
"Bagaimana Sekar, apa kamu bisa dipercaya, agar rahasiaku tidak bocor?" mbk Irma bertanya sekali lagi untuk memastikan kesanggupanku.
aku masih terdiam, mencoba mencerna dan menimbang kemungkinan kemungkinan yang nanti terjadi, jika aku terlibat di dalam urusan yang sebenarnya bukan urusanku.
"kamu nggak perlu hawatir, aku yang akan menanggung semua kesalahanku sendiri, tanpa sedikitpun melibatkanmu, jika suatu saat semua terbongkar, karena ini dosaku, jadi akulah yang akan menanggungnya".
mbak Irma seolah tau apa yang ada dalam pikiranku, dan aku pun hanya mengangguk tanpa ekspresi, meskipun dilubuk hatiku, sebenarnya tidak membenarkan dan bahkan tidak suka dengan sikapnya itu, karena bagaimanapun, seorang istri adalah milik suaminya, dan istri wajib patuh terhadap suami, apapun itu, selama tidak menjerumus dalam kemaksiatan.
"trimakasih Sekar, dan mungkin lain waktu, aku akan menceritakan kenapa ini sampai terjadi dalam rumah tanggaku, aku permisi, lanjutkan niat awalmu terbangun tadi, bukankah kamu,ingin sholat tahajud?, maaf, jika aku sudah sedikit mengganggu waktu ibadahmu." mbak Irma bangkit dari duduknya, dan melangkahkan kaki untuk kembali menuruni anak tangga.
"mbak"
aku memanggilnya lirih, mbak Irma menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arahku.
"ada apa Sekar?"
__ADS_1
"mbak tidak sekalian ikut sholat?" aku memberanikan diri, untuk mengajaknya beribadah bersama, meskipun aku sedikit segan.
"apakah masih pantas, wanita hina, dan berkubang dosa sepertiku ini, menghadap dan membisikkan cinta pada Tuhan?, sedangkan Tuhan saja seolah enggan mengenaliku." ucapnya tegas dengan sorot mata yang sulit kuartikan.
"astagfirullah mbak, istighfar, nyebut mbak, eling."
jujur, aku tak percaya, seorang mbak Irma, wanita berwajah kalem, yang selalu nampak lembut dalam bersikap dan berucap, bisa mempunyai pemikiran demikian, apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini?.
tanpa merespon ucapanku, mbak Irma kembali meneruskan langkahnya, ada banyak pertanyaan yang mulai bergentayangan dipikiranku, aku akan mencari tau pelan pelan, dan jika diperhatikan, sejak kedatanganku, aku tidak melihat, satu orang pun yang melaksanakan sholat dirumah ini, mereka sibuk dengan kegiatannya sendiri sendiri, kecuali suami budhe, yang selalu rutin pergi ke masjid setiap adzan berkumandang.
setelah menunaikan sholat subuh, aku bergegas turun ke bawah menuju dapur, dan terlihat budhe sudah mulai membersihkan beras dalam majigcom.
"budhe udah bangun?"
"sudah dari jam tiga tadi, itu, sudah merebus air tiga panci besar." sambil menunjuk panci panci besar di atas tungku yang memanjang di dapur belakang, ya dirumah budhe, ada dua dapur, dapur modern dan dapur jadul, kenapa aku bilang begitu, karena dapur yang aku sebut dapur jadul, disana memang dibangun kusus untuk memasak memakai tungku kayu dan kompor minyak, sedangkan dapur modernnya, di isi oleh perabotan perabotan masa kini, mulai dari kompor gas dua tungku, kompor tanam, dan berbagai jenis peralatan mahal ada disana.
__ADS_1
"air sebanyak itu untuk apa budhe?". aku bertanya bingung, budhe merebus air hingga tiga panci besar sepagi ini, sedang air yang diminum semua pakai air galon.
"buat mandi orang satu rumah" jawab budhe dengan ekspresi lelah.
sejenak aku terdiam, entahlah ada rasa iba saat melihat budhe bekerja sendirian di dapur di hari tuanya, sedangkan beliau memiliki anak perempuan dewasa dan ekonomi yang dibilang kecukupan.
"apakah, budhe setiap hari mengerjakan pekerjaan di dapur sendirian?" , aku bertanya dengan hati hati, takut perkataanku menyinggung beliau.
"iya" jawabnya singkat dan nampak ada lelehan bening mulai membasahi wajahnya yang mulai keriput.
aku terpaku, sejenak teringat kepada ibu, ternyata apa yang nampak terlihat oleh mata, tak semua sesuai apa yang dipandang, karena mata punya batas dalam melihat.
meskipun kehidupan budhe terlihat mewah dari luar, ternyata beliau tak ubahnya jadi pembantu di rumahnya sendiri, dari pagi berjibaku dengan pekerjaan dapur, siang sampai malam menjaga cucunya.
ternyata kehidupan yang nampak indah diluar, belum tentu juga indah di dalamnya, banyak yang tidak tau jika orang kaya deritanya bisa melebihi kami orang yang hidup serba pas Pasan.
__ADS_1