Sekar Arumi

Sekar Arumi
kisah bude yang menguras emosi


__ADS_3

"maaf budhe, mbak Irma kerja dimana?".


aku bertanya hati hati, karena sepagi ini, mbak Irma juga sudah tidak ada dirumah, tadi waktu nyapu halaman kami berpapasan, mbak Irma keluar rumah tak lama setelah suaminya berangkat kerja, dandanan nya rapi dan wangi, mirip wanita kantoran.


"Irma Ndak kerja nduk, tapi setiap hari kerjaannya ngeluyur entah kemana, setiap Huda berangkat kerja, pasti Irma juga langsung ngilang entah kemana, seolah dirumah ini, budhemu tidak ada artinya".


budhe bicara dengan mata yang berkaca kaca.


"maksud budhe gimana toh, kok budhe bilang budhe tidak ada artinya?" aku menatap budhe heran.


sebelum menjawab, budhe menarik nafasnya kasar, direbahkan tubuhnya untuk berselonjor di atas sofa panjang yang berukuran besar di ruang keluarga, seolah ingin menata diri untuk lebih nyaman dalam mengungkapkan semua rasanya.


"diluar, mungkin keluarga ini nampak harmonis dan baik baik saja, tapi sebenarnya sudah hancur dan hilang kehangatan apalagi cinta oleh seluruh penghuninya". budhe mulai mengawali ceritanya.


aku berusaha menjadi pendengar yang baik, tanpa berani menyela sebelum budhe meminta jawaban atau sekedar bertanya.


"Irma, dia selalu bersikap seperti masih sendiri, dan tidak pernah mau menyentuh pekerjaan rumah, kerjaannya cuma dandan, dolan, dan merintah, setiap hari dia akan keluar entah kemana setelah Huda berangkat kerja, dan sore menjelang suaminya mau pulang, Irma baru kembali kerumah, itupun dia hanya nonton tivi dan main hape, kebutuhan suaminya, dia seperti tak perduli sama sekali, jadi budhe lah yang mau tidak mau menyiapkannya, mulai dari masakan, nyuci, strika, bahkan menyediakan kopi nya.


seringkali mereka bertengkar dilingkar masalah yang itu itu saja, terkadang budhe sesak sendiri mendengarnya, apa lagi sekarang Irma hamil, kerjaannya kalau nggak kesalon ya belanja". budhe bicara dengan tatapan sendu, bola matanya nampak mulai mengembun, kasian sekali beliau, seharusnya bisa menikmati masa tuanya dengan bermanja bersama anak dan cucu.


"lalu bagaimana dengan Rini dan Rere budhe?".


aku memberanikan diri untuk bertanya, karena Rini masih sekolah kelas empat SD, sedangkan Rere masih TK, kalau mbak Irma cuek dan bersikap masa bodoh, bagaimana Rini dan Rere?

__ADS_1


"Rini sama Rere sekolah diantar jemput pakdhemu, kalau Rini sudah besar, jadi cuma sekedar antar jemput, sedangkan Rere, pakdhemu yang selalu nungguin di sekolahnya, dan kalau mereka pulang sekolah, mereka main dirumah saja, dan Alhamdulillah nya, Rini maupun Rere anak anak yang nurut dan nggak neko neko".


aku hanya terdiam menyimak semua penuturan budhe, begitu teganya mbak Irma melimpahkan semua pada orang tuanya.


"Irma selingkuh" ucap budhe lirih, dan beliau mulai terisak.


"budhe" aku menggenggam tangannya untuk mencoba memberi kekuatan, meskipun jujur, aku bingung harus bersikap bagaimana.


"banyak hal yang membuat budhe harus tetap kuat, meskipun jujur budhe terkadang merasa lelah oleh keadaan, dengan adanya kamu dirumah ini, budhe harap, kehadiran Sekar di samping budhe bisa mengobati rasa rindu budhe pada sosok anak perempuan yang budhe impikan".


budhe bicara sambil terisak, terlihat jelas betapa lelah jiwa dan raganya selama ini dan parahnya semua itu hanya bisa budhe pendam sendirian.


"budhe, mulai sekarang, Sekar akan berusaha untuk bisa membantu dan meringankan semua tugas budhe dirumah ini, untuk urusan beberes rumah, serahkan saja sama Sekar, budhe cukup, duduk manis saja sambil minum teh".


budhe tersenyum dan membawaku dalam dekapannya, rasanya nyaman seperti saat ibu yang sedang mendekapku, aaah aku jadi sangat merindukan ibu, sedang apa ibu sekarang?


waktu terus berjalan, sudah hampir satu bulan aku tinggal dirumah mewah ini, keseharianku hanya dengan seputar itu itu saja, bangun pagi pagi, untuk merebus air buat mandi dan menyiapkan sarapan, mandi dan berangkat sekolah, pulang sekolah melanjutkan beberes rumah, setrika hingga sore, lalu lanjut dengan menyapu dan mengepel, hbs isya, jadi guru les dadakan buat Rini dan Rere, seperti itu setiap hari, capek sudah pasti iya, namun wajah ibu dan Rina selalu menguatkanku untuk tetap kuat dan baik baik saja.


hari Minggu aku berencana pulang menemui ibu, rencana mau naik bus saja, karena aku juga belum bisa naik montor, saat mau bersiap pulang, budhe menyerahkan amplop dan satu kantong kresek besar yang isinya sembako, dan bukan hanya budhe saja, mbak Irma juga memberikan uang lembaran merah sebanyak empat lembar untuk dititipkan ke ibu, ada rasa haru dengan kebaikan keluarga budhe, meskipun mbak Irma cuek tapi nampak juga sangat perduli dengan ibu.


"trimakasih budhe, mbak Irma, nanti akan Sekar sampaikan pada ibu, pasti ibu sangat senang sekali, trimakasih".


aku menangis hingga tak lagi mampu mengucapkan kata kata lagi.

__ADS_1


budhe memelukku, mengusap kepalaku yang terbungkus jilbab.


"salam sama ibu dan Rina ya, nanti pas ke terminalnya biar diantar Huda, karena kalau naik angkot harus oper oper".


"nggih budhe" jawabku sopan.


hanya butuh waktu satu setengah jam untuk sampai di rumah ibuku, saat sampai di depan rumah, rumah nampak sepi dan pintu pun tertutup, saat membuka pintu, ternyata pintu tidak terkunci, aku langsung masuk dan menuju ke kamar ibu, tapi kosong tidak ada ibu ataupun Rina, saat ingin melangkah ke dapur, aku mendengar suara isakan, dan ternyata ibuku sedang menangis dengan memeluk Rina.


"asalamualaikum Bu". sapaku lirih, dengan sekuat tenaga aku menahan tangis ini, aku harus kuat, agar ibu dan Rina tak semakin sedih, aku juga harus pura pura tidak tau dengan air mata mereka, biarlah nanti aku akan bertanya pada Rina atau ibu dengan apa yang terjadi.


"waalaikumsallm, sekaar...". ibu dan Rina mengelap air matanya dengan ujung kaos, sebelum menjawab salam dan menoleh ke arahku, sepertinya mereka ingin menyembunyikan sesuatu.


"ibu lagi apa sama Rina di dapur?"


"itu, lagi nyari tikus dikolong meja, banyak tikusnya, iya kan rin?" dan rina pun mengangguk lemah.


"Rin, ambil mangkok sama sendok, ini mbak hawa Adi beli bakso sama es campur, yuk kita makan bareng bareng, panas panas gini pasti enak".


nampak ibu dan Rina sangat antusias ada binar bahagia diwajah teduh mereka, maklum, untuk ukuran orang miskin seperti kami, bakso adalah makanan mewah yang jarang bisa kita beli, dan hari ini aku bisa membelikannya buat ibu dan adikku dari gaji pertamaku dari mas akhir, iya mas akhir memberikan aku gaji, karena aku rajin bantu dan meringankan pekerjaan budhe, mas akhir bilang , kalau dia akan memberi uang saku empat ratus ribu setiap bulannya, tapi aku menganggapnya itu uang gaji, hehehe.


setelah selesai menghabiskan bakso dan es campur, aku menanyakan perihal kenapa ibu dan Rina menangis tadi, dan jawaban dari Rina mampu membuatku merasa sangat bersalah, mereka menangis karena dari kemarin belum makan, ibu tidak punya uang sama sekali bahkan tidak ada satu orangpun yang mau memberinya hutang, karena takut ibu tidak mampu membayarnya.


astagfirulloh, rasanya sakit sekali, ibu dan adikku menangis karena lapar, aku berjanji akan terus berjuang keras agar bisa membawa ibundan adikku untuk hidup lebih layak.

__ADS_1


aku menyerahkan uang dari budhe,mbak Irma dan juga uang dari mas akhir jika ditotal semuanya ada satu juta dua ratus, dan aku hanya menyisakan lima puluh ribu untuk pegangan, dan lima puluh ribu lagi buat ongkos balik kerumah budhe.


__ADS_2