Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Pesta


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba, Dante duduk di taman di depan rumahnya sambil merenungkan sesuatu. Hari ini, dia akan datang bersama Angel, tetapi ketika nanti sampai di tempat pesta, dia akan bertukar pasangan dengan Frank.


Siapa yang akan dia pilih? Sejak kemarin, hanya itu saja yang dia pikirkan. Di saat Angel semakin mengambil alih pikiran dan hatinya, di saat yang sama, kecemburuan dia kepada Evelyn dan kekasihnya semakin besar.


Dante tidak pernah menyangka kalau dia akan menjadi seorang Don Juan. "Aku tidak pernah menyangka kalau aku bisa mencintai dua wanita sekaligus di saat yang bersamaan. Aarrgghh!"


Di lain sisi, Dante semakin tergantung kepada Angel. Dia tau sebentar lagi, kontraknya dengan Angel akan habis dan dia harus cepat membuat keputusan siapa wanita yang akan dia pilih, Angel atau Evelyn?


Pria itu menyandarkan tubuhnya di kursi taman dan tiba-tiba saja, matanya ditutup dengan tangan seseorang. Tangan itu harum dan halus, wanginya sudah sangat dia kenal. "Ev?"


"Ini aku! Kenapa harus Evelyn?" protes seorang gadis dan seketika dia membuka mata Dante. Sambil mencebik, dia duduk di samping Dante.


"Angel? Maaf, aku, ...."


"Tidak apa-apa. Aku tak tau kalau ini parfum yang dipakai oleh istrimu. Aku hanya suka wanginya saja, besok tak akan kupakai lagi!" ucap Angel masih mencebik.


Dante memeluk gadis itu. "Jangan marah, Sayang, nanti cantikmu hilang,"


"Tidak masalah cantikku hilang, asal jangan waktuku yang hilang," kata Angel.


"Apa?" tanya Dante.


Angel segera menggelengkan kepalanya. "Lupakan saja!"


Dante menarik tangan Angel dan mengecup punggung tangannya dengan lembut lalu menggenggamnya. Pria itu berusaha merasakan apa yang dia rasakan terhadap Angel. Ada rasa nyaman, tenang, damai, dan entah mengapa dia tidak ingin melepaskan genggaman tangan itu.


Begitu pula dengan Angel, dia sedikit kecewa kepada pria yang berada di sebelahnya itu. Bisa-bisanya nama Evelyn keluar dengan cepat dari mulut Dante. Menyakitkan! Semakin dekat dengan waktu kepergiannya, Angel semakin berat untuk meninggalkan Dante. Dia merasa, Carmen semakin kuat ingin mengambil alih dirinya.


"Kau sudah menyiapkan gaun untuk pesta nanti?" tanya Dante.


Angel mengangguk. "Ya, aku akan membuatmu tak bisa berpaling dariku, Dad,"


Dante mendekatkan wajahnya kepada Angel, tetapi gadis itu mundur dan menahan bibir Dante. "Aku harus bersiap-siap,"


Selama bersiap-siap, Angel menahan rasa sesak yang ditahannya sedari tadi. Dia ingin menangis, tetapi untuk apa dia menangis? Dia tidak menangis hanya karena seorang pria dan itu tidak ada di dalam kamus hidupnya.

__ADS_1


Saat Madam Sienna mengunjunginya beberapa hari yang lalu, Angel sempat bercerita kepada wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu dan kakaknya itu tentang bagaimana perasaannya pada Dante.


"Carmen? Menurutmu jatuh cintamu itu karena ulah Carmen?" tanya Madam Sienna saat itu dan Angel mengangguk dengan sangat yakin.


"Siapa lagi kalau bukan dia? Carmen ini membutku nyaris gila, Madam! Ada beberapa peraturan yang aku buat dan aku langgar. Salah satunya adalah aku bersenang-senang saat aku melakukan pekerjaanku dengan Tuan Morgan! Seharusnya itu tidak boleh, tapi hubungan kami menjadi semakin intim dan aku menikmatinya. Oh, buruk sekali!" tukas Angel sambil menutupi wajahnya.


Saat itu, Madam Sienna meminta Ange untuk menahan perasaannya dan jangan membiarkan perasaan cinta gadis itu semakin berkembang. "Jika itu terjadi, kau yang akan sakit, Angel,"


"Aku tau! Karena itu, ingin sekali aku membunuh dan melenyapkan Carmen Brooke Sialan ini!" tukas Angel kesal.


"Bagaimana kau akan membunuhnya, kalau dia adalah dirimu sendiri?" tanya Madam Sienna.


Pertanyaan itu tak pernah bisa dia jawab hingga saat ini. Carmen adalah sisi lain dari dirinya. Menurut Angel, Carmen seperti sisi gelapnya. Carmen sosok yang memberikan Angel segala kerepotan. Contoh, jatuh cinta. Maka dari itu, dia sangat membenci Carmen. Selama ini, dia mengunci Carmen dalam-dalam di hatinya dan kunci tersebut dia telan supaya Carmen tidak dapat mencuri kunci itu darinya.


Namun, begitu bertemu dengan Dante Morgan, Carmen mendobrak kurungannya dan berusaha untuk keluar. Sekarang, perasaan Angel campur aduk dan dia tidak menyukainya.


Tanpa terasa, Angel sudah selesai dengan persiapan pestanya dan dia tinggal memilih gaun yang sudah dia beli. Ada dua gaun yang ingin dia pakai sore itu, gaun yang pertama adalah gaun backless berwarna putih dengan model v neck di depannya yang akan menampakkan kedua belahan dadanya yang sempurna, Angel akan tampak seksi dan elegan memakai gaun itu. Sedangkan gaun yang kedua adalah gaun pendek tanpa tali dengan model baby doll bermotif bunga-bunga cerah dan dipadukan dengan sarung tangan putih yang akan menampilkan kesan anggun saat dipakai.


Sore itu, dia berniat memberikan tes kepada Dante. Apakah pria itu akan terus melihatnya atau tidak. Angel sama sekali tidak tau kalau Evelyn akan hadir bersama mereka, maka dia memilih gaun putih yang akan dia pakai bersama sarung tangan hitam dan topi fascinator berwarna putih dengan bunga kecil di sekitaran topinya.


Angel kembali memeriksa penampilannya. Gaun oke, rambut sudah tergelung sempurna, topi sudah rapi, sepatu juga tampak cocok, sempurna! "Masuk saja, Dad,"


Dante masuk dan melihat Angel berdiri berhadapan dengannya. Pria itu sungguh terpesona dibuatnya. "Wow, kau benar-benar cantik, Sayang,"


Pria itu segera memasukan Angel ke dalam pelukannya dan mengusap bagian belakang tubuh gadis itu. "Kau benar-benar mengalihkan duniaku, Sayang,"


Mendapatkan perlakuan lembut dari Dante, Angel mengalungkan kedua lengannya di leher Dante dan semakin menempelkan tubuhnya ke arah pria yang menyewa dirinya itu. "Benarkah?"


"Ya, benar. Bagaimana ini? Aku tidak suka kau akan menjadi tontonan teman-temanku nanti. Apa kita batalkan saja dan kita buat acara lain?" bibir Dante mulai berlarian ke ceruk leher Angel dan tangannya menyusup dengan mudah ke balik gaun gadis itu. "Oh, aku merindukan ini,"


Angel menengadahkan lehernya supaya memudahkan Dante mengecup lehernya. Dia mengerang lembut saat tangan Dante mneyentuh bukitnya. "Tapi, kita sudah memesan makanan. Apa tidak sayang? Begini saja, setelah pesta ini selesai, kita akan bermain sampai pagi,"


Tiba-tiba saja Dante menjauh. "Baiklah, ayo, kita jalan!"


Perubahan sikap Dante yang aneh itu membuat Angel mengerenyitkan keningnya dan secara tiba-tiba juga, firasatnya tidak enak tentang malam ini. Firasatnya tidak salah, saat dia melihat Evelyn yang keluar dari kamarnya dengan gaun yang tak kalah cantiknya dengan gaun yang Angel pakai.

__ADS_1


Wanita itu menghampiri Dante dan mengecup pipinya. "Sampai bertemu di sana, Sayang,"


"Dia ikut dengan kita? Oh, itu Frank! Apa mereka akan datang ke pesta itu juga?" tanya Angel.


Dante mengangguk dan menjawab semua pertanyaan Angel dengan singkat. "Ya, Sayang. Evelyn dan Frank adalah temanku,"


Sepanjang perjalanan, Dante tidak mengajak Angel berbicara sama sekali dan wajahnya menegang. "Dad, kau baik-baik saja? Atau kita mau kembali?"


"Tidak! Aku baik-baik saja," jawab Dante, lagi-lagi dengan singkat.


Setibanya di sana, Frank dan Evelyn sudah menunggu mereka. Entah bagaimana, Frank mengambil lengan Angel dan menjauhkannya dari Dante.


"Aku masuk duluan, Dante," kata Frank.


Dante berbisik kepada Frank, "Kalau kau berani menyentuh gadisku, kau tau akibatnya, Frank!"


Frank tertawa dan menepuk pundak Dante. Kemudian, dia membawa Angel masuk ke dalam rumah Christ. Angel yang tak tau apa yang terjadi memberontak dan berusaha melepaskan diri dari Frank. "Kenapa kau bersamaku? Aku datang bersama Tuan Morgan! Lepaskan aku, Tuan Stanley!"


"Kau lihat mereka?" tanya Frank dan dia menunjuk ke arah Dante yang memeluk pinggang Evelyn dengan erat. Wajah mereka berseri-seri, tak tampak kalau mereka akan bercerai. "Itu sebabnya malam ini, kau menjadi kekasihku. Hanya untuk malam ini, Sayang,"


"Tidak! Aku mau pulang!" tukas Angel dan dia menginjak kaki Frank dengan sepatu hak tingginya kemudian dengan setengah berlari dia meninggalkan tempat pesta itu.


Frank mengejarnya. "Angel, aku akan menemanimu!"


Angel tidak memperdulikan teriakan Frank, tetapi dia berhenti saat suara yang diharapkannya memanggil namanya. "Angel! Kau mau ke mana?"


Angel berhenti dan berbalik. "Dad, aku ingin pulang. Kau ikut denganku?"


Namun, Evelyn datang dan menarik Dante untuk segera masuk. Seolah tak mau kalah, Angel memanggil Dante. "Daddy, kau ikut denganku?"


Suara gadis itu tercekat dan matanya berkaca-kaca saat Dante mengucapkan maaf kepadanya. "Maaf, Sayang. Aku-, ... Aku-, ...."


Angel mengangguk. "Ya, selamat bersenang-senang, Tuan Morgan," kemudian dia berlari dan masuk ke dalam mobil Dante. Frank mengejarnya untuk ikut menemani Angel kembali sambil tersenyum penuh kemenangan.


Saat mobil berjalan, Angel menoleh ke belakang dan berharap Dante mengejarnya. Namun, Dante sudah tidak ada di sana. "Carmen Brengsek!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2