Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Call Me Daddy!


__ADS_3

"Tuan Morgan,"


"Ya, Tuan Morgan,"


"Maafkan aku, Tuan Morgan,"


"Ah, tidak masalah, Tuan Morgan,"


Beberapa hari terakhir ini di kediaman Dante, sering sekali terdengar nama Tuan Morgan disebut. Seolah nama itu memiliki arti tersendiri di hati seseorang. Terkadang Dante hanya tersenyum saat seseorang itu memanggil namanya dengan Tuan Morgan.


"Angel, duduklah di sini sebentar," kata Dante sambil menuntun tangan Angel untuk duduk di pangkuannya.


Dengan patuh, Angel duduk di tempat yang ditunjukan oleh Dante. "Ada apa, Tuan Morgan? Kau sudah ingin bermain kembali? Kita baru saja selesai,"


Senyum Angel yang menggoda membuat Dante sedikit salah tingkah. "Hmmm, kau masih ingin bermain denganku?"


Angel mengangguk malu-malu. "Kalau Tuan masih kuat, aku siap, hehehe,"


Dante membelai rambut Angel yang lurus dan berwarna cokelat itu. "Kuperhatikan, tampaknya kau suka sekali memanggilku dengan Tuan Morgan, apa kau sebegitunya suka kepadaku?"


Angel kembali tersenyum, kali ini wajahnya merona merah dan dia menggelengkan kepalanya. "Maaf, Tuan Morgan, tapi, aku tidak menyukai Anda. Hubungan kita sekedar hubungan profesional antara pekerja dan penjual jasa,"


"Benarkah? Kau seprofesional itu?" tanya Dante, tangannya sudah berlarian ke sepanjang tulang belakang Angel dan menggelitiknya seperti seekor ulat bulu.


Angel mengangguk sambil menikmati sensasi sentuhan tangan Dante. "Ya, Tuan Morgan,"


Secara tidak sadar, Dante mengarahkan wajahnya ke wajah Angel dan dia berhenti tepat pada jarak 1 sentimeter dari bibir gadis itu. "Aku tidak yakin, Angel Sayang,"


Perlahan, Angel memberanikan diri untuk bergerak lebih mendekat sehingga mereka saling merasakan hembusan napas masing-masing. "Kau harus yakin padaku, Tuan Morgan. Aku tidak memiliki perasaan apa pun kepadamu," Angel memainkan jarinya di bibir Dante dan menggerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang dengan perlahan. "Kalau aku, katakanlah, mencintaimu, maka kau akan kubiarkan menciumku, Tuan,"


Dante memejamkan kedua matanya dan mengecup jari Angel yang menempel di bibirnya. "Begitu? Tapi pagi ini, kau nakal sekali, Angel! Aku ingin mengajakmu berbicara bukan bermain,"


Lagi-lagi Angel membuat Dante menahan napas karena perbuatannya yang berani. Gadis itu menempelkan bibirnya di jari telunjuk yang berada di bibir Dante. Dengan suara serak yang menggairahkan, dia berbicara lembut kepada Dante, "Bicara saja, Tuan Morgan,"


Setelah itu, Angel menjauh dan menyeringai lebar. Wajahnya pura-pura kaget dan menjadi terlihat menggemaskan. "Oh, ada yang terbangun dari tidurnya,"

__ADS_1


"Kau nakal sekali, Angel. Kau membuatku pusing! Tapi, ayo kita bicara. Hanya bicara," kata Dante mengangkat gadis itu untuk duduk di kursi yang berada di sebelahnya. "Seharusnya dari tadi begini saja, yah?"


"Hihihi, kau yang memintaku untuk duduk di pangkuanmu, Tuan," ucap Angel lagi terkikik geli.


Dante mengecup pucuk kepala Angel dengan sayang, lalu tiba-tiba saja, dia memberikan Angel sejumlah uang yang cukup banyak. "Berbelanjalah. Belilah beberapa gaun pesta untukmu karena akhir pekan ini, aku akan mengajakmu pergi ke pesta,"


Angel sudah sering diajak oleh Dante untuk pergi ke pesta atau sekedar bertemu dengan koleganya. Biasanya, Dante akan mengenalkan Angel sebagai asisten pribadinya sementara karena Theo sedang banyak pekerjaan. Selama ini, Angel sangat menikmati berbelanja dan berpergian dengan Dante, tetapi untuk berbelanja seorang diri, Angel belum pernah melakukan itu.


Selagi merenung, Dante memberikan sebuah tas kecil berwarna putih kepada Angel. "Bukalah,"


Gadis itu membuka hadiah pemberian dari Dante dan dia tercengang saat melihat isinya. "Ponsel? Kau memberiku sebuah ponsel, Tuan? Oh, terima kasih banyak, Tuan Morgan."


"Aku akan menghubungimu, lihatlah namaku!!" titah Dante sambil menempelkan ponselnya ke telinganya. Wajah pria itu tersenyum puas.


Angel segera melihat ponsel keluaran terbarunya itu dan memperhatikan layar ponsel. Di sana tersemat sebuah nama 'Daddy Dante'. Angel tersenyum. "Daddy?"


Dante mendorong tubuh Angel sehingga gadis itu terjatuh di atas ranjang. Satu demi satu, dia melucuti pakaian yang dikenakan oleh gadis yang disewanya itu. "Panggil aku, Daddy!"


"D-, Daddy," sahut Angel malu-malu sambil melengkungkan tubuhnya karena bibir Dante sudah bermain di perutnya yang rata.


"Ouuh, Daddy!" dessah Angel. Dia mendorong tubuhnya ke depan untuk memudahkan Dante menikmati miliknya. Kedua tangan gadis itu mencengkeram sprei dengan kencang.


Dante sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Angel untuk bernapas, dia terus mengobrak-abrik liang kenikmatan Angel hingga tak lama, Angel melepaskan sesuatu yang sudah nyaris meledak di dalam liang itu. Perlahan, Dante mengangkat wajahnya dan memandang gadis cantik yang tampak seksi itu di bawahnya. "Mulai sekarang, panggil aku, Daddy. Tidak ada Tuan Morgan lagi! Kau paham?"


Dengan napas masih tersengal-sengal, Angel mengangguk. "Ya, Daddy. Aku paham,"


"Oke," Dante pun kembali menghujani tubuh Angel denga kecupan dan menghujamkan miliknya pada liang gadis kecil itu. Mereka berdua bergerak dengan seirama, peluh membasahi keduanya, dan suasana pagi hari itu pun menjadi semakin panas.


Setelah selesai melakukan olahraga pagi yang cukup menguras keringat, Dante kembali mengingatkan Angel untuk berbelanja. "Aku mau uang itu kau habiskan untuk dirimu! Selama kau berada bersamaku, kau tidak perlu menabung, karena aku akan mencukupi semua kebutuhanmu,"


"Tapi, Tuan, ... Eh, maksudku, Daddy. Apa kau tidak menemaniku?" tanya Angel ragu-ragu.


"Aku ada rapat, Sayang. Maafkan aku. Supirku akan mengantarkanmu ke manapun kau ingin pergi," ucap Dante lagi dan Angel membantunya untuk memasangkan dasi di leher pria itu.


"Bolehkah aku mengajak seorang teman?" tanya Angel lagi.

__ADS_1


Dante memiringkan kepalanya. "Siapa dia? Apa aku mengenalnya?"


"Madam Sienna, Dad, dan kau telah mengenalnya dengan sangat baik," jawab Angel.


Dante mengerutkan keningnya, dia berpikir cukup lama, dan kemudian dia mengangguk. "Biar supirku yang akan menjemput Madam Sienna-mu itu. Belilah gaun yang cantik dan kejutkan aku di akhir pekan ini. Ah, aku harus segera berangkat. Aku akan sangat merindukanmu seharian ini, Sayang,"


Wajah Angel kembali merona merah. "Aku pun demikian, Dad,"


Setelah berpamitan, Angel menerima pesan dari Dante yang mengatakan kalau supir sudah dalam perjalanan untuk menjemput Madam Sienna. Angel pun mengirimkan balasan ucapan terima kasih dengan emoticon hati berwarna ungu yang bergerak-gerak.


Dua jam kemudian, Madam Sienna pun datang dengan menggunakan sepatu hak tinggi berwarna hijau neon menyala dan terusan super ketat seatas lutut berwarna merah muda yang sangat terang. Kedua bukitnya yang menyembul, bergerak kian kemari mengikuti langkah kakinya.


"Angel!" sapa wanita itu dengan teriakannya yang khas.


"Madam! Kyaaaa, aku merindukanmu!" balas Angel sambil berlari untuk memeluk wanita yang telah membesarkannya itu.


"Lihatlah dirimu, Sayang. Kau cantik sekali! Ah, kapan Dante-Dante lain mengajakku pergi? Aku menginginkan seorang Dante juga yang sanggup mengangkatku lebih tinggi sepertimu. Tapi, aku senang melihatmu, Angel Sayang! Oh, Angel!" ujar Madam Sienna yang tak hentinya mengoceh tanpa henti.


Angel menyeringai lebar dan memperlihatkan uang yang diberikan oleh Dante dan saking banyaknya uang itu, beberapa lembar beterbangan dan terjatuh ke lantai. "Aku akan membelikanmu gaun juga. Lihat! Tuan Morgan memberiku uang sangat banyak, Madam! Kita bahkan bisa membeli tokonya!"


Madam Sienna memeluk anak asuhnya kembali. "Ah, terima kasih, Anak Baik,"


Sebelum mereka berbelanja, Angel mengajak Madam Sienna untuk berkeliling di rumah Dante dan wanita itu tak berhenti mengagumi rumah besar yang mewah itu.


"Kau sudah siap, Madam?" tanya Angel sambil menawarkan lengannya.


Madam Sienna mengangguk dengan bersemangat. "Siap! Aku akan bersenang-senang denganmu sepanjang hari ini dan ceritakanlah padaku segalanya, Sayang,"


Angel tersenyum senang. "Oke,"


Dengan langkah ringan dan diiringi canda tawa, mereka berdua pun keluar dari rumah itu untuk berjalan-jalan menikmati suasana Kota Besar yang cukup ramai.


"Aku akan menceritakanmu tentang Evelyn Morgan," ucap Angel ketika mereka sudah di dalam mobil dengan suaranya yang nyaris berbisik.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2