
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sekar, Rina dan Bu Fatimah sedang duduk santai diruang keluarga sambil menonton televisi. " Nduk, ada yang ingin ibu sampaikan." mulai Bu Fatimah membuka obrolan dengan anaknya yang fokus ke ponselnya, sejak tadi Sekar sedang sibuk berbalas pesan dengan Raihan membahas pekerjaan.
" iya Bu, apa yang ingin ibu bicarakan? seperti nya serius sekali, sampai wajah ibu tegang begitu." Sekar langsung beralih menatap ibunya, nampak wajah gelisah dan tegang terlihat disana.
Bu Fatimah menghembuskan nafasnya dalam sebelum melanjutkan bicara.
" Gini nduk, tadi Rina kehilangan uang toko, jumlahnya lumayan banyak, hampir enam juta lebih."
Sekar mengernyitkan dahinya, menatap serius ke arah ibu lalu bergantian ke arah adiknya yang sedari tadi diam. Rina merasa sangat bersalah karena sudah ceroboh meletakkan uang segitu banyaknya di sembarang tempat.
" Mbak coba lihat ini, setelah ibu kehilangan perhiasan kemarin, kami berpikir untuk memasang cctv di setiap sudut rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Disitu nampak jelas yang mengambil uangnya adalah Mas Bima mbk." Rina menyodorkan laptopnya ke hadapan Sekar dan tanpa banyak bertanya lagi Sekar langsung mengecek apa yang dikatakan adiknya.
Sekar mengusap wajahnya kasar, matanya memanas seiring sakit hatinya yang kian mendalam. " Benar benar keterlaluan kamu Mas, sikapmu sudah sangat di luar batas." Sekar menggumam kesal tapi masih bisa terdengar jelas oleh ibu juga adiknya.
" Maafkan Sekar Bu, jika karena pilihan Sekar harus membuat keluarga kita terus kena musibah dengan kelakuannya Mas Bima, jujur Sekar malu, sangat malu." Sekar terisak, malu dan sakit hati bercampur menjadi satu. Penyesalan memang datangnya selalu terlambat, pun dengan apa yang kini dirasakan oleh Sekar, menyesal sangat menyesal karena sudah terperdaya oleh sikap manisnya Bima selama ini.
" Sudah nduk, jangan nangis. Laki laki seperti Bima tidak pantas untuk ditangisi, sekarang kita harus pikirkan bagaimana memberi pelajaran pada laki laki itu, sikapnya sudah kelewatan, ibu sudah sangat geram dengan kelakuannya itu."
" Biar Sekar telpon, Bima harus bertanggung jawab, karena ulahnya ini, toko ibu bisa rugi dibuatnya." Sekar mengotak Atik ponselnya mencari nama Bima, panggilan yang dituju ternyata sudah tidak aktif. Sekar beralih ke nomor ponsel ibu mertuanya, ternyata sama, tidak aktif juga. Sekar meradang, batinnya kesal dan sangat membenci perbuatan suami dan mertuanya.
" Tidak bisa Bu. Sepertinya mas Bima maupun ibunya sengaja menghindar. Ponselnya tidak ada yang bisa dihubungi."
" lalu apa yang harus kita lakukan nduk?" itu uang modal buat toko. Sungguh keterlaluan mereka. Sudah mengambil perhiasan ibu, sekarang masih berani mengambil uang buat modal usaha kita." Bu Fatimah lemas memikirkan, meskipun baginya mudah untuk mengganti uang yang hilang. Karena tabungannya cukup banyak, tapi hatinya masih belum rela, jika uang itu hilang begitu saja, di curi oleh menantunya sendiri, menantu yang tidak pernah bisa menghormati nya selama ini.
__ADS_1
" Besok Sekar akan pergi kerumahnya di Blitar Bu. Ibu tenang saja, Sekar akan menuntut pertanggungjawaban mereka, kalau perlu kita akan laporkan perbuatan mereka ke kantor polisi. Untuk uang modal yang hilang, biar Sekar yang ganti, ibu tidak usah hawatir ya! Dan untuk kamu Rin, mulai sekarang, kamu harus lebih hati hati ya, jangan sampai kejadian ini terulang lagi."
" Iya mbak, maafkan Rina ya. Karena keteledoran Rina, mbak yang harus menanggung nya."
" Sudahlah, gak papa. Doakan bisnis mbak lancar."
" Aamiin." sahut Bu Fatimah dan Rina serempak.
" Bu, aku ke kamar duluan ya, mau tidur. Besok pagi pagi aku akan menemui mas Bima dulu sebelum ke kantor."
" Iya nduk, kamu hati hati. Tapi saran ibu, kamu jangan sendirian kesananya, takut mereka nekad menyakiti kamu nanti."
" Ibu tenang saja, besok aku akan ajak Renita. Dia sangat bisa diandalkan."
Sesampai depan rumahnya Bima, nampak rumah bercat warna pink itu masih terlihat sepi, bahkan nampak sangat kotor halamannya.
" Kok sepi rumahnya, kayaknya orangnya tidak dirumah." Renita berceloteh saat turun dari mobilnya Sekar.
Nampak dari jauh ada tetangga yang sedang berjalan menuju ke arah dimana Sekar dan Renata berada. " itu ada tetangganya yang lewat, coba kita tanya sama beliau saja." ucap Sekar santai.
" Loh, Ini kan Sekar, istrinya Bima itu to?" sapa perempuan tua yang sepertinya mau berangkat ke sawah.
" nggih Bu, saya Sekar istrinya mas Bima.
em, kok rumahnya sepi, kalau boleh tau, mas Bima dan ibu apa tidak ada dirumah ya Bu?" lanjut Sekar berusaha seramah mungkin, seolah sedang tidak terjadi apa apa.
__ADS_1
" Loh kok kamu gak tau, kan istrinya. Bima sama ibunya pergi ke Surabaya dari kemarin. Bu Patmi dapat arisan, langsung berangkat ke Surabaya, ke tempat anak perempuannya."
" owh gitu ya Bu, kalau begitu terimakasih buat infonya gih Bu." Sekar tidak mau banyak bicara, karena tidak baik mengumbar aib rumah tangganya pada sembarang orang.
" kita balik saja Ren, sepertinya Mas Bima dan ibunya memang sudah berniat buat kabur."
" Dasar laki laki tak punya adab memang itu si Bima, awas saja kalau ketemu, aku bejek bejek itu laki, enak saja mau hidup enak tapi tidak mau kerja." Renata geram dengan kelakuan Bima.
" Sudahlah, bicara tentang mereka hanya bikin kita emosi, lagi pula, aku sudah mendaftar kan gugatan cerai ke pengadilan."
" Bagus itu, buat apa kamu bertahan dengan laki laki minim adab dan akhlak seperti dia, kelakuannya saja menjijikkan begitu." sengit Renata kesal.
" entahlah Rit, aku menyesal karena dulu tidak mendengarkan nasehat mas Akhir, sekarang aku malu kalau sampai mas akhir dan om Huda tau masalah ini, mau ditaruh dimana mukaku ini."
" Sudahlah, yang penting kamu sudah sadar dan membuang laki laki itu, hempaskan saja pria model begitu. Kalau perlu beri pelajaran biar dia tidak lagi berbuat seenaknya."
" Kalau dia kabur, akan mempermudah proses perceraian, itulah keuntungannya saat ini."
'Lihat saja kamu Mas, aku akan membuatmu menyesal karena sudah bermain main denganku.' batin Sekar bermonolog.
" kita langsung ke kantor saja Ren, masih ada waktu satu jam ini." lanjut Sekar sambil melangkah masuk ke dalam mobil.
" Apa kamu akan biarkan dia bebas begitu saja? mereka sudah mencuri banyak di rumahmu loh ini?" Renata kembali membuka obrolan saat sudah duduk di dalam mobil.
" Untuk sementara aku memang berniat membiarkan mereka merasa bebas Ren, biarkan mereka senang senang dulu. Aku ingin proses perceraian ini berjalan lancar tanpa hambatan dari mas Bima. Setelah itu kita lihat saja nanti gimana, kalau mereka masih berani bikin ulah, aku tidak akan segan segan menjebloskan mereka ke penjara. Karena semua bukti bukti sudah aku simpan."
__ADS_1