Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Kejutan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Frank sudah terlihat di depan rumah makan Hello Seafood yang belum beroperasi. Dia sengaja datang untuk menunggu kedatangan si pemilik rumah makan.


Begitu Frank mendengar suara pekik jerit dan tawa dari seorang gadis yang dia rindukan, hatinya seakan melompat keluar dan berlari memeluk gadis itu. Namun, tidak dengan Frank. Dia tetap menunggu di sana sampai seorang wanita bertubuh gempal melambaikan tangan ke arahnya.


"Selamat pagi, Frank," sapa wanita itu dengan ramah.


Frank menundukkan kepalanya. "Selamat pagi, Nyonya Jones,"


Tak lama, mereka berempat sudah sibuk mempersiapkan rumah makan kecil itu supaya bisa segera beroperasi. Frank pun ikut membantu mereka. Sesekali dia melihat Angel dari sudut matanya.


Gadis itu selalu mengekori ke manapun Sid pergi. Ada rasa sesak di dada Frank setiap kali melihat atau mendengar mereka berdua saling bersenda gurau.


Setelah selesai, Sarah mengizinkan Frank untuk beristirahat, tetapi tidak dengan kedua anaknya. Wanita itu memberikan tugas kepada Angel untuk menumis bumbu, sedangkan Sid dia beri tugas untuk membersihkan meja dan kursi makan serta mengganti galon air.


Frank memaksa untuk ikut membantu mereka, tetapi Sarah melarangnya. "Kau tamu kami! Tidak pantas kalau ada orang lain yang melihat kau membantu kami membuka rumah makan. Duduk sajalah, Carmen sedang membuatkanmu minuman,"


"Carmen, sudah belum, Nak? Bisa mati kehausan si Frank ini kalau kau terlalu lama di belakang!" tukas Sarah. Kemudian dia memegang tangan Frank dengan sangat hati-hati, seolah takut menggores kulit pria yang putih mulus itu. "Tunggu sebentar, ya,"


Selang 3 menit kemudian, Angel datang dengan membawa segelas minuman berwarna merah muda yang terlihat menyegarkan. "Ini minumanmu, Frank,"


"Silahkan dinikmati. Carmen, temani dia sebentar," ucap Sarah sambil lalu.


Angel pun mengangguk dan menyahut dengan enggan. "Ya, Bu,"


Frank menyesap minuman rasa strawberry yang dicampur dengan tequila, lime jus, serta margarita tersebut. "Kau pintar membuat minuman,"


Mau tak mau, Angel menarik otot-otot wajahnya. "Sid yang mengajariku. Dia pintar membuat koktail,"


"Bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak datang ke sini," tanya Frank sambil menyesap kembali minumannya.


Sebelum sempat Angel menjawabnya, Sid menghampiri mereka dengan membawa piring lebar di tangannya. Pemuda itu meletakkan tangannya di atas kepala Angel. "Kau sudah makan? Ibu! Nyonya West memberikanku paella, katanya untuk Carmen dan aku!"


"Makan saja! Ada angin apa dia memberikan kalian paella sementara aku menjualnya di sini?" terdengar sahutan suara Sarah dari belakang.


Sid menyeringai lebar, dia mengambil kursi, dan duduk di sisi Angel tanpa memperdulikan Frank yang ada di sebelahnya. "Buka mulutmu! Katakan, mana yang lebih enak, buatan ibu atau Nyonya West?"

__ADS_1


Angel membuka mulutnya dan mengunyah dengan lahap. "Hmm, ini enak. Tapi lebih enak masakan ibu! Tidak ada yang bisa menandingi masakan ibu!"


"Benar! Tapi, ini cukup enak," kata Sid lagi sambil menyuap sesendok besar paella.


Frank berdeham kencang dan tidak mungkin Sid tidak mendengarnya. Namun, Sid masih tetap asik menyuapi paella ke dalam mulut Angel.


"Ehem!" Frank berdeham kembali.


"Sid, ada Frank," ucap Angel.


Sid hanya menoleh sebentar, lalu dia menggeser kursinya. "Maaf, aku lupa menawarimu, Brother,"


Frank tersenyum dan menggerakan tangan ke kiri dan ke kanan. "Tidak apa-apa. Setelah makan, aku akan pergi. Tapi sebelum pergi, boleh aku bicara dengan adikmu?"


Angel mengangguk setuju. Dia tidak enak untuk menolak permintaan dari Frank karena dia sudah banyak membantu Sarah saat membuka rumah makan pagi ini.


Frank mengajak Angel berjalan-jalan menyusuri pantai sambil berbincang-bincang santai. Sesekali mereka terlihat saling menertawakan satu sama lain dan Angel tampak menikmati waktu mereka.


Tanpa mereka sadari, Sid mengikuti mereka dengan jarak yang cukup jauh. Dia memberengutkan bibirnya saat melihat tangan Frank melingkar di pinggang adiknya itu.


Seorang teman Sid yang melihat Sid berjalan, menghampirinya. "Hai, Sid!"


Sid berlari dan membekap mulut temannya itu. "Ssst! Sst! Apa kau pikir kita sedang berada di gunung sampai harus berteriak seperti itu!"


"Hmmpphh! Baiklah, maaf! Apa yang kau lakukan? Bukankah itu adikmu? Apa dia sedang berkencan? Waaah!" tanya pria itu sambil memandangi Angel dan Frank.


"Cih! Kau malah mendukung mereka, Neil! Kembalilah, aku harus menjaga adikku!" ucap Sid lagi sambil mengusir Neil yang sedang menertawakannya.


"Hahaha! Kau menyukai adikmu sendiri, Sid! Hahaha!" ejek Neil, melengos pergi.


Semburat merah menjalari wajah Sid dan dia bersembunyi lagi di tembok pembatas pantai supaya Angel dan Frank tidak melihatnya.


Setelah merasa aman, Sid kembali mengikuti mereka. Tak beberapa lama kemudian, terlihat Frank mengajak Angel untuk duduk di pagar pembatas pantai tersebut. Sid berlari mengendap-endap dan menghampiri mereka sedekat mungkin.


"Kau benar-benar tidak akan kembali?" Sid mendengar Frank bertanya kepada Angel.

__ADS_1


Angel menggelengkan kepalanya. "Tidak! Sudah berkali-kali kukatakan kepadamu, aku tidak akan kembali,"


Frank tampak menghela napasnya. "Apa kau tidak merindukan Dante atau kebersamaan kita dulu?"


"Kebersamaan? Apanya yang bersama-sama? Aku tetap sendiri dan kalian berdua, bersama-sama memakaiku! Jangan lupakan itu, Frank!" tukas Angel. Suaranya terdengar lelah dan bosan dengan topik pembicaraan yang diangkat oleh Frank saat itu.


Gadis dengan kepang dua itu kembali menggelengkan kepalanya sambil tertawa kering. Dia berharap pertanyaan Frank untuk mengajaknya kembali, tak perlu diulang lagi. Toh, dia juga sudah tau kalau Angel sudah resmi menjadi keluarga Jones.


"Angel-, ...."


"Jangan sebut nama itu! Kau tau kalau aku sudah resmi menjadi anggy keluarga Jones dan kau tetap memanggilku, Angel! Gila!" tukas Angel semakin kesal. "Percuma saja aku memberitahukanmu tentang segalanya kalau kau terus memanggilku Angel! Itu bukan nama asliku!"


Frank menahan tangan Angel saat gadis itu bergegas berdiri. "An-, Carmen, aku belum selesai,"


"Apalagi?" tantang Angel, menatap tajam Frank dengan kedua matanya yang bulat.


"Tidak bisakah aku tetap memanggilmu Angel? Aku mencintai dirimu sebagai Angel, bukan Carmen," ucap Frank.


Angel menyentakan tangannya. "Aku bukan pelacur murahan seperti yang kau kenal dulu! Aku sudah belajar banyak tentang bagaimana mencintai diriku sendiri dan orang lain. Kalau kau berkata seperti itu, cabut ucapan cintamu! Karena aku bukan Angel yang kau kenal! Jangan temui aku lagi!"


"Kau mencintai orang lain?" tanya Frank sambil berlari berusaha menghentikan Angel.


Sid yang sedari tadi bersembunyi ikut berlari kecil begitu melihat Angel berlari. Namun, dia tetap berhati-hati supaya tak terlihat oleh kedua orang yang sedang berdebat itu.


"Siapa orang itu? Katakan padaku, Angel!" desak Frank dan dia berhasil menghentikan langkah gadis yang wajahnya memerah karena menahan kesal itu.


Dengan napas memburu, Angel berhenti. "Kau ingin tau siap orangnya? Dia laki-laki yang tulus dan sangat baik padaku. Aku tidak ingin dia tau tentang perasaanku ini karena aku tidak mau menghancurkan keluarga yang sudah aku miliki saat ini! Kau tetap ingin tau?"


Frank mengangguk. "Ya, katakanlah!"


"Sid! Aku menyukai Sid, kakakku sendiri! Aku akan bawa rahasia ini sampai aku mati nanti! Jika aku mendengar ada berita tentang aku menyukai kakakku sendiri, aku akan tau siapa penyebar beritanya dan akan kupastikan dengan mataku sendiri kalau kau mati dimakan paus pembunuh!" jawab Angel panas, lalu dia kembali berlari meninggalkan Frank yang termenung seorang diri di pinggir pantai.


"Ya, Tuhan," desis Sid dalam persembunyiannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2