
Setelah hampir enam bulan, Mas Bima tidak pernah ada kabar, menghilang begitu saja seolah memang sengaja lari dari tanggung jawab dan menghindar dari jeratan hukum atas perbuatannya yang sudah mencuri uang serta perhiasan ibuku.
Selama ini aku memang sengaja mendiamkannya, mengiklaskan apa yang telah diambilnya. Bahkan aku sudah mengantongi surat janda sejak tiga bulan yang lalu. Jika nanti Mas Bima kembali, setidaknya dia sudah tidak punya hak apapun atas diri ini. Berharap dia tidak pernah lagi muncul di kehidupanku, karena hanya akan ada masalah yang dia ciptakan.
Aku sudah tidak lagi bekerja, fokus dengan usaha butik yang baru merintis. Alhamdulillah, butik pakaian syar'i milikku tak pernah sepi pembeli. Gamis dan hijab lebar saat ini sudah banyak digemari para perempuan, bahkan tak banyak yang mulai memakai cadar. Jadi di butik aku memang sengaja menyediakan perlengkapan busana syar'i, mulai dari gamis, hijab, cadar, kaos kaki, handshock juga aneka macam asesorisnya.
Sedangkan toko baju kekinian yang menjual pakaian remaja tapi tetap dengan mode muslimah, sekarang sudah memiliki dua cabang. Alhamdulillah selalu bersyukur atas apa yang kini sudah di dapat. Inilah hidup, tidak pernah ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya. Kita hanya perlu optimis dan terus berusaha.
Hubunganku dengan Mas Raihan juga semakin dekat, laki laki yang nampak sempurna di mataku itu sudah mengungkapkan perasaannya. Namun karena statusku yang baru saja bercerai membuatnya masih menjaga jarak, agar tidak ada fitnah dalam hubungan kami. Raihan berjanji akan meminangku setelah masa Iddah berakhir. Tapi aku memintanya untuk jangan dulu buru buru. Karena aku tak mau, waktu yang terbilang singkat akan memunculkan anggapan anggapan miring dari tetangga. Biarlah kita menjalani hubungan ini sebagaimana mestinya, meskipun ribuan kilo jarak diantara kita. Perasaan yang ada semakin kuat dan seolah terikat satu antara lain. Justru ini lah seni rindu yang indah menurutku. Karena cinta tak harus mengumbar rasa dan kata mesra. Selama kami belum terikat dalam hubungan halal, aku dan Raihan akan terus menjaga jarak.
"Mbak, boleh aku masuk." terdengar suara Rina diluar kamar, ada apa dengan dia kenapa suaranya seperti orang cemas begitu.
"Masuk saja, Rin. tidak di kunci kok."
Saat Rina menampakkan diri terlihat wajahnya yang tidak enak, ditekuk dengan mulut yang sengaja di manyunkan.
"Ada apa, kenapa wajahmu gak enak dilihat begitu?"
"Itu, ada tamu buat mbak." Terlihat Rina membuang nafasnya kasar, dan sorot matanya menatapku iba.
__ADS_1
"Tamu? siapa?"
"Mas Bima dan Ibunya."
"Apa? Aku gak salah dengar kan, Rin?"
"Mereka menunggu diruang tamu, sudah ada ibu disana. Rina malas mbak melihat mereka."
" Apa lagi yang akan mereka lakukan, mau bikin ulah apa lagi?"
"Mbak temui saja dulu, dan jangan lupa, bawa surat dudanya buat Mas Bima. Biar dia sadar diri kalau sudah bukan siapa-siapa dirumah ini."
"Yasudah , aku mau bikin minum dulu buat mereka. Jangan lupa mbak ambil air wudhu dulu sebelum menemui mereka, biar nanti gak kesurupan."
"emang mereka setan, Rin!." hahahaa, kami pun tertawa dengan kekonyolan Rina, aku maklum dengan ketidak sukaan Rina pada Mas Bima dan ibunya, karena mereka selalu membuat ulah dan setelah itu akan bersikap seolah-olah mereka tidak berdosa.
Akupun bergegas mengambil surat cerai kami dan memberikan akte duda untuk Mas Bima, untuk kali ini aku harus bersikap tegas pada laki laki itu. Setelah menemukan apa yang dicari, aku pun keluar kamar tapi sebelumnya memakai jilbab instan dulu, karena saat ini Mas Bima sudah bukan mahram lagi untukku.
"Sekar, Mas kangen." tiba tiba Mas Bima berdiri dan berhambur akan memelukku, tapi dengan cepat aku menghindarinya, sehingga tangannya hanya mengambang diatas dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
"Apa kamu gak kangen Mas, Sekar?. Apa kamu sudah tidak berharap mas pulang?" Mas Bima memasang wajah melasnya, seolah dialah yang tersakiti.
"Sudahlah Mas. Tidak perlu lagi kamu bersandiwara, dan terima kasih sudah datang kerumah ini, jadi aku tidak perlu repot repot mengirim akte cerai milikmu."
Mulut mas Bima langsung mangap pun dengan ibunya yang tak kalah hebohnya, matanya langsung melotot dengan mulut yang terbuka lebar.
"A pa maksudmu Sekar? Cerai?"
"Iya Mas. Aku sudah mengurus surat cerai kita, dan sudah dari tiga bulan yang lalu pengadilan mengabulkan gugatan yang aku layangkan. Dan itu artinya kita sudah bukan lagi suami istri." Aku menyodorkan akte cerai ke arah Mas Bima yang disambutnya dengan tangan bergetar.
"Apa apaan kamu Sekar. Perceraian ini tidak sah. karena aku belum menjatuhkan talak padamu." Berang Mas Bima tak terima.
"Tidak perlu teriak Mas, dengan kamu tidak menafkahi lebih dari tiga bulan itu sudah jatuhnya talaq. Dan bukankah kamu sudah pergi tanpa kabar lebih dari enam bulan. Jadi terima saja kenyataan yang ada. Lagian, aku juga sudah tidak punya perasaan apapun padamu. Aku terlanjur kecewa dengan semua perbuatan yang kamu lakukan selama ini padaku juga pada ibuku."
"Aku tidak terima, jangan seenaknya kamu menendangku begitu saja. Dan untuk harta gono aku juga berhak mendapatkan sebagian dari apa yang kamu punya, karena itu sudah menjadi harta bersama selama kita menikah."
"Jangan mimpi kamu Mas. Ingat, jatuh itu sakit. Harta yang mana yang kamu maksud Mas? Bukankah kamu masuk kerumah ini hanya membawa baju di badan saja. Bahkan selama aku jadi istrimu, mana pernah kamu kasih aku uang nafkah. Yang ada justru kamu selalu meminta uangku dengan dalih meminjam, boro boro dikembalikan, justru kamu dengan tidak tau malunya sudah mencuri uang ibu dan juga perhiasannya. Jadi berhenti bermimpi dari pada kamu jatuh, sakit dong."
"kurang ajar kamu, Sekar!."
__ADS_1