Sekar Arumi

Sekar Arumi
Balasan akan sesuai dengan perbuatan


__ADS_3

"Boleh, nanti juga biar dibantu ibu ibu yang lain, kapan kamu masaknya?" balas Mak Pik yang di iyakan ibu ibu yang lainnya. "Besok saja gimana, karena aku belum belanja untuk itu, besok mbak April ikut temani belanja ke pasar ya, beli bahan bahan yang dibutuhkan." sahut Bu Patmi sumringah, dalam hatinya berkata, kalau syukuran tidak akan menghabiskan uangnya, paling hanya menghabiskan lima ratus sampai enam ratus ribu saja, tidak perlu banyak banyak cukup membuat tiga puluh kotak nasi saja.


Setelah hampir seharian menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol yang kebanyakan ghibah nya, ibu ibu pamitan pulang ke rumah masing-masing. Bu Patmi merasa puas, karena sudah berhasil membuat tetangganya kagum dan memujinya.


"Sudah sore begini, kemana saja Bima, kok belum juga pulang." Bu Patmi bergumam sendiri memikirkan keberadaan anak laki lakinya. Dengan memasuki rumah, Bu Patmi mengeluarkan ponsel dari saku dasternya, mencari nomor Bima, lalu memencetnya, tak berselang lama sambungan terhubung, dengan cepat Bima langsung menjawab telepon ibunya.


"Hallo, kamu lagi ada dimana Bim? kok belum pulang jam segini, ibu jadi kepikiran." sambung Bu Patmi cepat saat sambungan telepon di angkat sama Bima.


"Ibu tenang saja, buka lagi merayakan keberhasilan Bima, Bima sudah bikin Sekar menderita." Sahut Bima percaya diri, dipikirannya, Sekar sedang kesakitan saat ini, pasti Sekar sangat menderita karena kiriman guna guna yang dikirimkan dukun yang di datangi Bima.


Kata Mbah Parto guna gunanya sudah bekerja, dan Sekar sedang menerima siksaan dari setan yang dikirimkan oleh dukun kampung yang terkenal dengan santetnya.


"Yang benar kamu, Bim? Ibu kok bahagia sekali ya mendengarnya, ibu jadi bayangin Sekar itu sekarang sedang sekarat, duh ibu jadi gak sabar mendengar kabar Sekar sekarang." sahut Bu Patmi semangat dan bayangannya melayang pada Sekar yang kesakitan, seringai puas terpancar di wajah keriputnya. "Rasain kamu perempuan sombong." umpat Bu Patmi senang.


"Sudah ya Bu, Bima mau melanjutkan acara dengan teman teman, lagi ngumpul merayakan kebahagiaan Bima sekarang, ibu tidak usah masak, karena Bima akan pulang malam." sambung Bima pasti dan suaranya terdengar sumringah.

__ADS_1


"Yasudah, kalau begitu ibu beli saja buat makan malam. Owh iya, besok ibu akan bikin acara syukuran kecil kecilan dirumah, biar tetangga tau kalau kita tidak lagi hidup susah, ibu bilang kamu sudah mendapat pekerjaan yang gajinya gede." sambung Bu Patmi semangat dan berapi api.


"Terserah ibu saja, pokoknya Bima ngikut saja apa yang ibu atur." sahut Bima santai dan menutup telponnya setelah mengucapkan salam.


"Inilah balasan buat orang yang sudah menginjak nginjak harga diri anakku, Sekarang pasti kamu seperti cacing kepanasan bahkan lebih dari itu, selamat menikmati penderitaan mu, Sekar. Duh senang sekali rasanya." Bu Patmi bicara sendiri sambil senyum senyum membayangkan Sekar menderita karena ulah anaknya.


Tanpa mereka sadari, guna guna itu sudah tidak berpengaruh saja sekali ditubuh Sekar, karena Raihan sudah berhasil membuangnya, dan bahkan Raihan langsung bergerak cepat, dengan memagari rumah Sekar agar tidak bisa di masukin kiriman ghaib dari orang orang yang punya niat jahat untuk mencelakakan Sekar dan keluarganya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Saya pamit pulang dulu, ingat apa yang saya sampaikan tadi, jangan dulu keluar rumah karena aku hanya bisa memagari rumah ini dari depan saja, dan jangan dulu menerima tamu, siapapun itu, apa lagi dari keluarganya mantan suami kamu. Hati hati dengannya, dia menyimpan dendam pada keluarga ini. Dan besok akan ada orang yang memasang pagar buat teras depan dengan yang lebih tertutup. Insyaallah akan menambah keamanan nantinya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungiku." Raihan bicara panjang lebar sebelum pergi, sebenarnya tidak tega meninggalkan Sekar dalam keadaan yang belum sepenuhnya sehat, tapi Raihan tidak mau kehadirannya justru menimbulkan fitnah karena status Sekar yang janda dan belum habis masa Iddah nya. Dengan sebisa mungkin Raihan ingin melindungi Marwah wanita yang sangat dicintainya itu.


"Iya, Mas. Terimakasih ya, maaf kalau aku sudah membuatmu jadi repot begini." balas Sekar merasa tidak enak, tubuhnya sudah agak mendingan, hanya sedikit lemah saja.


"Bersabarlah sebentar lagi, saya akan melindungi mu sepenuhnya, setelah masa Iddahmu selesai, saya akan segera menikahi kamu, kita akan hadapi sama sama, dan saya berjanji tidak akan melepaskan laki laki itu, karena dia sudah berani menyakitimu." balas Raihan tegas, dengan menundukkan pandangannya, karena Raihan paham, jika pandangannya akan menimbulkan dosa dari zina Mata dari wanita yang belum halal untuknya.

__ADS_1


"Iya mas, terimakasih banyak." Sekar tak lagi mampu berkata kata lagi, hatinya mendadak sendu, terharu dengan sikap laki laki dihadapannya, yang begitu menghargai dan menjaga dirinya dengan begitu tulus.


Setelah berpamitan pada semua, Raihan pergi meninggalkan rumahnya Sekar, dan rina langsung mengunci pintunya rapat. Gadis pendiam itu sangat takut, kalau kalau Bima akan kembali datang dan membuat masalah yang lebih parah lagi.


"Besok minta tolong sama Murni saja, buat belanja kebutuhan stok di dapur. Kamu kirim pesan ke murni sekarang, Rin." perintah Bu Fatimah pada anak keduanya, dan Rina Tania banyak bertanya langsung melakukan apa yang ibunya suruh.


"Sudah, Bu. Besok pagi, murni akan kesini. Biar aku mencatat apa apa yang nanti akan di beli." sambung Rina memberitahu ibunya yang langsung mengangguk kecil mendengar penuturannya.


"Aku masuk ke kamar dulu ya, kepalaku masih pusing." pamit Sekar yang langsung kembali ke kamarnya dan di ikuti bu Fatimah.


"Ibu ikut juga?" Sekar menoleh ke arah ibunya yang tepat berada di belakangnya.


"Iya, ibu akan menemani kamu tidur, ibu masih gak tega, takut terjadi apa apa sama kamu lagi, nduk. Jangan lupa terus berdoa ya." Bu Fatimah mengusap lembut bahu anak perempuannya. Tatapan sendu penuh cinta terlihat begitu nyata dari sorot matanya.


"Makasih ya Bu, maafkan Sekar, sudah membuat ibu cemas." bakas Sekar menunduk, ada tetes bening yang jatuh ke pipinya.

__ADS_1


"Sudah! ini sudah jadi ujian yang harus kita lalui, percayalah, tidak ada satu kejahatan pun yang bisa bertahan lama, suatu saat mereka akan menuai akibat dari perbuatannya. Pasrahkan pada Alloh, nduk. Iklas!" tutur Bu Fatimah penuh kelembutan, direngkuhnya tubuh Sekar dengan penuh kasih sayang. "Istirahatlah! ibu akan menjagamu dengan doa doa ibu." sambung Bu Fatimah dan menuntun Sekar berbaring di atas kasur empuknya.


__ADS_2