Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Kau Masih Mencintainya


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Dante, sikap Angel berubah. Dia jadi sering termenung dan terdiam. Tatapan matanya terkadang kosong. Satu hal yang terlihat sangat mencolok adalah, dia tak lagi duduk di pinggir pantai saat malam tiba.


Walaupun Sid mengajaknya, Angel tetap menolak. Saat mereka berada di restoran pun, Angel tidak mau keluar. Dia memilih untuk membantu Sarah memasak serta mencuci piring dan membiarkan Sid kewalahan di depan.


"Kau sakit, Nak? Sejak pulang dari Kota, wajahmu pucat dan kau terlihat lesu. Apa Sid membuatmu lelah kemarin?" tanya Sarah. Wajah wanita itu tampak khawatir.


Angel memeluk Sarah. "Aku hanya sedang tidak ingin bertemu orang, Bu,"


"Begini saja, aku meminta bantuan ibu Neil untuk membantuku, tentu saja aku akan membayarnya. Biarkan dia menggantikanmu sampai kau pulih. Aku akan meminta Sid mengantarmu pulang sekarang," kata Sarah lembut. "Istirahatlah, Nak dan jangan memikirkan hal buruk. Kau sendiri yang akan tersiksa nantinya,"


Sarah dapat merasakan kalau Angel menangis, karena tiba-tiba saja pundaknya terasa hangat. Gadis itu menangis sesenggukan di dalam pelukan Sarah.


Beberapa menit kemudian, Angel merasa sedikit lega. Dia terisak dan mengusap matanya. "Terima kasih, Bu,"


"Cepatlah pulang! Aku juga akan tutup lebih cepat hari ini," kata Sarah. Bola matanya berlarian ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan putra sulungnya. "Sid! Sid! Antarkan adikmu pulang dan tolong panggilkan Nyonya West untukku!"


Sid bergegas ke belakang restoran kecil itu dan melepaskan apronnya. "Carmen kenapa, Bu? Dia sakit? Kau sakit?"


Satu pukulan mendarat di punggung Sid dan suaranya cukup kencang hingga pemuda itu meringis memegangi punggungnya. "Kenapa aku dipukul?"


"Kau yang mengajak Carmen ke Kota hingga larut malam! Sudah, ajak dia pulang dan biarkan dia tidur! Jaga dia, Sid, dan jangan main selama aku belum pulang. Kau paham?" titah Sarah sambil menatap tajam kepada anak laki-lakinya itu.


Setelah mengangguk dan berpamitan, Sid mengajak Carmen kembali ke rumah. Sid tau sekali kalau Carmen tidak sakit, gadis itu takut untuk bertemu dengan Dante Morgan.


Sepanjang jalan, Sid menggenggam tangan adiknya itu. Angel pun merasa tenang dan aman berada bersama Sid. "Sid, maafkan aku. Aku aneh sekali, yah? Seharusnya aku bisa bersikap biasa aja. Tapi, Dante mempengaruhi hidupku sampai aku ketakutan seperti ini,"


"Ehem! Lupakan saja," kata Sid. "Hari ini, kau harus istirahat dan tenangkan pikiranmu. Jangan pikirkan soal Morgan Brengsek itu, Frank Tua, atau siapapun. Oke?"


Angel mengangguk. Bersama Sid, dia berharap dia sanggup melewati ini semua, seperti sebelumnya. Namun, bayangan Dante serta senyum pria itu selalu saja muncul setiap kali dia memejamkan mata.


Rasa takut itu perlahan menjalar dalam diri Angel dan berusaha untuk menguasainya. Dia takut Dante muncul kembali, dia takut dia kehilangan Sid dan Sarah, dia takut kehidupan yang sudah dia tinggalkan harus dia hadapi lagi, dan yang sangat membuatnya takut adalah, Evelyn.


Di balik semua rasa takutnya, ada kerinduan yang sangat besar yang Angel pendam untuk Dante. Bagaimanapun hubungan mereka belum selesai dan Angel seharusnya, tidak perlu menuntut penyelesaian. Dia hanya harus fokus pada kehidupannya sekarang dan dia akan baik-baik saja. Seharusnya seperti itu, tetapi nyatanya, Angel tergoyahkan hanya karena pertemuan kurang dari 3 menitnya dengan Dante. Maka, hanya Sid satu-satunya harapan Angel untuk membantunya melupakan Dante.


Setibanya di rumah, Sid dan Angel dihadapkan pada situasi yang cukup canggung. Mereka berada di dalam kamar Angel hanya berdua saja.

__ADS_1


"Ehem! B-, bolehkah kubuka pintunya?" tanya Sid dengan wajah memerah.


Angel yang sudah berganti pakaian dengan memakai kaus dan celana pendek mengangguk. "Silakan, Sid. Apa kau kepanasan? Wajahmu merah sekali,"


"Tidak! Tidak! Hei, aku menyuruhmu untuk berbaring, bukan duduk dan termenung di depan jendela seperti itu! Cepat, berbaringlah!" titah Sid berusaha tampak tenang dan bersikap biasa saja.


Dengan mulut mencebik, Angel berjalan ke ranjangnya, dan duduk di tepian ranjang. "Duduklah di sisiku, Sid. Temani aku,"


Sid ragu-ragu, tetapi kemudian, dia menuruti keinginan kekasihnya itu dan duduk di samping Angel. "S-, sudah! Sekarang, kau harus tidur atau kulaporkan kau pada ibu,"


Angel menatap manik cokelat milik Sid dalam-dalam dan menggenggam tangannya. Rasa hangay dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Angel. "Sid, andaikan aku goyah, maukah kau tetap mempertahankanku? Atau semisal aku bersikeras untuk pergi, maukah kau menahanku?"


"Kenapa kau ingin pergi? Kau bilang, kau ingin tetap berada di sini karena kehidupan seperti ini yang kau impikan," tuntut Sid lagi.


Tarikan napas Angel terdengar berat. Butiran bening bak kristal meluncur dari pelupuk matanya. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia menjadi sangat cengeng dan mudah sekali mengeluarkan air mata. "Aku tidak ingin pergi. Tapi, andaikan aku harus pergi, itu berarti ada yang harus aku selesaikan dan aku tidak ingin kau terlibat. Saat ini, aku takut sekali, Sid,"


Sid mengusap air mata Angel dan mengecup kedua mata cantik itu. Kedua tangannya memegang kedua pipi Angel. "Mudah saja, jangan pergi dan tetaplah bersamaku,"


Kedua netra mereka saling menyapa. Lambat laun, entah siapa yang memulainya, tak hanya netra mereka yang saling menyapa, tetapi juga bibir mereka saling bertemu.


"Sid, kau boleh menyentuhku," bisik Angel di telinga Sid.


Sid menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak bisa memulainya lebih dulu karena aku takut membuka traumamu,"


"Kau terlalu baik, Sid," ucap Angel dan dia menggigit kecil telinga kekasihnya itu.


Sid terkesiap dan melenguh. Mendengar suara dessahan Sid, Angel semakin bersemangat. Kali ini, dia memasukan ciumannya ke dalam ceruk leher kakak tirinya dan menyesapnya sehingga tercetaklah tanda merah di sana.


"Aaah, C-, Carmen! Jangan dilanjutkan!" tukas Sid menahan tubuh Angel. "Nanti kita keterusan, bisa bahaya,"


Wajah Angel tampak kecewa. Semangat yang tadi berkobar-kobar bak api yang menyala, seketika padam. "Tapi, aku mau,"


Jari jemari Angel tak dapat berhenti mengukir dada bidang Sid dan terus dia biarkan berlarian hingga dia menemukan sesuatu yang membuatnya menyeringai lebar. "Tapi, adikmu berkata lain, Sid,"


"H-, hentikan, Carmen, kau membuat kepalaku pusing! Ooh, sudahlah! Aku akan berjaga di luar," kata Sid menepis tangan Angel dari sesuatu miliknya yang berada di bawah sana. Andaikan ia bisa protes, benda itu sudah pasti akan mengomeli dan mencaci maki Sid.

__ADS_1


Namun, Angel menariknya dan terus menggodanya. Tak tahan, Sid mengangkat tubuh kecil kekasihnya itu seperti mengangkat karung beras dan menggelitik pinggang gadis itu, hingga Angel terkikik geli dan tertawa.


Selagi mereka tengah bercanda, suara bel pintu rumah mereka berbunyi. Sid menurunkan Angel dan merapikan pakaian adiknya serta pakaiannya sendiri. Tak lupa dia meminta Angel untuk kembali ke kamar. "Itu ibu, berbaringlah!"


Angel menurut, dia kembali ke kamar sedangkan Sid, membukakan pintu untuk tamu yang dia kira Sarah itu. "Sebentar, Bu! Carmen baru saja tertid-, ... Dur ...."


Sid tercekat karena dua orang yang dibencinya berdiri di depan pintu rumahnya sambil menenteng kotak makanan.


"Hai, Sid," sapa salah satu dari mereka.


"Frank, mau apa kalian datang ke sini?" tanya Sid dengan suaranya yang dingin.


Frank menyerahkan kotak makanan itu kepada Sid. "Kami tadi makan siang di restoranmu dan ibumu menitipkan ini untuk adikmu yang katanya sedang tidak enak badan. Kata ibumu, Carmen suka sekali dengan pasta seafood ini,"


Dengan kasar, Sid mengambil kotak makanan itu dari tangan Frank. "Terima kasih! Maaf merepotkan!


Sid pun masuk ke dalam dan hendak menutup pintu. Namun, kaki Frank menahan pintu tersebut. "Temanku ingin berbicara dengan adikmu. Kau tau, dia kekasih Carmen. Dia Dante Morgan,"


"Bolehkah?" tanya Dante.


"Tidak! Adikku sedang tidur dan ak-, ...."


Suara Angel membuat Sid mencelos. Dia memejamkan matanya sesaat dan terus berusaha untuk menutup pintu. "Sid? Apa itu ibu?"


"Carmen, berhenti! Masuklah ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memintamu untuk keluar!" titah Sid.


Sebelum Angel berbalik arah dan melangkah, suara Dante menghentikan langkahnya. "Angel, ini aku! Aku ingin bicara denganmu! Aku merindukanmu, Angel. Kumohon, bicaralah padaku,"


Angel mematung, dia diam tak bergerak. Pandangan matanya bertemu dengan manik Sid. Pria itu menggelengkan kepalanya. "Jangan, Carmen! Jangan temui dia! Kau yang memintaku untuk menahanmu, kumohon, jangan pergi,"


"Sid, tapi, ...."


"Kalau kau tetap pergi, aku menganggap kau masih mencintainya!" kata Sid tajam.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2