
Sejak Dante mengungkapkan kalau dia masih mencintai Evelyn, Angel berusaha jaga jarak dengan pria itu. Dia hanya akan ada jika dibutuhkan. Misalnya, saat Dante menginginkan Angel di malam hari, maka Angel siap menemani Tuan Presiden Direktur itu.
Segala rasa yang pernah ada untuk Dante, perlahan dia buang jauh-jauh. Gadis cantik itu baru merasakan sakit karena cinta dan dia tidak ingin rasa sakit itu terus mendera hidupnya. Maka, dia kembali menjadi Angel yang dingin dan tidak memiliki perasaan.
"Sudah kukatakan kepadamu, jangan munculkan Carmen!" tukasnya bermonolog pada suatu hari sambil menatap diri di cermin.
Carmen adalah sosok asli Angel. Nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan dia melepaskan nama itu sejak dia diajak tinggal bersama dengan Madam Sienna. Nama Angel adalah nama yang diberikan oleh Madam Sienna kepadanya karena Angel seorang gadis yang cantik dan membawa keberuntungan sendiri bagi Madam Sienna.
Sejak saat itu pula, perlahan-lahan Angel mulai meninggalkan nama Carmen dan menciptakan sosok Angel yang sempurna di dalam dirinya.
Namun akhir-akhir ini, saat gadis itu berhadapan dengan Dante, sosok Carmen seakan menyerobot keluar dan menguasai Angel. Hal itu membuat Angel merasa kehilangan jati dirinya.
Belum lagi perlakuan Evelyn yang selalu berjengit setiap kali wanita itu melihatnya. Satu-satunya hal yang dia syukuri adalah Frank yang tidak muncul lagi dan Dante yang selalu mengajaknya keluar, sehingga dia tidak perlu bertatapan muka dengan Evelyn.
Terkadang dia hanya sekedar melaksanakan tugasnya sebagai gadis pendamping Dante Morgan. Akan tetapi, Dante ini berbeda dengan pria kebanyakan yang sering bermalam dengan Angel dan menjanjikan kalau mereka akan menikahinya. Dante tidak banyak omong atau mengumbar janji, tetapi dia memperlakukan Angel dengan sangat baik sehingga sulit bagi gadis itu, untuk menyingkirkan rasa cintanya pada seorang Dante Morgan.
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini! Aku bisa gila! Aku harus memutuskan apakah aku akan tetap suka atau tidak! Baiklah, tidak! Ya, itu yang harus kau lakukan, Angel! Sadarlah, bangunlah!" ucap Angel suatu hari sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan, Sayang?" tanya Dante yang tiba-tiba saja melingkarkan lengannya di pinggang Angel sambil menciumi punggung Angel yang terbuka.
Angel kembali melemah. Belum pernah ada pria semanis Dante selama ini. "Aku hanya sedang bertanya kepada diriku sendiri, kenapa aku lemah?"
"Kau lemah? Hahahaha! Kau sangat hebat di ranjang, Sayang," ucap Dante. Dia memutar tubuh Angel sehingga mereka saling berhadapan.
Wajah Angel memerah. Awalnya dia tidak pernah berpikir kalau Dante seorang pria yang dapat tertawa, ternyata pria itu sosok yang menyenangkan dan senang sekali tersenyum atau tertawa. "Bukan tentang itu, tapi tentang aku,"
Dante menyibakkan rambut Angel ke samping dan mengecup ceruk leher gadis itu dengan lembut sembari memeluk tubuh mungil Angel. "Ada apa denganmu?"
__ADS_1
Suara bisikan Dante berhasil membuat seluruh kulit Angel meremang. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang merasakan lemah saja,"
"Jangan pikirkan itu!" dengan mudah, Dante mengangkat Angel ke atas meja rias dan melanjutkan kecupannya yang semakin menurun. "Pikirkan saja aku! Semakin hari, aku semakin tidak bisa lepas darimu. Kira-kira kenapa aku bisa seperti itu? Apa kau menyihirku?"
Dessahan Angel lolos saat bibir Dante mendarat di pucuk bukitnya dan menyesap benda itu dengan lembut. Sudah tidak ada lagi Evelyn di kepala Angel. Hanya ada Dante, Dante, dan Dante Morgan.
Sambil menarik rambut Dante supaya semakin mendekat, Angel tertawa kecil. "Kau yang menyihirku, Tuan Morgan,"
"Hmm, benarkah?" tanya Dante tanpa melepaskan bibirnya.
Angel mengangguk dan kembali mengerang saat Dante memainkan jari-jarinya di lembah miliknya yang sudah sangat basah. Pemanasan yang dilakukan oleh Dante menduduki posisi teratas dari daftar pria yang pernah bermain dengan Angel. Lembut, teratur, berirama, dan indah.
Tak lama, mereka mulai bergerak bersamaan. Permainan inti sudah dimainkan, hingga akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan.
"Kau masih belum mau menciumku?" tanya Dante.
"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Dante tersenyum menggoda.
"Begini saja, ...." Angel mengecup kening Dante dan kemudian, dia segera turun dari meja rias sambil berlari kecil.
Dante mengusap keningnya sambil tersenyum. Angel telah membuat pagi Dante terasa berwarna. Tak hanya pagi hari itu, tetapi beberapa pagi ini, entah sejak kapan.
Pria itu memang sudah terpesona dengan Angel, tetapi perasaannya semakin hari semakin dalam dan entah bagaimana, gadis itu berhasil membuat Dante selalu merindukannya atau bahkan tersenyum-senyum sendiri.
"Kau jatuh cinta!" tukas Frank saat mereka makan siang bersama setelah Dante menghubunginya untuk bertemu.
Dante menyeringai lebar. "Sok tau! Bisa saja aku baru mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat,"
__ADS_1
"Di keningmu jelas tertulis kau jatuh cinta, Dante. Katakan padaku siapa wanita beruntung itu? Ah, tapi, bagaimana dengan Evelyn?" tuntut Frank lagi. Tangannya sibuk memotong daging iga domba yang ada dihadapannya.
"Evelyn! Ah, aku tidak tau. Apakah aku harus bercerai dengannya? Maksudku, aku masih mencintainya. Sedikit," jawab Dante. "Perasaan itu semakin hari semakin hilang, Frank. Aku sudah terlanjur kecewa padanya dan di saat aku sedang kecewa, datanglah gadis ini dan dia seolah menarikku dari keterpurukanku,"
Frank menelan daging dombanya, setelah itu dia menjawab sahabatnya, "Angel? Kau jatuh cinta padanya?"
"Apakah jelas sekali?" Dante balas bertanya sambil kembali menyeringai lebar.
"Hahaha! Siapa lagi wanita dihidupmu akhir-akhir ini selain Angel? Tapi, apa kau yakin dengan dia? Maksudku, kau tau, dia-, ... Seperti itu," ucap Frank berhati-hati. Mereka baru saja berbaikan, sehingga Frank sangat menjaga supaya Dante tidak marah lagi kepadanya.
Dante memiringkan kepalanya. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal tentang Frank ini. "Dari mana kau tau kalau Angel adalah seorang gadis bayaran?"
"Eve," jawab Frank singkat. "Sorry, awalnya kupikir kau menyewanya selama beberapa hari, tak kusangka ternyata kau jatuh cinta kepadanya,"
"Evelyn? Jahat sekali mulut wanita itu! Kalau aku tak memikirkan dia akan tinggal di mana, aku sudah menceraikannya sejak kemarin! Apa yang dimiliki kekasihnya? Tidak ada!" tukas Dante kesal. "Mau jadi apa dia nanti? Luntang lantung di jalanan? Seluruh tubuh Evelyn itu adalah milikku! Bukan milik pria miskin itu! Cih!"
Sontak saja Frank tertawa mendengar omelan sahabatnya itu. "Hahaha! Kau cemburu rupanya, Dante. Mana yang akan kau pilih, Evelyn atau Angel?"
Dante terdiam dan meneruskan makannya. Pandangan matanya jauh ke depan, entah apa yang dipikirkannya saat ini. Saat jauh dari Angel, dia merindukan gadis itu. Bahkan terkadang, dia sudah sampai pada tahap membutuhkan Angel di hidupnya. Untuk sekedar berbagi cerita atau menjadi seorang teman jalan dan bicara. Namun di lain sisi, dia belum siap melepaskan pernikahannya dengan Evelyn. Cinta macam apa ini? Mengapa sulit sekali?
Selagi berpikir, Frank memberikan dua lembar tiket kepada Dante. "Datanglah ke acara perjamuan teh teman sekolah kita dulu. Kau ingat pada Christ? Chirstian Grey? Dia mengadakan pesta pekan depan. Datanglah bersama Angel, aku akan bersama Evelyn. Saat di pesta nanti, kita akan bertukar pasangan. Tentukan pilihanmu di sana,"
Dante mengambil tiket itu dan membacanya sekilas. "Apa yang akan kau lakukan pada Angel? Awas saja sampai kau macam-macam dengannya, Frank! Aku tidak akan sungkan mengulitimu!"
"Hahaha! Kau pria egois, Dante. Kau tau kau tidak bisa memiliki keduanya, tapi kau menginginkan mereka! Ckckck! Tenang saja, Angel akan aman bersamaku. Lagi pula, teman-teman kita pasti akan bertanya tentang Eve, 'kan?" tanya Frank lagi, ada senyum licik menghias di wajahnya.
"Aku akan datang dan akan tetap mengawasimu! Tak akan kuserahkan Angel kepadamu, Frank! Sedetik pun tidak!" tukas Dante dan sepertinya pria itu kembali menabuhkan genderang perang kepada teman laki-lakinya itu. Selepas dia pergi, Dante baru menyadari kalau rasa cintanya terhadap Angel lebih besar daripada Evelyn. Untuk saat ini saja.
__ADS_1
...----------------...