Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Pertengkaran


__ADS_3

Pagi yang sama di Kota Besar, Dante terbangun dan betapa terkejutnya dia melihat Evelyn tertidur di sampingnya. Pria itu bertambah kaget saat melihat dirinya dan Evelyn tidak mengenakan selembar kain pun.


Dia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi di pesta malam itu. Namun, kepalanya terasa berat dan pusing. "Aarrghh! Sepertinya aku harus bertanya pada Christ,"


Dengan perlahan, Dante beranjak dari ranjang dan keluar mencari tasnya. Pria itu melihat tas kulit bermotif huruf L dan V yang saling menempel itu, tergeletak begitu saja di atas sofa. Dia menghampiri tas tersebut dan mengambil ponsel yang ada di dalamnya.


Niatnya untuk menghubungi Christ dia batalkan, karena ternyata Christ mengiriminya sebuah video. Dante memutar video tentang dirinya dan Evelyn sedang bergulat di sofa L milik Christ. Dia bahkan dapat melihat dengan jelas kalau mereka sedang bersenang-senang. Christ juga menambahkan keterangan pada video itu. "Kau yang paling bersenang-senang tadi malam, Dante. Hahaha! Semoga awet dengan Eve-mu yang tersayang,"


Merasa mual dan jijik karena melihat video itu, Dante masuk ke dalam kamar Angel. Dia ingin meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi tadi malam di pesta. Namun, dia tidak menemukan Angel di kamar.


Walaupun begitu, Dante tetap masuk dan berbaring di ranjang sambil memeluk bantal yang dipakai oleh Angel. Dia menghirup wangi gadis yang sepertinya dia cintai itu dalam-dalam.


Tak lama, dia kembali mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Angel. "Kau di mana? Aku sudah kembali. Ayo, kita bicara!"


Suara dering ponsel terdengar di kamar itu. Dante segera melihat ke arah ponsel miliknya yang sedang dia genggam, tetapi ponsel itu diam dan tak berdering atau pun bergetar. Dante kembali mencoba mengirimkan pesan yang lain lagi kepada Angel dan lagi-lagi, terdengar suara ponsel.


Dante mencari suara ponsel tersebut dan ternyata ponsel itu berada di dalam laci meja rias. "Kenapa bisa ada di sini?"


Pria itu segera mencari Dave, karena supir pribadinya itulah yang terakhir bersama Angel. "Dave! Dave! Dave!"


Mendengar suara tuannya yang terdengar gusar dan kesal, pria paruh baya itu segera berlari tergopoh-gopoh menghampiri Dante. "Ya, Tuan,"


"Ke mana Angel? Kau yang bersamanya sejak kemarin malam, 'kan?" desak Dante.


"Maaf, Tuan. Tadi malam, saya mengantarkan Tuan Stanley dan Nona Angel ke rumah Tuan Stanley, lalu Tuan Stanley meminta saya untuk pulang ke sini. Tad-, ...."


Dante semakin geram mendengar nama Frank disebut. "Frank? Jadi, semalaman mereka berada di rumah Frank?"


"Ampun, Tuan, saya tidak tau. Tapi tadi pagi, sebelum Tuan bangun, Nona Angel berpamitan katanya mau pulang. Dia bawa koper dan tas," cicit Dave ketakutan. Dia menundukkan kepalanya dan tak berani menatap Dante secara langsung.


"Sialan! Brengsek! Arrgghhh!" Dante memukul meja makan dan segera bergegas pergi, kembali masuk ke dalam kamar Evelyn. Dengan kasar, dia membangunkan wanita itu. "Ev! Evelyn! Aku ingin bicara, bangunlah!"

__ADS_1


Evelyn mengerjap-ngerjapkam kedua matanya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia tersenyum manis sekali kepada Dante. "Selamat pagi, Dad,"


"Apa yang kau lakukan tadi malam! Christ mengirimkanku video yang sangat menjijikan! Apa yang kau lakukan!" tukas Dante, emosinya kian memuncak tatkala dia mengingat video tadi malam.


"Kau yang menarikku dan menciumku lebih dulu, Dad. Kita berciuman semakin lama semakin panas dan kau menggila. Aku tak bisa menghentikanmu, tapi ... Aku suka, Dad," jawab Evelyn malu-malu. Dia mengambil tangan Dante dengan lembut. "Sudah lama sekali kita tidak bermain seperti itu. Iya, 'kan, Dad?"


Dante menepiskan tangan Evelyn dan memejamkan matanya sesaat, berusaha mengingat kapan dia menarik Evelyn dan menciumnya? "Dengar, tadi malam aku sepertinya mabuk, sangat mabuk. Kurasa, kau memanfaatkanku, Ev! Aku sama sekali tidak menginginkanmu baik itu tadi malam atau pun malam-malam yang akan datang! Mulai detik ini, kumohon, menjauhlah dariku! Kalau perlu, pergi dari hadapanku, Ev! Jangan pernah temui aku lagi!"


Tamparan manis mendarat di pipi Dante. "Apa yang kau bicarakan, Dad? Kau lebih memilih gadis penjual diri murahan itu? Iya? Jawab, Dad!"


"Iya! Dan kuharap , begitu aku kembali nanti, kau sudah tidak ada lagi di rumah ini, Ev!" jawab Dante tegas. Manik birunya menatap tajam netra wanita yang sedang menangis di hadapannya itu. Kemudian, dia pergi meninggalkan Evelyn begitu saja.


Dante menyambar kunci mobil dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat. Tak perlu waktu lama bagi Dante untuk tiba di tempat yang dia tuju.


"Dante, masu-, ... Eerrghhh! Apa yang kau lakuk-, ... Ergh!"


Serangan demi serangan diberikan oleh Dante di wajah seorang pria. Dia memukuli pria itu bertubi-tubi, tak peduli lawannya sudah kewalahan dan terengah-engah. Tak puas sampai situ, Dante menyeret pria itu untuk berdiri dan mencengkeram lehernya. "Angel! Apa yang kau lakukan padanya? Di mana dia sekarang?"


Satu tinju kembali melayang di wajah pria itu. "Brengsek! Apa maksudmu dengan itu, Frank! Kau apakan dia, Sialan!"


Pria bernama Frank itu terbatuk-batuk dan menyeka darah yang keluar dari hidung dan sudut mulutnya. "Adegan dewasa, Dante! Kau memilih Eve dan dia menangis! Kau tau? Pagi-pagi sekali dia sudah tidak ada. Aku hanya ingat satu nama, Carmen Brooke. Angel bilang, dia akan membunuh Carmen Brooke hari ini,"


Dante melepaskan Frank dan dahinya kini berkerut-kerut. "Carmen Brooke? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Angel? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya,"


Pria berperawakan tinggi itu kemudian menghampiri Frank kembali. "Kau tau di mana dia? Dan satu lagi,"


Dante kembali melayangkan tinjunya ke wajah Frank dan membuat pria kurus itu jatuh tersungkur hingga kacamatanya terlepas dari wajahnya. "Itu karena kau memintaku memilih dan membuatku bingung! Ide bodohmu mengacaukan rencanaku, Frank! Brengsek, kau!"


"Aku tidak salah karena aku hanya memberikan usul kepadamu, Teman. Kau yang mengambil keputusan untuk memilih Eve daripada Angel. Dia menyukaimu, Dante," kata Frank sambil merangkul pundak sahabatnya itu.


"Ya, aku baru sadar kalau aku juga menyukainya," ucap Dante pelan.

__ADS_1


Malam hari itu di sebuah rumah panggung yang bertuliskan Madam Sienna House, tampak pria-pria berlalu lalang. Di antara pria-pria tersebut, kebanyakan berjalan keluar masuk dengan membawa masing-masing satu gadis.


Di tengah suasana damai dan tentram itu, tiba-tiba saja, terdengar suara pekik jerit seorang pria. "Sienna! Sienna! Kembalikan uangku!"


Madam Sienna setengah berlari menghampiri pria berwajah manis itu. "Aduh, apalagi kali ini? Ada apa, Tuan Ford?"


"Anakmu menolak untuk melayaniku dengan alasan aku terlalu kasar!" protes pria itu.


Tak lama, seorang gadis cantik keluar dan bergabung bersama mereka. "Dia memencet dadaku sampai merah seperti ini, Madam! Bagaimana kalau mereka meledak?"


Pria bernama James Ford itu menggelengkan kepalanya dan tampak putus asa. "Mereka tidak mungkin meledak, Angel. Astaga,"


"Bisa saja! Lagi pula mana bisa aku menikmati permainanmu jika kau bermain kasar, Tuan Ford? Aku seorang gadis, bukan barang!" protes Angel lagi semakin panas.


"Aku lelah berdebat dengannya, Sienna. Kembalikan saja uangku," pinta James Ford.


Madam Sienna membuka laci tempat menyimpan uang dan memberikan beberapa lembar uang kepada pria bertubuh kekar yang segera pergi sambil mendengus kesal itu.


"Angel, apa yang terjadi, Sayang?" tanya Madam Sienna kepada Angel.


Di wajah gadis itu tak ada penyesalan atau pun rasa berdosa karena telah mengecewakan ibu asuhnya. "Dia kasar, Madam. Kau bisa periksa sendiri, kedua dadaku merah dan ini pedih jika di sentuh,"


Madam Sienna menarik napas dan menghembuskannya panjang. "Baiklah, pergilah ke klinik. Mintalah obat pada dokter yang ada di sana,"


"Tidak! Aku mau berhenti bekerja saja," kata Angel tiba-tiba.


"Apa? Bagaimana maksudmu?" tanya Madam Sienna. Suaranya terdengar shock dan wajahnya tampak pucat pasi seakan melihat sesuatu yang sangat mengerikan.


Angel melipat kedua tangannya di depan dada. "Ya, aku mau berhenti dan mencari pekerjaan lain di kota lain,"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2