
"Aku sumpahin hidupmu tak baik baik saja. Dasar sombong dan tak tau cara menghargai orang tua. Dasar perempuan jahat!" Bu Patmi berhenti di hadapan Sekar dan melontarkan kalimat hinaan untuk Sekar. Namun justru Sekar cuek dan tak mengindahkannya sama sekali.
"Hust hust, pergi! bosen aku lihat wajah benalu !" balas Sekar meremehkan dan langsung di peluk Reihan untuk menenangkan kemarahan sang istri.
"Sudah! jangan kotor lisan dan hati kamu karena orang orang seperti mereka. Istighfar!" dengan lembut Reihan mengingatkan sang istri dan Sekar langsung Istighfar menyadari kesalahannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Rina menatap kosong kearah jendela kamarnya, merenung dengan apa yang baru saja terjadi. Ya, memang cinta sepenuhnya belum menguasai hatinya, namun Rafiq orang pertama yang bisa membuatnya merasa jatuh cinta. Namun kenyataan sudah mematahkan harapannya.
"Rin!" Sekar menghampiri Rina yang tengah melamun di kamarnya, Sekar berusaha mengerti akan luka yang mungkin kini dirasakan oleh adiknya dari kegagalan pertunangannya.
"Kamu baik baik saja kan?" Sekar menatap adiknya dengan tatapan menyelidik dan mengambil kursi lalu duduk dihadapan sang adik yang tengah memaksakan diri untuk bisa tersenyum, seolah dirinya baik baik saja.
"Kamu menyesali ini?
Apa kamu kecewa karena tidak jadi bertunangan dengan laki laki itu, Rin?" sambung Sekar mencari jawaban dari bibir sang adik yang terlihat bergetar menahan isakan.
"Iya mbak! Rina menyesal dan kecewa. Tapi bukan karena tidak melanjutkan pertunangan, tapi karena Rina merasa bodoh dan tidak hati hati sehingga bisa berurusan dengan keluarga benalu itu.
__ADS_1
Rina justru bersyukur, Rina tau siapa Rafiq dan keluarganya sebelum kami menikah dan keadaan mbak Sekar dulu dengan mas Bima tidak terulang pada Rina.
Entahlah, Rina ngerasa aneh saja, malu dan gimana gitu rasanya ini!" Rina mengutarakan perasaannya pada kakaknya dan Sekar bisa memahami kegalauan adiknya dan menenangkannya dengan pikiran bijaknya.
"Sudah, gak usah malu atau mikir macam macam.
Bersyukurlah, mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan kamu dari keluarga seperti mereka. Kamu orang baik, insyaallah akan bertemu jodoh yang baik pula.
Sembuhkan hatimu dulu, dan buka kembali untuk laki laki seperti Reza, mbak harap kamu bisa menerimanya nanti. Dia laki laki yang baik, sopan dan paham agamanya. Dia lebih kayak untukmu daripada keluarga dari mas Bima yang hanya di otaknya cuma ada harta dan harta." balas Sekar memberikan nasehat sekaligus mengajukan Reza sebagai pilihannya untuk sang adik.
Rina tersenyum dan menunduk dalam.
"Insyaallah, kalian sama sama baik. Saling kenal dulu dan saling memahami juga menerima insyaallah kalian bisa melewati setiap ujian rumah tangga nantinya. Kalau kamu dan Reza benar benar menikah, maka Reza akan terjadi nggak di Kediri menjagamu dan ibu, juga membantu kamu mengurus usaha yang ada disini.
Percayalah, mbak juga mas Reihan sangat mengenal siapa Reza, dia akan jadi suami yang baik untukmu." sahut Sekar yakin dan percaya jika Rina akan berada ditangan yang tepat jika menikah dengan asisten suaminya.
"Rina percaya sama pilihan mbak Sekar. Insyaallah Rina akan patuh dengan apa katamu mbak!" balas Rina tersipu dan memasrahkan jodohnya pada kakak kesayangannya.
"Alhamdulillah, itu artinya kamu setuju dan mau menerima Reza, benar begitu?" sahut Sekar memastikan dengan senyuman mengembang.
__ADS_1
"Iya! Rina yakin, kalau pilihan mbak Sekar itu pasti yang terbaik buat aku. Bismillah!" balas Rina dan memberanikan diri menatap kembali ke arah kakaknya yang tengah tersenyum.
"Insyaallah, ini yang terbaik buat kamu dan buat kita semua!" balas Sekar dan memeluk adiknya dengan lembut.
"Sudah jangan sedih dan mikir macam macam lagi, tatap masa depan kamu dan mulai susun kebahagiaan dengan orang yang tepat, Reza sudah menaruh rasa pada kamu sejak lama, karena kamu adikku, dia tidak punya nyali untuk mengatakan, sekarang tidak ada lagi alasan untuk diam, karena mas Reihan pun juga sudah memberinya lampu hijau. Siap siap ya, dilamar cowok ganteng dan Sholeh!" sahut Sekar yang membuat Rina merona dan tersipu oleh jawaban kakaknya.
"Bagaimana dengan ibu?
Apa mbak Sekar sudah membicarakan ini sama ibu?" balas Rina menatap kakaknya yang begitu santai menanggapi pertanyaannya.
"Kamu tenang saja, yang penting itu kamu. Untuk ibu biar aku yang nanti bicara, dan yakin ibu pasti setuju, ibu juga sudah mengenal Reza cukup lama, tentu bisa menilai seperti apa Reza. Santai!" sahut Sekar meyakinkan keraguan sang adik yang langsung tersenyum dengan jawabannya.
"Aku percaya sama mbak Sekar, terimakasih ya mbak! Mbak Sekar selalu ada buat aku!" sahut Rina yang begitu memuja kakaknya.
"Itulah saudara, kamu adikku dan tentu kebahagiaan kamu adalah tanggung jawabku juga. Terlebih aku sangat menyayangi kamu!" balas Sekar dengan menatap dalam wajah sang adik.
"Yasudah, mbak keluar dulu ya, mau bicara sama mas Reihan dan meminta sarannya juga. Kamu siapkan hati saja, mulailah belajar menerima Reza. Dia ganteng loh!" sambung Sekar dan langsung berlalu dari hadapan sang adik yang terlihat salah tingkah.
"Makasih mbak, terimakasih banyak. Aku akan terus melangit kan doa untuk kebahagiaan kamu, Kamu sudah banyak berkorban untuk aku selama ini, bahkan sudah menyelamatkan ku dari laki laki seperti Rafiq yang ternyata hanyalah mengincar harta saja." Rina bergumam lirih sambil menatap punggung sang kakak. Cintanya semakin besar untuk wanita yang begitu banyak berkorban untuknya sejak dulu.
__ADS_1