
Ooohhh..!! Siapa suruh main pegang-pegang !! Bilang kek !! Biar gak bi---" balas Luna membulatkan mulutnya.
Cuupppp
Luna terdiam dan membulatkan matanya menatap tajam ke arah Vincent.
"Makanya jangan berisik !" ketus Vincent setelah melepaskan kecupan nya dari bibir ranum Luna.
"Yakkkkk....!!!" teriak Luna dan memukul lengan Vincent membabi buta.
Dengan sigap Vincent menahan kedua tangan Luna dan mengangkatnya ke atas, kemudian menguncinya dengan kuat.
"Lepaskan Vincent !!" amuk Luna dengan dada naik turun karena kehabisan nafas memukul lengan dan dada Vincent.
"Makanya diam...! Cerewet ! Siapa yang suruh kamu datangi pria berengsek itu ??!! Bagaimana kalau aku tadi tidak ada ??!!" ketus Vincent dengan nafas memburu.
"Siapa yang cere---!!" seru Luna terhenti.
Ketika Vincent kembali mendekatkan dirinya kemudian menatapnya dengan lekat.
Deg deg deg
Vincent mengangkat tangannya dan membersihkan darah di sudut bibir Luna yang mulai mengering memakai cotton bud.
Luna dapat menghirup aroma wood dan maskulin dari tubuh Vincent dengan jarak sedekat ini.
Tatapan mata mereka bertemu, dengan cepat Luna mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Angkat leher kamu !" seru Vincent dengan nada suara yang lebih lembut.
"Untuk ?!!" ketus Luna.
"Angkat aja, bisa ?!" tanya Vincent merendahkan suaranya.
"Ck...!!" decak Luna, tapi tetap mengangkat lehernya.
"Sh*it...!!" maki Vincent melihat ada bekas tanda merah di leher Luna akibat perbuatan Erza.
"Dia akan mendekam di penjara !!" batin Vincent sambil mengusap lembut leher Luna.
"Hmm.." gumam Luna kegelian.
"Sakit ?!" tanya Vincent lembut tidak melepas pandangannya dari leher Luna.
"Apa ?!" tanya Luna balik.
"Hmm,, sedikit perih.." jawab Luna jujur.
Vincent menarik nafas berat menahan kekesalannya.
Dengan lembut Vincent membersihkan leher Luna dengan Tissue basah dan meniup-niup leher Luna. Sensasi dingin dan hembusan nafas Vincent membuat Luna meremas tangannya yang masih di tahan oleh Vincent.
Desiran aneh dapat dia rasakan di sekujur tubuhnya. "Oh my, apa yang kau lakukan Vincent !" pikir Luna yang mulai tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Uhmmm...Vin..." gumam Luna, yang tidak dapat dia tahan.
Deg
__ADS_1
Vincent terdiam dan berhenti meniup leher Luna. Dilihat nya wajah Luna yang sedang menutup mata dan menggigit bibirnya.
"Sekksi !!" batin Vincent terpesona dengan wajah Luna.
Sejak hari pertama pertemuan mereka, Luna sudah mencuri perhatiannya. Wanita yang pertama kali ketus kepadanya. Wanita yang pertama kali berani membentak-bentaknya, wanita yang pertama kali tidak tertarik dengan pesonanya.
"Boleh aku obati lehermu, Lun ?" tanya Vincent lembut.
"Hmm..?" gumam Luna membuka matanya dan tatapan mereka bertemu.
Mata indah Vincent baru dia perhatikan dengan benar, sangat mempesona bagi Luna.
"Boleh.." jawab Luna datar yang tidak berpikiran aneh-aneh.
Vincent kembali meniup leher Luna membuat Luna kembali menggigit bibirnya. Menahan suara yang memalukan tadi.
Vincent mendekatkan bibirnya dan mengecup lembut leher Luna,
"Vin..." gumam Luna dan membuka matanya karena kaget dengan kecupan Vincent di salah satu titik sen si tip.
"Hmm..?" gumam Vincent melanjutkan kecupan demi kecupan di leher Luna. Aroma manis dari tubuh Luna membuatnya mabuk.
"Ahhh Vincent..!!" akhirnya Luna mengeluarkan suara yang sangat memalukan.
Vincent berhenti mngecup leher Luna dan matanya beralih melihat bibir yang tadi di kecupnya sebentar.
"Luna...Maaf aku melakukan ini...!!" seru Vincent.
"Apa-aa..umphhh"
__ADS_1
Bersambung....