
Begitu nengetahui Nick menjalankan tugasnya dengan baik, Dante segera mengangkat Nick menjadi pengacara pribadinya. "Naikan berita ini ke media sosial dan biarkan wartawan mewawancarainya,"
"Baik, Tuan," ucap Theo patuh.
"Ah, jika Evelyn mencariku, katakan saja dia bisa titipkan pesan melalui pengacara baruku. Oh, apakah Nick benar-benar tidak menyukai wanita?" tanya Dante. Dia tidak ingin kejadian seperti Josh terulang lagi.
Kalau dipikir-pikir, siapa yang dapat menolak godaan Evelyn Smith. Sebagai seorang wanita, Evelyn adalah sosok yang sempurna. Wajahnya cantik dan tubuhnya sangat menggoda. Belum lagi permainan yang dia berikan kepada pria-pria tersebut. Tanpa sadar, Dante mengukir senyum di wajahnya. "Josh yang garang saja bisa terlena dengan Jallang itu, apalagi Nick,"
"Percaya padaku, Tuan. Nick bukan pencinta wanita. Kali ini, Anda aman. Oh, soal liburan. Apakah jadi? Karena aku tinggal mentransfer penginapan serta akomodasinya," ucap Theo sekaligus bertanya tentang rencana liburan Dante.
Dante penasaran ke mana mereka akan pergi, tetapi dia cukup kuat menahan rasa ingin tahunya sampai Angel selesai beristirahat. "Bayar saja semuanya. Berikan yang terbaik, dia gadis terbaikku, Theo,"
Theo mengangguk. "Baik, Tuan,"
"Kalau begitu semuanya sudah selesai?" tanya Dante, kemudian seolah teringat sesuatu, dia menegakkan tubuhnya. "Oh iya, bagaimana dengan pihak kepolisian?"
"Biar aku saja yang mengurus. Tidak ada sidik jari Anda di tubuh Josh dan ruangan itu. Jadi dapat dipastikan, memang Anda tidak bersalah dan hanya datang sebentar untuk mengurus pekerjaan yang tertunda," jawab Theo lagi.
Dante memberikan ibu jarinya pada Theo. "Oke! Kau yakin bisa mengurusnya?"
"Bisa, Tuan," sahut Theo mantap.
Setelah segalanya selesai dan memastikan berita tentang Nicholas Hoult sudah naik tayang, Dante menyusul Angel ke kamar. Terlihat jelas di wajah pria itu kepuasan dan kelegaan. Semua kekhawatirannya hilang.
Berlibur adalah hadiah sekaligus permintaan maaf Dante untuk Angel karena seharian itu, dia telah menyita waktunya dan membuat gadis itu takut kepadanya. Siapa yang tidak takut mendengar berita orang gantung diri setelah dikunjungi? Wajar saja kalau takut, ',kan?
Setibanya di kamar hotel, Angel memang terlelap. Dante menghampiri gadis itu dan berbaring di sisinya. Dia memeluk tubuh Angel dari belakang.
Gadis itu tersentak bangun dan beranjakndari ranjang. "Oh, ternyata kau, kupikir siapa!"
__ADS_1
Dante meminta Angel untuk berbaring lagi di sisinya. "Maaf aku membangunkanmu. Aku hanya ingin memelukmu. Berbaringlah kembali,"
Angel kembali berbaring dengan wajah menghadap kekasihnya itu. "Urusanmu sudah selesai?"
Dante memejamkan matanya sambil mengangguk perlahan. "Sudah, Sayang. Maaf aku meninggalkanmu terlalu lama,"
Jemari tangan Angel membelai rambut Dante dan mengukir setiap lekuk wajahnya. "Tidak apa-apa, Dad. Tidak terlalu lama juga, kok, karena aku tertidur,"
Sebuah kecupan mendarat di kening Angel. "Entah bagaimana hari jika tidak ada kau, Angel. Segalanya berantakan dan mungkin akan bertambah berantakan. Kasus bunuh diri Josh, itu di luar perkiraanku. Aku tidak sehebat itu hingga bisa mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu,"
Angel mengangguk-angguk. Jarinya berhenti di bibir Dante dan dia mengukir bentuk bibir pria itu. "Aku tau, Dad. Sekarang, cobalah untuk santai dan pejamkan matamu,"
Dante menurut. Dia merasakan belaian halus jari jemari serta tangan Angel di wajahnya. Kedua matanya terpejam dan dia merasa tenang untuk pertama kalinya di hari itu.
Setelah beberapa menit, Dante merasakan bagian bawahnya berdiri tegak. Dia pun membuka kedua matanya dan tertawa. "Astaga, hahahaha! Angel, apa yang kau lakukan?"
Angel mengangkat wajahnya sembari tersenyum. "Aku iseng," jawab gadis itu, kemudian dia kembali melanjutkan aktivitas isengnya di bawah.
Puas karena sudah mengibarkan bendera keperkasaan milik kekasihnya, Angel melarikan lidahnya naik ke atas dan akhirnya dia duduk di atas tubuh Dante, lalu bergerak sempurna untuk memompa gairah pria tampan yang ada dibawahnya itu.
Tak tahan untuk tidak membalas perbuatan Angel, bibir Dante bergerak kian kemari, mencari kenikmatan yang dapat dia cecap saat itu. Mereka pun bergerak semakin panas, mengalahkan panasnya udara sore hari itu.
Kini, satu ruangan Suite itu dipenuhi oleh erangan, dessahan, dan lenguhan kenikmatan dari keduanya. Tak beberapa lama, pelepasan pun terjadi. Dante merubuhkan tubuhnya ke ranjang sambil memeluk Angel dalam dekapannya.
"Kukira kau sudah lupa jalan ke sana karena sekarang hidupmu sudah cukup serius," ucap Dante sambil mengecup pucuk kepala kekasihnya.
Angel tersenyum, dia berbaring di sisi Dante. Jari-jarinya yang lentik seolah tidak bosan berlarian di sepanjang tubuh Dante yang kekar. "Mana pernah aku lupa itu, hahaha! Aku selalu ingat jalan menuju ke sana, Dad,"
Dante pun tertawa. Suara dering ponsel Dante mengacaukan suasana hati pria itu. Dia mengumpat kesal dan mengangkat panggilannya. Hanya satu kata oke dan dia segera menutup ponselnya.
__ADS_1
"Ayo, kita siap-siap," sahut Dante, dia memakai kembali kemeja dan celana panjangnya.
Angel yang sudah nyaman dengan bantal dan ranjang, enggan beranjak. "Untuk apa?"
"Berlibur, Sayang. Aku tidak tau ke mana, karena kau yang memilih tempatnya. Ayo, sebelum ketinggalan pesawat!" tukas Dante.
Angel tercengang. "Kau sudah membayarnya? Tapi, itu jauh sekali dan aku tidak serius saat mengatakan itu. Maksudku, aku hanya suka pemandangannya, itu saja,"
Dante melompat ke ranjang seperti seekor lumba-lumba. "Aku akan memberikan apa pun untukmu, Sayang. Bahkan, jika kau memintaku untuk memetik bintang, aku akan pergi ke langit dan memetiknya untukmu. Ayo, cepat, pakai pakaianmu sebelum aku yang memakaikannya,"
Sementara itu di kediaman Dante Morgan, Evelyn masih dilanda kepanikan hebat. Apalagi kali ini, surat panggilan dari pengadilan sudah dilayangkan kepadanya.
"Apa yang harus aku lakukan, Jarrel? Hanya kau yang aku miliki saat ini," kata Evelyn.
Wanita itu memang meminta kekasih gelapnya yang sudah naik level menjadi kekasih sungguhan itu untuk datang ke rumah Dante untuk membantunya berpikir.
"Orang suruhanmu sudah memberikan kabar?" Jarrel balik bertanya.
Evelyn mengangguk. "Mereka masih mencari informasi tentang keberadaan Morgan dan gadis itu! Aku bahkan tak samggup lagi menyebut namanya. Aarrgh, aku tidak suka tampak lemah seperti ini!"
"Aku rasa, untuk saat ini ada baiknya kau datang ke pengadilan untuk memenuhi panggilan itu. Paling tidak, kau terlihat menjadi warga negara yang baik, 'kan? Apalagi teman-temanmu sudah menyudutkanmu karena kasus perceraian ini," usul Jarrel.
Sejak berita tentang Joshua Floyd yang mengakhiri hidupnya dengan cara tragis, teman-teman sosialita Evelyn mulai menjauh dan bahkan beberapa dari mereka secara terang-terangan menyerang Evelyn.
"Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang," jawab wanita cantik itu lemah.
Di tengah keputusasaannya, Evelyn akhirnya mendapatkan titik cerah. Ketika ponselnya berdering, Evelyn mengangkatnya. Setelah mendengar kabar dari seseorang yang meneleponnya, wajah wanita cantik terlihat sumringah. "Jarrel, ayo, kita berlibur!"
"Heh? Apa!" sahut Jarrel terkejut dan tak mempercayai pendengarannya.
__ADS_1
...----------------...