
"Kita lihat nanti saja, sekiranya keluarga inti dari Rafiq mengajukan permintaan yang aneh aneh, lebih baik batalkan. Masih ada Reza yang jauh lebih baik. Untuk kali ini dengarkan ucapan mbak, demi kebaikan kita bersama!" sahut Sekar tegas dan tak ingin di bantah. Rina pun menyetujui dan pasrah dengan keputusan kakaknya.
Bu Fatimah yang langsung shock dengan kehadiran Bima. Memilih diam dan langsung duduk di kursi berdekatan dengan Raihan. Dadanya bergemuruh menahan kesal kala melihat Bima dan ibunya yang bahkan bersikap sok jadi pemilik rumah.
Acara lamaran dimulai, Sekar dan Rina duduk berdampingan di dekat Bu Fatimah dan Reihan.
Acara perkenalan dan pembahasan pun berlangsung.
Dan benar saja, keluarga Rafiq mengajukan permintaan yang membuat Sekar meradang dan Rina menjadi tak ingin meneruskan hubungannya bersama Rafiq.
"Ini acara lamaran atau sedang bahas harta keluarga saya ya?" Sekar langsung menimpali ucapan ibunya Rafiq yang meminta acara resepsi pernikahan mewah dan besar besaran dengan dana dari pihak wanita yang menurutnya punya uang banyak.
Dan ibunya Rafiq juga mengutarakan untuk menggunakan pakaian seragam keluarganya nanti dari butik yang Rina kelola dan itupun dia minta gratis karena dia berpikir kalau butik itu miliknya Rina dan tentu akan jadi milik anaknya juga.
Dan yang membuat tercengang adalah saat ibunya Rafiq mengutarakan keinginannya untuk ikut tinggal dirumah Bu Fatma dan akan mengambil alih urusan toko sembako. Sekar dibuat benar benar marah oleh keluarga yang tau tau malu di hadapannya. Masih lamaran dan juga belum tentu di terima, tapi sudah mengatur dan ingin menguasai harta, sudah sangat jelas apa maksud dari keluarganya Rafiq, tak beda jauh dengan Bima, karena memang mereka satu keluarga jadi pantas saja yang ada di otaknya hanya harta dan sikap licik.
__ADS_1
"Loh, emang salah kalau saya bahas soal beginian. Wajar lah, biar nanti tidak ada ketimpangan, karena bisa saja Rina akan bersikap seperti kamu, pas waktu sama Bima dulu. Pelit dan tidak bisa menghargai suami. Aku gak mau itu terjadi sama anakku. Istrinya harus nurut dan patuh. Dan satu lagi, harta istri ya harta kami bersama." sahut ibunya Rafiq dengan angkuh dan begitu percaya diri, bahkan Rafiq terlihat santai, seolah membenarkan apa yang diucapkan ibunya.
"Rin! apa ini pilihan kamu, keluarga yang tidak sedikitpun punya adab dan rasa malu?
Apa kamu yakin akan meneruskan hubunganmu dengan laki laki itu?" Sekar menatap adiknya serius dengan dada yang gemuruh menahan amarah. Sedangkan Bu Fatimah hanya diam, berharap Rina bisa berpikir bijak dan tak meneruskan niatnya untuk menikah dengan laki laki pilihannya.
Reihan mengusap lembut bahu sang istri, dan tangan satunya menggenggam jemari Sekar agar bisa sedikit tenang.
"Maaf mbak! jujur aku tidak tau kalau ternyata ini yang ada dipikiran mereka. Dan aku juga tidak bodoh mau di atur begitu saja sama mereka. Belum sah saja sudah banyak aturan dan permintaan yang merugikan kita. Jadi aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Rafiq." balas Rina tegas dengan ekspresi yang begitu dingin dengan tatapan tak suka mengarah pada keluarga Rafiq terutama ibunya.
"Maaf, kita sudahi hubungan kita. Aku gak bisa meneruskan ini, jadi mulai saat ini kita tak ada lagi hubungan apapun." sambung Rina menatap Rafiq tajam. Dan itu membuat Rafiq dan seluruh keluarga yang ikut hadir saling melempar pandang.
"Adik sama kakak kok sama aja sombongnya. Sok cantik dan juga sok kaya. Inget dulu seperti apa wajahnya, Bulik, kusam dan jelek. Karena operasi saja jadi cantik!" sahut Bima dengan sinis dan terlihat begitu benci dengan Rina seperti menyimpan dendam.
"Jaga mulutmu, Bima!
__ADS_1
Anakku berhak menentukan pilihan hidupnya, jangan memaksa untuk menerima Rafiq. Belum apa-apa saja kalian sudah tak tau malu ingin menumpang hidup enak, apa lagi kalau Rina benar benar menikah dan menjadi bagian dari kalian, bisa mati muda anakku karena ulah kalian yang semuanya punya watak benalu!" herdik Bu Fatimah geram, sejak tadi sudah menahan untuk tidak bicara, namun setelah mendengar keputusan Rina, akhirnya Bu Fatimah mengeluarkan kekesalannya pada keluarga di hadapannya.
"Lebih baik tinggalkan rumah ini. Tidak ada lagi yang perlu dibahas, semua sudah berakhir!" Sekar mengeluarkan suaranya dengan wajah tegas, tak ada lagi ramah dan senyuman. Karena baginya, keluarga Bima tak pantas untuk dihargai dengan sikapnya yang selalu membuat hati tidak nyaman.
"Rin! Apa kamu sudah gila?
Bisa bisanya memutuskan hubungan kita hanya demi kakakmu yang sombong itu. Dia tidak ada hubungannya dengan kita. Kita akan hidup bahagia, aku dan keluargaku akan membantumu mengelola butik dan toko sembako itu. Paling kakakmu iri dan ingin menguasai yang jadi milikmu, jadi ya wajar tidak suka denganku. Takut kalau saing!" cibir Rafiq dengan pedenya, bahkan mengarahkan tatapan sinis pada Sekar yang terlihat menatapnya kesal.
"Kamu salah! Mbak Sekar tidak butuh apa apa dari harta yang hanya secuil baginya. Suaminya orang kaya, usahanya sukses. Dan soal butik juga toko sembako, itu adalah milik mbak Sekar, aku dan ibu hanya mengelola saja, pemiliknya adalah mbak Sekar. Jadi jangan hina kakakku, kamu gak pantas menghinanya!" balas Rina tajam dan membuat Rafiq langsung bungkam dan ibunya juga ikut terdiam, mencebik sinis pada Sekar.
"Pergilah, sebelum aku memanggil satpam untuk mengusir kalian. Karena rumah ini hanya akan memuliakan tamu jika tamu tersebut sopan dan memiliki niat baik, jika sebaliknya kami tak segan untuk mengusirnya." Sekar kembali bersuara dengan nada ketus. Tatapan dingin dan tajam diarahkan pada semua keluarga Rafiq terutama pada Bima.
"Awas kalian, ini penghinaan. Aku akan membalasnya." sahut Rafiq meninggi, lalu berdiri dan segera melangkah keluar meninggalkan tempat dan disusul oleh semua keluarganya.
"Aku sumpahin hidupmu tak baik baik saja. Dasar sombong dan tak tau cara menghargai orang tua. Dasar perempuan jahat!" Bu Patmi berhenti di hadapan Sekar dan melontarkan kalimat hinaan untuk Sekar. Namun justru Sekar cuek dan tak mengindahkannya sama sekali.
__ADS_1
"Hust hust, pergi! bosen aku lihat wajah benalu !" balas Sekar meremehkan dan langsung di peluk Reihan untuk menenangkan kemarahan sang istri.
"Sudah! jangan kotor lisan dan hati kamu karena orang orang seperti mereka. Istighfar!" dengan lembut Reihan mengingatkan sang istri dan Sekar langsung Istighfar menyadari kesalahannya.