS_3

" Benar juga ya, kamu memang anak ibu Bim, pintar juga cerdik. Nanti ibu akan kasih kalungnya sama mbakmu, kasihan hidupnya tetap gitu gitu saja di Surabaya, nikah sama sopir yang bayarannya gak ada kok masih betah mbakmu itu."


" Sudahlah Bu, jangan bahas itu lagi. Biarkan saja, ibu jangan bikin masalah lagi." Bu Patmi mencebik kesal dengan respon Bima yang tidak mendukungnya.


"Sebentar lagi kita sudah sampai terminal Bungur Bu, kita ke tempatnya mbak ayu naik apa, bis lagi atau naik taksi?." sambung Bima pada ibunya.


" kita naik taksi saja Bim, biar cepet dan juga biar tetangganya mbakmu itu mengira kita orang kaya, karena melihat kita turun dari taksi. Paling juga berapa bayarnya."


"Baiklah, kalau begitu kita turun di luar terminal saja nanti Bu, kalau dari luar banyak taksi yang nangkring disana."


"Akhir akhir, bungur persiapan." suara kernet bus sudah mulai memberi aba aba, Bima mengajak ibunya untuk bersiap siap turun.


" Ayo Bu, itu ada taksi disana." Bu Patmi mengikuti langkah Bima dengan sedikit tertatih, kepalanya agak pusing karena perjalanan naik bis tadi. Mereka menaiki taksi dan meluncur ke tempat tujuan yaitu rumahnya ayu, kakak perempuan Bima yang tinggal di kontrakan di daerah tambak asri Surabaya.


" Asalamualaikum." Bu Patmi langsung bergegas masuk kedalam rumah yang pintunya terbuka, Ayu langsung menyambut kedatangan ibunya dengan riang. " Ibu lagi banyak uang ya, kok naik taksi segala." sapa Ayu mengawali obrolan.


" Alhamdulillah ibu baru dapat arisan, makanya kesini pingin nginep dan dekat sama cucu cucu ibu yu, lagian kamu juga sudah lama gak pernah pulang ke Blitar to."


" iya Bu, maaf. karena mas Ali juga gak pernah ada libur kerjanya."


" Kemana Retno sama Roy, kok gak ada?" Bu Patmi celingukan mencari keberadaan dua cucunya yang tidak ikut menyambut kedatangan nya.


" Roy biasa Bu, lagi ngumpul sama teman temannya. Kalau Retno sudah tidur dari tadi sore pulang ngaji. Ibu sama Bima sudah makan belum?"

__ADS_1


" Belum, tadi ibu dan Bima cepet cepet berangkatnya jadi gak sempat makan, takut gak dapat bis."


" yasudah aku pesanin dulu nasi goreng di depan. Ibu istirahat gih."


Ayu keluar rumah dan memesan kan nasi goreng dua bungkus untuk ibu dan adiknya. Setelah memesan ayu kembali pulang, karena kalau sudah jadi pasti akan diantarkan sama penjualnya kerumah. Ayu sudah lama jadi pelanggan nasi goreng tersebut, hingga yang jualan sudah sangat hapal dan selalu mau mengantar pesanan ayu kerumah nya.


" Nasi gorengnya masih di bikin, sabar dulu ya Bu.". celetuk ayu saat memasuki rumahnya.


" Nduk, ini ibu punya sesuatu buat kamu." panggil Bu Patmi sambil tangannya memberi isyarat untuk ayu duduk disampingnya.


Bu Patmi mengeluarkan kalung dari kotak perhiasan berwarna merah bludru yang waktu itu di curi Bima dari Bu Fatimah. Seketika dua bola mata ayu langsung melotot.


" Wah bagus sekali Bu, perhiasan siapa? punya ibu?" tanya ayu takjub sambil matanya terus menatap kotak perhiasan yang terbuka di tangan ibunya tak berkedip.


" serius Bu? Kalau ini dari Bima, uang Bima banyak dong, wah bisa pinjem uang dong aku, hutang gitu." seru Ayu tertawa menggoda adiknya yang langsung mencebik kesal.


"ini kalung sama cincin nya buat kamu Yu. Ibu gelangnya sama cincin juga. kamu simpan baik baik jangan sampai hilang ya, karena ini perhiasan dua puluh empat karat, yang mahal dan bagus." Ayu berbinar dan senyumnya langsung merekah. Bima hanya diam saja melihat kelakuan ibu dan juga kakaknya.


" Yu, ibu sama Bima akan numpang disini beberapa hari ya, gak papakan?" tanya Bu Patmi ragu, karena biasanya Ali akan marah kalau keluarga ayu menginap agak lama. Karena Ali memang tidak suka dengan perangai keluarga Ayu yang selalu bersikap seenaknya.


" gak papa Bu, tapi ibu juga harus ingat, jangan bicara macam macam sama mas Ali, jangan bikin mas Ali merasa rendah dengan kata kata ibu."


" heh ngomong apa kamu itu yu, orang apa yang ibu katakan tentang suamimu itu benar adanya kok, dasar Ali saja yang terlalu berlebihan menanggapi. Dasarnya kere ya kere saja, bukan malah sok berkuasa begitu."

__ADS_1


" Sudahlah Bu, dengerin kata mbak ayu, apa ibu mau nanti sama mas Ali berantem, terus ibu diusir dan kembali ke Blitar, lalu Sekar datang untuk memenjarakan kita." Bu Patmi langsung terdiam tapi mulutnya terus mencebik tak suka dengan ketidak berpihakan Bima padanya.


" Maksudnya apa ini? apa yang terjadi, kenapa Sekar bawa bawa polisi segala?"


Ayu mengernyit heran, meminta jawaban dari ibu dan Bima. Akhirnya mau tidak mau, Bu Patmi menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi satupun. Ayu langsung melongo tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan dengan ibu dan adiknya.


" Apa? jadi Bima mengambil perhiasan dan uang milik Sekar? Ya ampun, trus kalau mereka tidak terima dan melapor ke polisi gimana?"


" Sudah, gak perlu panik begitu. Mbak sama ibu tenang saja, itu sudah jadi urusan Bima nanti. Yang penting sekarang biar ibu tinggal disini sementara, kalau aku mau ke tempatnya Agus, katanya ada lowongan pekerjaan ditempatnya agus, dan sementara aku juga mau numpang di kos nya Agus saja, disini gak enak dengan Mas Ali." jelas Bima panjang lebar.


" Yasudah terserah kamu saja Bim, gimana baiknya." balas Ayu pasrah dengan kelakuan adik dan ibunya.


"Mbak, pinjam montornya Sebentar, aku mau beli kartu perdana buat ibu dan juga aku. Biar Sekar bingung karena tidak bisa menghubungi kami." lanjut Bima datar. Sesungguhnya hati Bima terasa sesak, berpisah dari Sekar adalah hal yang paling tidak Bima inginkan, tapi bagaimana lagi, Bima sudah terlanjur membuat kesalahan hanya demi memenuhi hawa nafsunya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sekar, Rina dan Bu Fatimah sedang duduk santai diruang keluarga sambil menonton televisi. " Nduk, ada yang ingin ibu sampaikan." mulai Bu Fatimah membuka obrolan dengan anaknya yang fokus ke ponselnya, sejak tadi Sekar sedang sibuk berbalas pesan dengan Raihan membahas pekerjaan.


" iya Bu, apa yang ingin ibu bicarakan? seperti nya serius sekali, sampai wajah ibu tegang begitu." Sekar langsung beralih menatap ibunya, nampak wajah gelisah dan tegang terlihat disana.


Bu Fatimah menghembuskan nafasnya dalam sebelum melanjutkan bicara.


" Gini nduk, tadi Rina kehilangan uang toko, jumlahnya lumayan banyak, hampir enam juta lebih."

__ADS_1


__ADS_2