
setelah kepergian pakdhe, nampak hari hari budhe terlihat murung, senyuman yang biasanya selalu terukir kini begitu jarang terlihat, meskipun demikian, kesehatan budhe semakin membaik, wajar saja, jika budhe masih merasa sangat kehilangan, karena mereka sudah mengarungi bahtera rumah tangga puluhan tahun, meskipun banyak cerita yang tercipta hingga luka yang masih menganga, namun sebagai seorang istri, budhe begitu tulus dan patuh pada suaminya, hingga kepergiannya menyisakan duka yang begitu dalam.
aku hanya bisa menguatkan, lebih mengajaknya untuk dekat dengan yang maha kuasa, merangkulnya dengan cinta dan perhatian layaknya anak kepada ibunya, aku ingin budhe lekas baik baik saja, agar saat aku kembali meneruskan studiku, hati ini tenang meninggalkannya tanpa banyak beban.
waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah delapan bulan pakdhe meninggalkan kami dan budhe juga sudah mulai ceria dan bersikap kembali wajar, senyumnya terhias lagi dibibir tipisnya, meskipun rambut memutih dan kulit mulai mengeriput, kecantikan budhe seolah tak pernah pudar.
dengan bekal harta yang diwariskan pakdhe padaku, aku berani kembali meneruskan cita citaku, meraih pendidikan tertinggi, meskipun aku terlahir dari rahim wanita miskin, aku harus bisa meraih gelar sarjanaku dan membuat wanita tangguhku tersenyum bangga padaku.
__ADS_1
rumah yang pakdhe wariskan, kebetulan berada jauh dari rumah yang kami tempati pun dengan sawah, hingga tidak ada yang tau dan curiga saat aku menjual rumah tersebut, dan untuk sawah memang sudah digarapkan sama orang kepercayaan pakdhe dengan sistem bagi hasil, dan aku tinggal meneruskan saja, rumah memang sengaja aku jual, dan uangnya aku simpan di bank, karena aku berencana untuk menggunakan uang itu, buat merenovasi rumah ibu juga nanti untukku membuka usaha saat aku sudah lulus kuliah, untuk biaya kuliah uang tabungan dari pakdhe dan tabungan yang aku kumpulkan sendiri, insya Alloh sudah sangat cukup bahkan lebih, apalagi mengingat kalau om huda dan mas akhir pernah bilang akan membiayai kuliahku nantinya, tapi aku tak mau banyak berharap, karena mas akhir sudah berumah tangga dan memiliki tanggung jawab kepada keluarganya pun dengan om Huda, aku hanya ingin berdiskusi saja masalah kuliahku dengan mereka, karena bagaimanapun, mereka adalah orang orang penting dalam hidupku dan sudah banyak berjasa dalam kehidupan ku.
saat aku mengutarakan niatku untuk kembali melanjutkan studi, mas akhir, om huda dan budhe begitu mendukung, bahkan mas akhir maupun om huda langsung menyanggupi untuk menanggung biaya selama aku kuliah, diantara semua keluarga begitu antusias dan mendukung, hanya mba Irma yang nampak acuh tanpa respon apapun dan entah kenapa aku merasa pandangan mata istri Om akhir tidak begitu suka padaku, Tuhan ampuni prasangka yang ada dihatiku, semoga prasangka ini salah, astagfirullah.
om akhir ingin aku kuliah di Surabaya saja, selain bisa mengawasi juga biar bisa satu kampus, tapi aku dengan sopan dan halus menolaknya, aku mengutarakan keinginanku untuk melanjutkan kuliah di malang saja dengan alasan itu impianku selama ini, padahal itu hanya alasanku saja, memang aku ingin kuliah di malang, tapi disurabaya pun tak jadi masalah sebenarnya, semua tergantung dari bagaimana kita berniat untuk mewujudkan impian, dikampus manapun tak jadi soal.
setelah diskusi panjang lebar dan dengan debat yang tidak mudah, akhirnya semua sepakat jika aku meneruskan kuliah di salah satu unervesitas di malang, dan kebetulan om huda memiliki banyak kenalan disana, jadi aku bisa kos disalah satu tempat temannya om huda dan kebetulan kusus kos untuk wanita, tak hentinya aku terus melafazkan kalimat kalimat syukur karena Alloh telah menempatkan aku berada di tengah orang orang yang begitu perduli denganku dan tulus menyayangiku meskipun aku hanya saudara dari anak wanita miskin.
__ADS_1
sebelum berangkat ke malang, aku lebih dulu pulang kerumah ibu, meminta doa dan restunya, agar jalanku dimudahkan berkat doa doanya, karena doa seorang ibu pasti didengar olehNYA dan restunya insya Alloh menjadi cahaya dalam setiap langkahku.
dan tidak hanya itu saja, aku juga mangutarakan niatku untuk merenovasi rumah yang ibu tempati agar lebih layak untuk ditempati dan rencananya juga akan membangun toko kecil kecilan di depan rumah, agar bisa dikelola ibu juga Rina, mendengar niatku, ibu langsung memelukku sambil terisak, ada sedih juga bahagia dalam isakan tangis kami, dan insya Alloh akan terus menjadi jalan untuk hidup yang lebih baik.
Tak terasa aku sudah menjadi mahasiswi tingkat akhir, dengan perjuangan yang tak mudah, meskipun om huda dan mas akhir membantu biaya kuliahku, aku tak mau berpangku tangan dan bersantai ria, aku bekerja paruh waktu sesuai dengan jadwal ngampusku, dan selalu tekun juga fokus pada materi materi perkuliahan ku, sehingga tak heran aku selalu meraih nilai yang memuaskan, bahkan saat aku harus membuat skripsi semua juga tak luput dari bantuan kedua lali laki baik ku, om huda dan mas akhir, hingga aku bisa lulus dengan nilai terbaik, Masya Alloh sungguh luar biasa nikmat yang Alloh berikan, bahkan tawaran tawaran pekerjaan pun begitu banyak, hingga aku bingung harus bagaimana, karena di hati terbesit niat untuk membuka usaha sendiri.
#hidup memang penuh dengan warna, dan dari sekian banyak warna, tentu kita ikut andil dalam memilihnya, mau yang kelam, atau yang ceria, tergantung bagaimana kita memilih dan menggoreskan warna itu disetiap titik nadi kehidupan yang kita jalani.
__ADS_1