Sekar Arumi

Sekar Arumi
bonus besar


__ADS_3

" Apa kamu akan biarkan dia bebas begitu saja? mereka sudah mencuri banyak di rumahmu loh ini?" Renata kembali membuka obrolan saat sudah duduk di dalam mobil.


" Untuk sementara aku memang berniat membiarkan mereka merasa bebas Ren, biarkan mereka senang senang dulu. Aku ingin proses perceraian ini berjalan lancar tanpa hambatan dari mas Bima. Setelah itu kita lihat saja nanti gimana, kalau mereka masih berani bikin ulah, aku tidak akan segan segan menjebloskan mereka ke penjara. Karena semua bukti bukti sudah aku simpan."


Renata mendesah, sambil matanya terpejam, menyenderkan tubuhnya di jok mobil.


"Padahal kamu itu baik, dan juga cantik. Tapi kenapa bisa jatuh pada laki laki model kayak Bima sih Kar?"


"Dulu dia baik Ren, bahkan dia dengan percaya diri langsung mengajak menikah, tidak basa basi bahkan awal kita kenal, dia pria yang loyal. Ternyata itu hanya triknya untuk membuatku jatuh hati dengan sosoknya. Tapi semua sudah berlalu, aku pun juga sudah memutuskan untuk berpisah darinya. Makanya, untuk sementara sengaja aku biarkan dia sembunyi, agar proses perceraian yang aku ajukan tidak berjalan rumit oleh tingkahnya. Aku yakin, kalau dia hadir dalam persidangan, pasti akan memperumit."


" Kamu benar juga, untuk sementara biarkan saja. Tapi kamu juga harus kasih dia pelajaran nantinya, karena orang modelan dia, kalau dibiarkan akan sangat kesenangan dan pasti akan mengulangi lagi dan lagi. Owh iya, denger denger kamu ada projects dengan Raihan?"


"Dari mana kamu tau? padahal aku belum cerita."


" Apa kamu lupa, kalau Tante Ririn itu tetanggaan sama aku."


Sepertinya akan ada benih benih cinta lama bersemi nih."


" Apa an sih, jangan bikin berita aneh aneh, apa lagi rumah tanggaku sedang bermasalah, takut fitnah jadinya."


"Iya deh iya, tapi sepertinya memang ada sinyal kesana."


" Terserah kamu saja lah Ren."


Aku membelokkan mobilku ke warung nasi pecel yang ada di pinggir jalan, tadi kami berangkat sangat pagi, perut belum sempat terisi.

__ADS_1


"Kita sarapan dulu, banyak menunya disini. Aku mau makan nasi pecel, sudah lama gak sarapan dengan pecel." aku bergegas turun dan di ikuti Renita, kami masuk ke warung yang terlihat rame pembelinya. Bahkan warungnya pun terlihat sangat bersih.


Saat aku menikmati sarapan, ponsel disaku bergetar, nama Raihan terpampang di layar datar milikku. "Cie, yang lagi kangen, pagi pagi udah telpon aja nih." sahut Renata saat matanya menangkap nama Raihan yang sedang menelpon ku. " apa an sih, pasti dia akan nanyain soal lahan kemarin yang aku sambangi dengan Tante Ririn.


" Asalamualaikum." sapaku dan meminta Renata untuk menutup mulutnya.


"Waalaikumsallam. Maaf kalau pagi pagi sudah menghubungi, saya hanya ingin kasih kabar, kalau lahan yang kemarin sekar ajukan diterima oleh pusat, insya Alloh, lusa saya dengan tim akan terbang ke Kediri."


" Ini beneran Mas? Ya Alloh senengnya aku. Aku akan kasih tau Tante Ririn kabar gembira ini. Ya Alloh aku belum percaya ini." aku langsung kegirangan dengan kabar yang disampaikan Raihan, lahan seratus hektar yang aku ajukan di setujui, rencananya akan menjadi kandang sapi projects pemerintah. Bersyukur, Alloh ganti berlipat lipat dari yang mas Bima curi.


" Iya makanya, aku langsung kasih kabar ke kamu. siap siap ya, lusa kita ketemu. asalamualaikum." Mas Raihan menutup telpon tanpa menunggu aku menjawab salamnya.


" Ada apa sih, kok kamu kayak seneng banget gitu." tanya Renita kepo.


"Lahan yang kemarin aku ajukan lolos Ren, tau gak sih aku akan mendapatkan bonus yang berlipat lipat dari lahan itu."


" aku akan belikan kamu tas baru Ren, kalau nanti bonusnya cair."


" Aaah serius kamu? Ya ampun terimakasih Sekar." Renita langsung melonjak kegirangan.


"Ish, itu dilihat orang, malu atuh neng." Sekar menegur sikap Renita yang berlebihan karena menjadi perhatian orang orang yang ada di warung, bahkan ada diantara mereka yang mulai bisik bisik dengan wajah geli melihat ke arah Renita.


"Upz maaf, habisnya aku seneng banget dong, pasti tas pemberian kamu bukan merk kaleng kaleng, iya kan?" Renita menaik turunkan alisnya dan Sekar hanya bisa tersenyum dengan tingkah sahabatnya itu.


"Bagaimana perasaanmu sama Raihan, Kar? Apa kamu masih menyimpan rasa itu untuknya?" tiba tiba Renita membahas perasaan Sekar pada Raihan sehingga Sekar langsung terdiam dengan pandangan menerawang.

__ADS_1


Sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, Sekar lebih dulu membuang nafasnya kasar.


"Aku tidak berani berharap banyak Ren. Mas Raihan terlalu sempurna untuk aku gapai. Biarlah rasa ini tetap tersimpan rapi disudut hatiku. Jika memang kami ditakdirkan bersama, biarlah cara Tuhan yang menuntun jalan ini menujunya. Sekarang fokus aku hanya ingin menyelesaikan dulu permasalahan dengan Mas Bima. Agar hidupku bebas dari laki laki munafik itu. Jujur aku sudah lelah Ren, menghadapi Mas Bima dan keluarganya yang selalu menciptakan masalah."


"Iya, aku mengerti. Semoga semuanya berjalan lancar ya Sekar. Dan aku juga berharap, cintamu pada Raihan akan bersambut, karena aku juga bisa melihat binar cinta di matanya untukmu. Percayalah."


"Makasih ya Ren, kamu selalu bisa membuat hatiku tenang."


"Sama sama, dan kita balik sekarang, karena jam nya sudah mepet ini. Bisa bisa kita kena amuk pak bos. Yuk." Sekar tersenyum, dan meminum teh hangat dalam gelas yang tinggal separuh. Lalu berjalan menuju kasir untuk membayar. Lalu dengan langkah seribu berjalan menuju mobil dan mulai menyusuri padatnya jalan menuju kantor.


"Gak usah tegang gitu kenapa sih Ren."


"Gimana gak tegang sih Kar. Ini sudah jam sembilan lewat loh, kita sudah sangat terlambat masuk kantor. Aku gak mau ya nanti gajiku di potong gara gara telat begini." Renita nampak begitu cemas karena saat sampai kantor jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. pikirannya sudah kacau membayangkan akan di potong gajinya.


"Sudah tenang saja, gajimu gak bakalan kepotong kok, dan kita juga gak akan kena marah pak Kuswara, karena semalam aku sudah minta ijin ke beliau, dan beliau mengijinkan asal kita bersedia lembur hari ini."


"Apa? Lembur katamu, duh kenapa sih kamu gak bilang dari tadi." Renita memanyunkan bibirnya kesal ke arah Sekar yang justru ketawa melihat ekspresi sahabatnya.


"Iya, nanti kita lembur sampai jam delapan malam, sebagai ganti jam telat masuk kita."


"Ya ampun Sekar, kenapa sih kamu gak konfirmasi dulu sama aku. Jadi gagalkan acara kencan sama Calvin."


"Owh mau kencan toh ceritanya. Baiklah kamu boleh pulang duluan, dan biar aku yang handel kerjaan kamu, tapi Tas Emory dan uang lima ratus ribu nya aku tarik, gak jadi dapat traktiran dari aku."


"Apa? Tas Emory sama uang lima ratus, Kar? Beneran kamu mau kasih itu?" Renita melotot tak percaya kalau Sekar akan memberinya tas yang jadi impiannya juga ditambah dengan uang lima ratus ribu hanya untuk menemaninya mencari Bima.

__ADS_1


"Iya serius." jawab Sekar sambil terus berjalan menuju lift.


"Sekar tunggu, woy aku mau, aku mau. Biar nanti aku cari alasan ke Calvin. Kencan kan bisa ditunda lain hari." Renita berlari mengejar Sekar yang hampir masuk ke dalam lift. Sekar hanya geleng geleng dengan tingkah absurd sahabatnya.


__ADS_2