
Selama empat belas jam di perjalanan cukup membuat tubuh Sekar pegal semua, mobil mewah milik Reihan memasuki halaman rumah Bu Fatimah yang luas.
Bu Fatimah sengaja menunggu kepulangan anak dan menantunya di depan, duduk di kursi teras bersama Rina yang sudah berubah jadi gadis yang cantik dan manis.
Sekar meminta Rina untuk melakukan perawatan Rutin, dan Alhamdulillah dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, Rina sudah berubah jadi gadis cantik, dan memiliki kulit yang kembali mulus. Uang dapat merubah segalanya menjadi apapun yang di inginkan.
"Asalamualaikum." Sekar dan Reihan mengucap salam berbarengan dan disambut Bu Fatimah haru. Melihat putrinya sehat dengan perut semakin terlihat besar membuat Bu Fatimah bahagia, dengan penuh rasa rindu, Bu Fatimah menggandeng anak sulungnya masuk ke dalam rumah yang di ikuti Reihan dari belakang, sedangkan Rina sudah lebih dulu masuk dan membuatkan minum buat kakak dan suaminya.
"Wah enak ini, pisang gorengnya gak pernah ketinggalan kalau di sini mah." sambut Reihan yang langsung mencomot pisang goreng yang tersaji di atas meja. Masih anget dan terasa sangat nikmat.
"Iya, kan itu kesukaan Sekar. Tiap hari makan pisang goreng gak bakalan bosan anak ibu yang satu ini." Sahut Bu Fatimah sumringah.
"Kalian istirahat saja dulu habis ini, tapi makan dulu ya, tadi ibu sudah buatkan sambal Pete sama rendang juga opor ayam. Tinggal pilih mau makan yang mana." sambung Bu Fatimah dengan terus menggandeng tangan Sekar.
"Banyak sekali Bu masaknya." Reihan menimpali ucapan ibunya dengan candaan dan disambut tawa renyah dari bibir para perempuan yang ada di dalam rumah.
"Bilang sama sopir kamu, suruh ikut makan juga." Bu Fatimah meminta menantunya untuk memanggil sopirnya agar ikut makan sekalian.
"Tadi Rina sudah bilang ke pak sopir, tapi katanya mau makan bareng sama satpam di luar. Ya Rina bawakan saja makanannya ke teras samping, sekalian sama pak satpam juga." sahut Rina menimpali ucapan ibunya.
"Oh yasudah, kopinya juga sudah kamu buatkan Rin?" sambung Bu Fatimah menatap putri bungsunya yang terlihat semakin cantik.
"Sudah buk! Tadi yang bikinkan mbak Asih kok, sama pisang goreng juga bakwannya. Pokoknya lengkap, ibu tenang saja ya." balas Rina menjelaskan dengan gamblang kepada ibunya yang tersenyum, menyadari betapa cerewetnya dia.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Sekar dan Reihan masuk ke dalam kamar yang dulu ditempati Sekar. Sedikit berubah, karena Bu Fatimah sudah mengganti perabotan di dalamnya, dan juga sudah mengganti warna cat nya, agar tidak ada bekas Bima yang tertinggal di sana. Katanya sih begitu.
Kasur ukuran besar dengan model keluaran terbaru yang seharga sepuluh jutaan tertata rapih di dekat tembok yang menghadap ke arah jendela.
Lemari jati tiga pintu, meja rias dengan model terbaru lengkap dengan lampu lampu riasnya, tivi ukuran empat puluh satu inci melengkapi isi dalam kamarnya Sekar yang terlihat lebih segar dengan chat warna biru muda.
"Wah, ibu sudah mengganti semua isi di kamar ini dengan yang baru, begitu perhatiannya ya ibuku mas, Alhamdulillah, aku bersyukur banget memiliki ibu sehebat dan sebaik ibuku." ucap Sekar saat memasuki kamarnya. Raihan menanggapinya dengan senyuman, dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, penuh dengan cinta.
"Iya sayang, jangan lupa terus sematkan doa kebaikan untuknya ya." Raihan mengecup lembut pipi Sekar yang merona.
"Kita istirahat dulu, karena aku mau, nanti berkunjung ke butik, lama gak melihatnya, jadi kangen suasananya." balas Sekar manja dan membalikkan tubuhnya menatap pada suaminya yang juga menatapnya.
"Kamu capek? Mas pijitin ya?" sambung Reihan dengan mengerlingkan satu matanya yang membuat Sekar paham kemana arah tujuannya.
"Justru itu obatnya capek sayang. Olah raga yang bikin kita kembali fresh, dan habis itu ngantuk terus tidur, bangun tidur badan kembali segar. Gimana?" Reihan mengedipkan matanya dan disambut kekehan manja sang istri.
"Aku bisa apa? selain patuh dan mengiyakan keinginan suamiku, hmm?" jawab Sekar pura pura tepaksa dan membuat Reihan semakin gemas dengan ekspresi istrinya.
"Jadi dipijit?" Reihan menggoda sang istri yang langsung paham dan meminta ijin untuk ke kamar mandi membersihkan diri terlebih dahulu.
"Aku ke kamar mandi dulu ya mas, bersih bersih dulu, habis dari perjalanan jauh, keringetan." Sekar mencari alasan yang disambut kekehan oleh Reihan. "Gerah apanya sayang, kan mobilnya full AC, hmm."
Sekar tertawa dan melangkah ke kamar mandi, sebelumnya mengambil baju dinasnya terlebih dahulu. Sedangkan Reihan lebih memilih untuk berganti baju yang lebih santai. Hanya mengenakan celana kolor dan bertelanjang dada.
__ADS_1
Dada bidangnya yang putih terlihat sempurna.
"Sayang, masih lama ya." Reihan seolah tak sabar menunggu Sekar yang sedang di kamar mandi.
"Sudah selesai, Mas. Gak sabaran amat sih." tiba tiba Sekar muncul dengan memakai lingerie warna hitam yang memperlihatkan tubuhnya yang seksi.
Dengan perut buncitnya Sekar semakin terlihat begitu menggoda di mata Reihan. Dengan susah payah Reihan menelan salifa nya. Menatap tanpa kedip wanita yang ada di hadapannya.
"Aku selalu jatuh cinta saat melihatmu seperti ini sayang, kamu memang perempuan tercantik yang pernah aku lihat, dan satu satunya wanita yang bisa membuatku jatuh cinta sedalam ini." bisik Reihan dengan membawa Sekar ke dalam pelukannya. Kecupan mesra mendarat di pipi Sekar yang sudah merona, dan berhenti di bibir tipis milik Sekar, dengan penuh cinta Reihan ******* bibir istrinya penuh gairah dan disambut Sekar, hingga beberapa menit mereka menghabiskan waktu untuk saling berbagi nafas.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul empat sore, Sekar terbangun dari tidurnya dan terlihat Reihan masih tertidur pulas di balik selimutnya tanpa sehelai kain pun. Sekar tersenyum menatap wajah suaminya yang begitu teduh. Bersyukur menjadi pendamping pria yang begitu mencintainya. Kehidupan rumah tangga yang selalu jadi impian Sekar terwujud bersama seorang Reihan. Laki laki yang penuh pesona di mata semua wanita. Pengusaha muda, tampan, paham agama, dan memiliki bisnis di mana mana.
"Sayang, bilang aja kalau mau nambah lagi, jangan lihat suami kamu terus kamu senyum senyum sendirian. Yuk kalau mau lagi." tiba tiba Reihan bersuara dengan mata yang masih terpejam. Sekar tertawa dengan tingkah suaminya.
"Itu mau kamu, mas! Nanti aja, aku mau mandi dulu, Mas bangun gih, udah jam empat ini, belum ashar kan?" Sekar mengingatkan suaminya dan membuat Reihan langsung membuka matanya lebar.
"Astagfirullah, kok gak di bangunin dari tadi sih sayang. Untung masih ada waktu." sahut Reihan dan langsung bangun dari tidurnya.
"Aku kan juga baru bangun, Mas! hmmm!" balas Sekar dengan memanyunkan bibirnya.
Reihan terkekeh dan mengajak istrinya untuk sekalian mandi bareng.
__ADS_1