
Sejak mendengar pernyataan Angel kepada Frank yang menyatakan kalau gadis itu memiliki hati kepada Sid, akhirnya belakangan ini Sid semakin memperhatikan adik angkatnya itu.
Bahkan tanpa sungkan, Sid berani membersihkan sisa makanan di sudut mulut Angel. Anehnya, wajah Sid-lah yang memerah, bukan Angel.
Tak hanya Angel saja yang dapat merasakan perubahan dari Sid, Frank dan Sarah pun merasakan perubahan pada diri pemuda itu.
Yang biasanya setiap menit mereka akan beradu mulut atau berebutan makanan atau apa pun, kali ini, Sid lebih banyak mengalah dan memberikan apa saja yang diinginkan oleh adiknya.
"Tumben, kau bijaksana sekali belakangan ini. Ada apa denganmu, Sid?" tanya Sarah sambil memperhatikan wajah putranya yang seketika itu berubah dan salah tingkah.
"Tidak ada apa-apa. Setiap orang akan bertambah dewasa, 'kan, Bu? Aku sedang berada dalam proses bertumbuh dewasa," jawab Sid, lalu tiba-tiba saja dia tertawa untuk menutupi kegugupannya.
Sarah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak sulungnya itu. "Kau sedang jatuh cinta? Sejak kemarin, wajahmu terlihat berbeda,"
Saat mendengar pertanyaan Sarah, wajah Sid kembali memerah dan dia menjawab dengan gugup. "A-, apa sih, Bu! Tidak ada jatuh cinta seperti itu! Hahaha! Ada-ada saja,"
Sebagai seorang ibu, Sarah dapat mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh putra sulungnya tersebut. Lain halnya dengan Angel. Gadis itu justru menikmati perlakuan manis dari Sid. Dia selalu memberikan pelukan pada Sid jika pemuda itu memberikan apa yang Angel inginkan.
Selain itu juga, setiap malam mereka berdua selalu menghabiskan waktu malam mereka di pinggir pantai. Entah itu untuk saling bercerita atau pun hanya menikmati angin malam bersama.
Lain lagi dengan Frank, pria itu terlihat cemburu karena kedekatan Sid dan Angel yang semakin dekat. Setiap kali dia datang ke restoran untuk bertemu dengan Angel, Sid akan ada di samping gadis itu atau di belakang Angel. Sehingga pada akhirnya, mereka berdua akan melupakan Frank.
Suatu hari, Frank datang malam hari setelah restoran kecil itu tutup. Sarah yang melihat Frank datang, segera menggandeng tangan pria yang sedang mendalami pendidikannya itu untuk makan bersama di rumah mereka.
Tentu saja, undangan Sarah kepada Frank mendapatkan teguran keras dari kedua anaknya. "Ibu!"
"Kenapa? Kenapa kalian berdua meneriakiku? Ini tamuku, bukan tamu kalian! Setiap malam kalian berada di pantai dan tidak mengajakku!" jawab Sarah tak mau kalah.
"Ibu tidak mau ikut. Aku sudah pernah meawari Ibu untuk menemaniku duduk di sana," protes Angel.
__ADS_1
Sarah yang sedari tadi menggandeng Frank berbalik arah dan menatap putrinya itu. "Carmen, apakah aku terlihat muda di matamu? Tentu saja, aku tidak bisa ikut dengan kalian. Masuk angin aku nanti! Ada-ada saja! Ayo, Frank! Akan kubuatkan kau makanan super enak dan hangat,"
Menyerah dengan keputusan Sarah, Angel dan Sid mengekori ibunya itu dengan mencibirkan mulut mereka. Setibanya di rumah, Sarah menjamu Frank dengan ramah dan hangat. Sama seperti saat wanita itu menjamu Angel waktu pertama kali dia datang ke sana.
Angel hanya tersenyum menatap Sarah dan tiba-tiba saja gelombang sayang dia tumpahkan untuk wanita yang kini dia sebut ibu itu.
Setelah selesai makan malam, Frank membantu Sarah untuk beres-beres serta membersihkan meja makan. Sedangkan, Angel dan Sid seperti biasa, mereka segera berlarian ke pantai sambil membawa sebotol minuman dan dua gelas kosong.
Tak beberapa lama kemudian, Frank datang menghampiri mereka. Dia melihat kakak dan adik itu sudah mulai banyak tertawa karena pengaruh minuman yang mereka minum.
Frank duduk di tengah-tengah mereka. "Boleh aku bergabung?"
Angel dan Sid yang sedang asik tertawa, memandang Frank, dan kembali tertawa. "Hahaha! Silahkan, Franky Frank! Hahaha!"
"Angel, sep-, ...."
Frank tidak dapat meneruskan kalimatnya karena tangan Angel melayang di pipinya. "Angel, kenapa kau, ...?"
"Angel?" tanya Sid, dia berdiri juga dan menatap Frank dengan bingung. "Kenapa kau memanggil Carmen dengan Angel?"
Tiba-tiba saja, Sid mencengkeram leher Frank dan meninju wajahnya. "Dengar! Dia sudah pernah memintamu untuk tidak memanggilnya dengan nama Angel lagi! Tapi, kenapa kau tetap memanggilnya Angel!"
Sid menghantam wajah Frank dengan tinjunya sebanyak dua kali lagi dan pukulan terakhirnya membuat Frank jatuh tersungkur.
"Uhuk! Uhuk! Darimana kau tau itu, Sid?" tanya Frank lagi, dia melemparkan salivanya yang berwarna merah karena bercampur dengan darah. Napasnya pun tersengal-sengal saat dia bicara.
Bak disiram air dingin, Sid berdiri mematung sesaat dan mencari Angel. Maniknya akhirnya menemukan keberadaan gadis yang terkejut dan sedang menutup mulut dengan kedua tangannya.
"C-, Carmen, aku-, ... Aku-, ..." Sid menghampiri Angel dan hendak memeluknya.
__ADS_1
Namun, Angel menghindar dan menjauh dari kakak angkatnya itu. Dia mengangkat satu tangannya untuk mencegah Sid mendekat. Tangannya terlihat gemetar, begitu pula dengan suaranya. "J-, jangan katakan apa pun pada ibu, Sid!"
"Carmen, dengarkan aku! Berhenti menghindariku, kumohon," pinta Sid.
Angel terisak. "Aku tidak tau kau tau darimana tentang Angel, percayalah, itu masa laluku, Sid. Aku sudah bukan Angel lagi,"
"Jangan katakan pada ibu. Aku tidak mau kehilangan kau dan ibu, Sid," isak Angel lagi.
Perlahan-lahan, Sid mendekati adiknya dan dengan lembut dia meraih tangan Angel. "Aku tidak peduli dengan masa lalumu, Carmen. Persetan dengan Angel, Angeline, Angelika, Alkaline, atau apa pun, aku tidak peduli. Satu-satunya gadis yang kukenal dan kusayangi hanyalah Carmen Jones, tidak ada yang lain,"
Sid mengusap air mata yang mengalir dari mata cantik milik Angel dan dia mengecup kening gadis itu. Tepat saat itu, Frank menyerangnya dan menerjang tubuh Sid.
Mereka berdua terjatuh. Seolah dendam, Frank membalas pukulan yang tadi diberikan Sid kepadanya. "Brengsek! Kenapa kau menyentuh dia? Sialan!"
"Aku kakaknya dan aku juga tau kalau Carmen mencintaiku! Aku dengar semuanya, Sobat!" balas Sid tak mau kalah. Dia kembali membalas pukulan Frank dengan kencang.
Adu pukul pun terjadi, Angel tak diam begitu saja. Dia menarik selang air yang ada di dekat situ dan menyiramkannya Sid dan Frank yang sedang bergelut di atas pasir.
"Hentikan kalian berdua!" pekik Angel.
Frank dan Sid pun saling memisahkan diri. Tubuh mereka basah kuyup karena siraman air dari selang yang diarahkan oleh Angel.
Setelah Sid dan Frank menjauh, Angel mengarahkan selang kepada mereka seperti mengarahkan sebuah senapan. "Siapa yang maju, akan kusemprot pakai ini!"
"Dengar, Frank! Kurasa kita sudah sama-sama dewasa dan aku sudah menghentikan kegilaan masa laluku! Aku sudah bertobat dan aku ingin hidup lebih baik! Aku memang tidak menceritakan apa yang terjadi setahun lalu kepadamu. Evelyn dan Jarrel, mereka menyekapku, dan Pria Brengsek itu memakaiku pagi, siang, malam, subuh, saat aku tidur pun, dia terus memakaiku! Itu membuatku hancur dan trauma!" tukas Angel, kali ini tanpa air mata.
"Saat ini, aku membuat supaya tidak ada lagi yang mengenaliku, karena aku takut! Kau dan Dante menyukaiku karena kalian sudah memakaiku! Tapi tidak dengan pria ini! Dia mennyayangiku tulus tanpa tau latar belakangku dan tanpa tau siapa aku sebenarnya! Sudah kukatakan juga padamu berkali-kali, aku sudah bukan Angel lagi. Maka dari itu aku mohon padamu, ayo, kita hentikan kegilaan ini! Kita pernah sama-sama gila dan kurasa, saat ini kita harus berhenti. Aku sudah menentukan jalanku, kau pun harus menentukan ke mana jalanmu!" ucap Angel lagi dengan tegas.
Kemudian, dia melihat ke arah Sid. Pria yang setahun ini selalu berada di sisinya dan selalu menjaga serta memperhatikannya. "Sid, aku kita kakak adik dan tidak boleh memiliki perasaan cinta. Tapi, aku sungguh menggilaimu, Sid,"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Sid, Angel segera menghampiri pria itu dan mengecup bibir Sid dengan lembut.
...----------------...