
"Aku tidak terima! jangan seenaknya kamu menendang ku begitu saja. Dan untuk harta gono-gini, aku juga berhak mendapatkan sebagian dari apa yang kamu punya, karena itu sudah menjadi harta bersama selama kita menikah."
"Jangan mimpi kamu Mas. Ingat, jatuh itu sakit. Harta yang mana yang kamu maksud Mas? Bukankah kamu masuk kerumah ini hanya membawa baju di badan saja. Bahkan selama aku jadi istrimu, mana pernah kamu kasih aku uang nafkah. Yang ada justru kamu selalu meminta uangku dengan dalih meminjam, boro-boro dikembalikan, justru kamu dengan tidak tau malunya sudah mencuri uang ibu dan juga perhiasannya. Jadi berhenti bermimpi dari pada kamu jatuh, sakit dong."
"kurang ajar kamu, Sekar!. Mas Bima mulai tersulut emosi, mukanya merah padam. Kilatan amarah terlihat jelas dari rahangnya yang mengeras, yang di iringi dengan nafasnya yang memburu. Laki laki di hadapanku ini, selain tidak tau malu. Dia juga tipe orang yang menghalalkan semua cara, demi untuk memenuhi ambisinya. Sumpah demi apapun, aku sangat menyesal pernah berurusan dengan laki-laki ini.
"Kenapa Mas? Kamu tidak terima?" aku berdecih dengan tatapan sinis mengarah pada pria di hadapanku. Alih-alih takut, justru aku sangat menikmati kemarahannya. Ingin tau sejauh mana dia akan berbuat.
"Lebih baik, kamu berkaca dan introspeksi diri sebelum melakukan sesuatu. Untung aku tidak melaporkan kamu ke kantor polisi, tapi jika kamu membuat ulah lagi, tak segan aku akan melaporkanmu, bukti-bukti kejahatan yang lakukan di rumah ini masih tersimpan rapi. Jadi jaga batasanmu, Bima."
Mas Bima tampak membulatkan mata, dan kedua tangannya mengepal erat, aku tau dia sedang menahan dirinya dari amarah. Pemandangan yang indah, membuatnya tak berkutik hanya dengan satu gertakan.
"Keterlaluan kamu Sekar. Tidak ku sangka kamu lebih licik dari yang aku duga. Semua punya aturan dan hukum. Harta Gono-gini harus bisa terbagi adil. Apa yang menjadi milikmu, juga menjadi milikku, hitung berapa persen kekayaanmu selama kita menikah, lalu kita bagi dua. Adil bukan? Dan, aku pastikan, aku akan pergi setelah mendapatkan hakku." Aku tertawa sampai mengeluarkan air mata. Bagaimana tidak, dengan gamblangnya mas Bima menyebutkan tentang harta Gono gini, sedangkan tidak sepeserpun ada hartanya disini. Semua ada sebelum jauh aku mengenalnya. Dan untung saja, rumah juga toko di sini semua masih atas nama ibu. Sedangkan butik yang baru saja aku rintis, terbeli setelah ketuk palu. Jadi, mau dia jungkir balik mencari pembenaran dan pembelaan tidak akan sedikitpun ada yang membenarkannya. Kasihan sekali kamu Bima.
__ADS_1
"Licik? Kamu bilang aku licik Mas?
Gak salah dengar aku? harusnya kata kata itu kamu tujukan pada dirimu sendiri. Bukankah kamu menikahi ku bertujuan untuk menumpang hidup padaku, karena kamu tau kalau aku kaya. Tapi kamu salah Bima. Rumah ini meskipun aku yang membangunnya dan juga toko sembako di depan sana, semua itu masih atas nama ibuku. Jadi apa yang ingin kamu gugat?
Lagian aneh kamu, datang hanya bawa baju dan tubuh saja kok sok sok an, mau minta harta Gono gini, sehat kamu?"
"Jaga mulutmu, dasar perempuan gila. Untung saja Kalian sudah berpisah, tak Sudi aku punya mantu mulut comberan kayak kamu." tuding ibu mantan mertua padaku. Dadanya naik turun dengan mata melotot.
"Dasar perempuan kurang ajar." Bima melayangkan tangannya ingin menamparku, tapi sebelum mengenai wajah mulus ku, ada tangan lain yang menghalaunya. Mas Raihan menatap nyalang ke arah Bima. Wajah tampannya terlihat begitu menyeramkan.
"Jangan sekali kali tangan kotormu menyentuh calon istriku, Bima. Akan aku pastikan kamu mendekam di penjara dalam kurun waktu yang tak bisa ditentukan. Kamu tau kan, uang bisa membeli segalanya. Dan tentu aku punya itu. Aku harap kamu masih mengenaliku." Dingin dan tegas itulah yang terlihat sosok pria kharismatik yang saat ini berdiri tegap di depanku. Tubuh tegapnya seolah ingin melindungi diri ini. Mas Raihan datang di waktu yang tepat, di saat aku butuh sosok seseorang yang bisa melindungi ku dari laki laki gila yang pernah menjadi suamiku itu.
"Owh, ternyata kecurigaan ku selama ini benar. Kalian sudah berselingkuh di belakangku. Pantesan, kamu ngotot ingin bercerai dariku. Perempuan murahan!" tuduh Bima tanpa mau menoleh pada dirinya sendiri. Tidak ada satupun wanita yang mau hidup dengan laki laki pemalas sepertinya, tidak bisa mencukupi bahkan sudah menjadi benalu tapi sok menuntut untuk dihargai. Ora Sudi!
__ADS_1
"Jaga mulutmu Bima, sebelum bicara sebaiknya kamu berkaca. Hanya wanita bodoh yang mau bertahan pada laki laki sepertimu. Sudah tidak sanggup memberi nafkah, kerjanya malas malasan, bahkan berani mengambil apa yang bukan haknya dirumah ibuku. Harusnya kamu malu dengan sikapmu itu."
"Heleh, bilang saja itu hanya alasanmu untuk membenarkan perselingkuhan kalian."
"Lalu, mau kamu apa? Sekar sudah bukan lagi istrimu, kamu tidak punya hak apa-apa lagi pada diri Sekar. Dan satu lagi, Sekar sudah melewati masa iddah nya. Aku akan melamarnya untuk menjadi istriku. Jadi, jangan coba macam macam dengan nya, sedikit saja kamu menyentuhnya, kamu akan berhadapan denganku." Tiba tiba Mas Raihan menyela dan bicara tegas akan posisi Buka saat ini. Nampak sekali gurat kecewa dan amarah tercetak di wajah ibu dan anak yang datang membawa harapan untuk mendapat harta dariku.
"Saat ini, aku mengalah. Tapi lihat saja nanti. Akan aku buat kalian semua menderita! Mari Bu, kita pergi dari rumah ini." Seru Bima pada akhirnya.
"Tapi, kita belum dapat apa apa Bim. Kamu belum dapatkan hak kamu dari rumah ini. Jangan bodoh kamu." tolak ibu mantan mertua tak terima, tapi Bima seolah tidak perduli. Langkahnya tetap terayun menuju dimana kendaraannya terparkir.
"Bim! Bima! tunggu ibu." Bu Patmi berlari mengejar anaknya yang tidak lagi menoleh.
'jika jodoh adalah cerminan diri, apakah aku seburuk itu sehingga harus berjodoh dengan laki laki tak beradab sepertinya. Meskipun aku berusaha tegar, sejujurnya sudut hatiku sangat tersiksa. Malu dan menyesal selalu membuat diri ini tertekan. Namun aku juga bersyukur, akhirnya bisa berpisah dari keluarga ajaib itu. Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal mimpi buruk. Semoga setelah ini, akan kuraih bahagia.'
__ADS_1