
"Mbak! Mbak Sekar!" teriak Rina dengan suara bergetar. Ada apa lagi dengan adikku itu, tidak biasanya dia teriak teriak apa lagi ini masih sangat pagi, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Iya, ada apa Rin. Masuk saja, pintu tidak di kunci kok." jawabku setengah berteriak karena aku sedang ada di dalam kamar mandi, sedang ambil air wudhu mau melaksanakan kewajiban dua raka'at sebelum memulai aktifitas hari ini.
"Mbak Sekar, ada dimana?" terdengar suara Rina sudah ada di dalam kamar, dan dia mulai mencari keberadaan ku. "Mbak di kamar mandi, tunggu sebentar, masih ambil air wudhu dulu." aku meneruskan niat untuk berwudhu, dan setelah selesai langsung keluar menuju kamar. Terlihat Rina sudah duduk di depan meja rias dengan wajah yang sembab, ada apa dengannya, kenapa perasaan ini langsung tidak enak.
"Ada apa Rin? kok kamu kayak nangis gitu?" tanyaku heran, dan adikku itu langsung mendongakkan wajahnya, air matanya sudah bercucuran sehingga suaranya seperti tersendat tak mampu berkata kata. Hatiku semakin tak karuan, rasa cemas mulai hadir. "Ada apa? jangan bikin mbak cemas gini." sekali lagi aku bertanya meminta penjelasan dari adikku yang masih sesenggukan dengan air mata yang belum juga mau berhenti mengalir.
"Mbak! itu.. itu, toko kita." ucapnya terbata dan masih dengan tangisnya yang semakin membuatku cemas, bahkan terlihat ibu juga ikut masuk ke dalam kamar dengan raut wajah bingung, mungkin ibu mendengar suara tangis Rina hingga beliau menyusul kemari. "Ada apa ini, kenapa dengan Rina? kok kamu nangis gitu, ada apa to Rin?" ibu mengeluarkan suaranya, terlihat wajahnya langsung cemas dan matanya menatapku sayu, seperti ingin meminta penjelasan. " Sekar juga gak tau Bu, Rina tiba tiba nangis, dan sempat menyebut toko, ada apa sebenarnya, Sekar juga bingung." jawabku jujur apa adanya.
"Ada apa to Rin, jangan nangis gini, bilang sama ibu dan mbakmu, biar kita tau dan selesaikan sama sama, ada apa dengan toko, apa ada masalah?" tanya ibu lembut dan mulai mendekat ke arah adikku, mengelus pundaknya lalu membawanya dalam dekapannya. Begitulah ibuku, selalu memberi rasa nyaman pada kami, setiap kami merasa dalam ketidakberdayaan.
__ADS_1
"Bu! Mbak!" Rina menatap bergantian pada ibu dan diriku, tangisnya sudah sedikit mereda, terlihat sekali adikku itu sangat tertekan, Ya Tuhan ada apa ini. "Tadi Rina setelah sholat, mau buka toko seperti biasa, tapi pas pintu terbuka, semua barang barang di toko sudah kosong, toko kita kemalingan Bu." huhuhuuu Rina kembali terisak. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini, kenapa toko tiba tiba kemalingan dan siapa yang sudah tega melakukan ini semua. Pantes saja Rina begitu histeris. Karena toko itu satu satunya yang menjadi tempatnya mencari rejeki dan kesibukan dengan keterbatasan yang dia miliki.
"Astagfirullah." aku dan ibu langsung mengucap istighfar. Bahkan ibu terlihat semakin memeluk anak bungsunya dengan erat, bahkan ibu juga ikut menangis, aku tau kesedihan yang dirasakan mereka, karena toko itulah, yang membawa hidup kami bisa hidup dengan layak tanpa kekurangan.
Meskipun aku juga shock, tapi aku berusaha tetap kuat, demi menjaga hati ibu dan adikku biar tidak tertekan dengan keadaan ini, bagiku mudah untuk mengembalikan modal toko itu kembali, tapi aku tidak akan tinggal diam, akan aku cari siapa yang sudah berani berbuat hina dengan mencuri keringat orang lain.
"Sudah, jangan sedih dan terpuruk. Anggap ini ujian kesabaran untuk kita, Rina cepat lapor ke pak RT biar warga juga membantu mengusut pencurian ini, lagi pula di komplek kita terpasang Cctv, biar nanti kita teruskan laporan ke kantor polisi. Semoga pencurinya segera tertangkap. Sudah jangan menangis lagi, kita kuat dan mbak gak akan diam saja, mbak akan memberikan modal buat kamu mengelola toko lagi, tapi tunggu dulu sampai toko dan rumah kita di renovasi sesuai dengan saran mas Raihan kemarin, dan kita juga akan menempatkan petugas keamanan di rumah dan toko." jelas ku panjang lebar, agar adik dan ibuku tidak merasa sedih dan bersalah dengan apa yang terjadi.
"Rina, itu bukan salahmu. Ini sudah jadi garis takdir yang harus kita jalani hari ini, bisa jadi ini ujian untuk kita, agar lebih bersabar dan berhati hati lagi. Sudah, jangan terus salahkan dirimu. Lebih baik sekarang kamu ke rumah pak RT di temani ibu, buat melapor. Mbak akan sholat dulu, dan akan menghubungi mas Raihan untuk membantu mengurus ini."
"Baik mbak, Bu ayo kita ke rumah pak RT." ibu dan Rina langsung bergegas ke rumah pak RT, sedangkan aku memilih meneruskan niat untuk melaksanakan kewajiban dua rakaat yang sempat tertunda. Semoga Alloh memberi kemudahan di setiap langkah yang akan aku tempuh dengan ridhoNYA, Aamiin.
__ADS_1
Saat aku keluar rumah, sudah banyak tetangga yang berkumpul, dan terlihat pak RT juga pak RW ada di sana bersama ibu dan Rina. Bahkan terlihat Pak Babinsa juga datang, aku melangkah mendekat, melihat keadaan toko yang sudah kosong, hanya ada sedikit barang yang tersisa. Astagfirullah.
Aku menyapa semua yang ada di halaman rumah dan toko dengan ramah, terlihat pak RT juga langsung menghampiri ke arahku. "Mbak Sekar, sebaiknya kita periksa rekaman di Cctv di rumah saya, kebetulan juga ada pak RW dan pak Babinsa. Tadi saya sengaja menelpon beliau, agar bisa membantu meneruskan laporan ke kantor polisi. Ini pencurian besar, dan pelakunya harus tertangkap dan dihukum, biar tidak meresahkan warga yang lain." terang pak RT secara gamblang dan tegas.
"Baik pak, karena kerugian ibu juga tidak sedikit, saya berharap pencurinya segera tertangkap." balasku tegas.
Saat aku dan para petinggi desa mau menuju ke rumah pak RT untuk melihat rekaman cctv, terlihat mobil mas Raihan mendekat, lelaki tampan yang menggunakan kaos warna biru muda yang di padu celana jins biru tua, terlihat turun dan berjalan ke arah kami dengan gagahnya, wajahnya terlihat menegang, jelas sekali gurat kekhawatiran terpancar di wajah bersihnya.
"Mas." sapaku sedikit dengan suara bergetar menahan perasaan yang dari tadi sudah campur aduk. Mas Raihan nampak mendekat dan menganggukkan kepala, tanda dia paham dan menunjukkan kalau siap jadi pelindung.
"Mau kemana?" tanyanya tegas dengan menatapku iba.
__ADS_1
"Ke tempat pak RT untuk melihat cctv sebelum meneruskan laporan pada pihak berwajib." jawabku singkat. "Baiklah, aku akan temani kamu, kita hadapi sama sama, aku janji tidak akan biarkan pencurinya lolos." seulas senyum menenangkan terukir di wajah laki laki penuh kharisma yang selalu memandangku dengan binar cinta. Akupun mengangguk, dan kami melangkah bersama menuju ke kediaman pak RT. Semoga dari rekaman cctv kita mendapatkan bukti hingga bisa segera menangkap pelaku pencurian.