
"Kenapa Mas?" aku pura pura tidak mendengar obrolan mereka dan bersikap biasa saja, kasihan nanti pasti Reza akan malu kalau aku mendengar obrolan mereka. Apa yang dikatakan Mas Reihan benar, Reza baik dan pekerja keras, pendiam dan sopan, anaknya tidak pernah neko neko.
Kalau dia sama Rina aku juga setuju, pasti dia akan mencintai dan menjaga adikku dengan sangat baik. Tapi mau bagaimana, Rina sudah menemukan jodohnya, kalau saja Reza mau bicara dari dulu, mungkin aku juga akan membantunya.
Jodoh itu rahasia Tuhan, aku hanya bisa berharap dan berdoa, siapapun Yang jadi jodoh adikku, semoga dia laki laki yang baik. Aamiin.
Tengah malam kami baru memasuki halaman rumah ibu yang terlihat asri. Dan nampak lampu rumah masih menyala terang.
Pasti Ibu maupun Rina belum tidur, mereka menunggu kedatangan kami.
Aku tersenyum dan memilih segera turun dari mobil.
Mas Reihan membantuku, dan menggendong Yusuf yang masih terlelap untuk di bawa masuk ke dalam rumah.
"Za, ayo masuk kedalam. Di luar dingin, kamu istirahat saja di dalam, banyak kamar kosong kok!" Terdengar Mas Reihan sedang bicara dengan asisten pribadinya itu, aku memilih meneruskan langkah, rasanya badanku sudah pegel semua, belum lagi kepala terasa sedikit pusing seperti mau muntah. Mungkin aku sedang mabuk perjalanan, duh memalukan.
Mas Reihan dan Reza terdengar ikut melangkah di belakangku.
Benar saja, ibu juga Rina sengaja menunggu kedatangan kami. Mereka sudah berdiri di depan teras rumah dengan senyuman mengembang dari bibir mereka.
"Asalamualaikum, Bu!"
Aku menyalimi ibu dan kami pun berpelukan, ibu sangat erat memelukku, menciumi wajah ini berulangkali, rindu karena lama kami tidak bertemu, setelah puas melepas rindu dengan ibu, aku beralih memeluk adikku, yang semakin terlihat cantik, pantes Reza menyimpan perasaan pada Rina.
Setelah acara kangen-kangenan, Kami semua masuk kedalam rumah, tak terkecuali juga Reza. Yang sedari tadi aku perhatikan terlihat kaku dan gelisah.
"Yusuf bawa ke kamar saja, tidurin dulu di kasur, kasihan badannya pegel pegel itu." Ibu bicara sama mas Raihan untuk membawa Yusuf masuk kedalam kamar, dan menidurkannya disana. Tanpa banyak bicara mas Raihan mengiyakan ucapan ibu dan menggendong Yusuf masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Piye nduk sehat? kalau wes capek, langsung istirahat saja ke kamar, kita ngobrolnya besok saja. Tapi minum anget anget dulu, masih dibuatkan wedang jahe sama adikmu. Kalau mau makan nanti biar di angetin sayurnya. Tadi ibu masak rendang sambal goreng ati." Ibu duduk di dekatku dan terus menggenggam tangan ini.
Terlihat sekali kalau ibu sangat merindukanku.
Rina datang membawa nampan berisi wedang jahe dan roti bolu. Diletakkan di atas meja.
"Silahkan Mas Reza, diminum dulu wedang jahenya, ini juga ada bolu, tadi siang aku sama ibu yang buat." Rina terlihat ramah pada Reza, dan nampak Reza hanya tersenyum tipis menanggapinya, aku tau dia mati matian menahan perasaannya.
"Mbak, makan dulu kah? biar aku angetin sayurnya?" Rina beralih menatapku dan menawarkan untuk makan.
"Iya, kamu angetin saja sayurnya. Barangkali mas Reihan dan Reza mau makan.
Kalau mbak, mau tidur saja, kepala rasanya pusing, mabuk perjalanan jadi bawaannya mual gitu." aku tidak merasakan lapar, hanya kepala pusing dan tubuh yang sangat lelah. Rina mengangguk dan pergi ke arah dapur, mungkin mau memanasi lauk pauk.
Mas Reihan muncul dengan senyuman manis menuju ke arah kami berkumpul.
"Kamu capek sayang, mau dipijitin? sambut mas Reihan saat sudah ada di dekatku. Manis dan tetap mesra. Indah sekali.
Mas ajak Reza makan gih, sayurnya masih di angetin Rina di belakang, aku ijin ke kamar dulu. Mau istirahat duluan." aku menanggapi ucapan suamiku dengan wajah lesu.
"Iya, istirahat gih. Nanti aku susul. Mau dianterin ke kamarnya?" Mas Reza menawarkan diri untuk mengantarku ke kamar, duh berasa kayak anak kecil yang harus dikawal kemana mana, memang suamiku itu sangat beda dengan laki laki pada umumnya. Tapi aku sangat suka dengan caranya memperlakukan aku.
"Gak usah Mas, temani Reza saja, tuh dari tadi anaknya udah gugup banget." sahutku sambil melirik ke arah Reza yang langsung salah tingkah.
Mas Reihan melirik juga ke arah bawahannya itu, nampak senyum tipis terukir di bibirnya yang tipis.
"Sudah jangan di godain, kasihan. Sudah patah hati, kamu nya masih saja tega menggoda itu anak. Jahil ya?" Mas Reihan mencubit hidungku pelan dan berucap lirih di dekat telinga untuk tidak menggoda Reza yang kini terlihat sedang menunduk dalam.
__ADS_1
"Iya, Mas! Yasudah aku kemar dulu ya."
Aku meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamar, ingin segera merebahkan tubuh ini di atas kasur, rasanya tubuh sakit semua.
Terlihat ibu juga sudah menuju ke kamarnya setelah berpamitan dengan mas Reihan juga Reza.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi pagi sekali, tumben mas Reihan sudah tidak ada di kamar, apa semalam dia gak tidur di kamar ini. Bergegas aku bangun dan keluar dari kamar mencari keberadaan suamiku. Dan benar saja saat melewati ruang keluarga, terlihat Mas Reihan dan Reza sedang tidur disana.
Reza nampak tidur di atas sofa depan televisi, sedangkan suamiku memilih tidur di atas kasur spring bed yang ada disana. Pantesan tidak ada pergerakannya semalam.
Aku memilih melanjutkan langkah ke dapur, karena sudah ada Rina dan ibu ada disana, mereka sedang sibuk memasak, menyiapkan sarapan.
"Masak apa lagi, Bu?
Perasaan sayur yang kemarin masih kan?"
Ibu menoleh mendengar suaraku, dan langsung memarkan senyuman manisnya.
"Iya masih kok, tapi gak pantes saja, masak tamu di suguhin sayur sisa, lagian juga masih sisa sedikit. Ini ibu buat soto daging kesukaan suami kamu dan Yusuf juga suka banget kan?" sahut ibu sambil tetap fokus dengan bahan bahan yang ada di depannya.
"Terserah ibu saja deh, lagian aku juga suka." aku meringis menatap ibu yang langsung mencebik ke arahku. Senang sekali bisa menggoda ibu lagi.
"Rin, kata ibu kamu sudah ada yang mau melamar, orang mana?" aku membuka obrolan tentang Rina, dan adikku itu langsung menoleh menatapku dengan senyum malu malu.
"Orang Kediri juga mbak, tapi daerah selatan dekat sambi." sahut Rina dengan senyuman mengembang dari bibirnya.
__ADS_1
"Oh dekat. Kamu sudah kenal dia berapa lama? sudah tau gimana sifatnya, dan juga sudah pernah ketemu sama keluarganya belum?"
Aku sengaja menodong banyak pertanyaan pada adikku itu, karena aku tidak mau dia mengalami nasib sama seperti pernikahanku yang pertama, cukup semua itu untuk dijadikan pelajaran, agar tidak terulang kembali.