Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Keputusan Sid


__ADS_3

Sid mundur ketakutan melihat Carmen yang biasanya lembut dan manis berubah menjadi sosok gadis yang agressif dan menggoda.


Gadis itu membuka pakain dalamnya dari luar hanya dengan satu tangan dan melemparkannya begitu saja ke arah Sid. "Tidak usah takut, Sid. Carmen sedang menepi sebentar,"


"Sadarlah, Carmen!" tukas Sid sambil melemparkan kembali pakaian dalam berwarna putih itu ke pemiliknya.


Angel mencebik. "Baiklah! Tolong aku saja kalau begitu,"


"T-, tolong apa?" tanya Sid, dia masih tidak dapat membayangkan pertolongan apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu.


Mudah saja sebenarnya untuk Sid jika ingin berhubungan dengan Angel. Mereka berada di satu rumah dengan Sarah yang selalu keluar rumah saat restoran mereka sudah tutup. Banyak sekali kesempatan untuk mereka bisa melakukan hubungan yang seharusnya belum boleh dilakukan itu.


Namun, Sid tidak ingin menjadi seperti tamu-tamu pria Angel ataupun mantan kekasih adik angkatnya itu. Dia memiliki prinsip untuk menjaga dan melindungi Angel serta menghilangkan trauma yang ada di diri kekasihnya itu.


Angel menghampiri Sid dengan langkah menghentak dan duduk di sisi pria itu. Dia menyerahkan pakaian dalamnya pada Sid. "Tolong pakaikan,"


"Heh! Tadi bagaimana kau melepasnya? Kenapa harus aku yang memasangkannya? Aku tidak bisa!" tukas Sid tegas melipat tangannya.


Lagi-lagi, Angel memberengutkan bibirnya. "Ck! Ayolah, Sid! Ini hanya dipasang saja, kaitkan kancingnya, selesai!"


Jantung Sid berpacu cepat, wajahnya merona merah seperti udang yang terbakar api panas, tangannya bergetar saat dia mengambil pakaian dalam milik Angel itu. "B-, baiklah! Angkat pakaianmu!"


Angel tersenyum puas dan membelakangi Sid. Alih-alih mengangkat, Angel melepaskan kausnya yang berwarna hijau muda itu. "Nah, aku siap!"


"K-, kenapa kau lepas? Kau benar-benar gila, Carmen! Kurasa kepalamu terbentur sesuatu yang sangat keras sampai kau berubah seperti ini," kata Sid lagi.


"Supaya kau mudah memasangnya. Ayo, cepatlah!" perintah Angel dengan seringai lebar menghiasi wajahnya.


Sid mengumpulkan oksigen di dalam kamar itu dan menghembuskannya panjang. "Ini benar-benar gila!"


Pada akhirnya, Sid merapatkan duduknya dan melingkarkan pakaian dalam itu tepat di bagian bawah kedua bukit indah Angel. Perlahan dia menarik pakaian dalam itu ke atas, tetapi tiba-tiba, tangan Angel mengarahkan kedua tangan Sid di kedua gunungnya.


Napas Sid tercekat saat dia merasakan kedua telapak tangannya menggenggam penuh dua gundukan kenyal. Angel membantu tangan Sid untuk meremmas dan memainkannya.

__ADS_1


"Mainkan, Sid," kata Angel.


Sid tersadar dan berusaha menarik tanganny. Namun, Angel menahannya. Gadis itu bahkan sudah mengeluarkan suara yang entah bagaimana membangkitkan monster jahat di dalam diri Sid.


Monster itu memerintahkan tangan Sid untuk terus berada di depan sana dan bahkan menuntunnya untuk berbuat lebih dari sekedar meremmas.


Namun, Sid melawan hasratnya itu. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tetapi suara dessahan Angel dan tangannya yang mencengkeram tangan Sid semakin kencang dan terus terngiang-ngiang di benak Sid.


"Sid, mainkan tanganmu, Sayang," pinta Angel. Kedua tangannya melingkar sempurna di ceruk leher Sid dan mendorong pria itu. Tak lama, Angel sudah melummat bibir Sid dengan panas.


Tak kuasa menahan gejolak yang nyaris meledak di dalam dirinya, Sid memejamkan kedua matanya. Tanpa sadar, tangannya bergerak sendiri dan bermain di kedua bukit Angel.


Angel yang tak sabar, menurunkan tangannya dan kembali menuntun tangan Sid untuk bermain di pucuk bukitnya. "Begini, Sid Sayang,"


Setelah memastikan kekasihnya itu melakukannya dengan benar, Angel memutar posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Sid. Wajah gadis itu seolah bersinar dan memancar dengan cantik. Sid seakan tersihir oleh kecantikan gadis itu.


Angel tersenyum. "Hai,"


Gadis itu sudah membuang pakaian dalamnya ke lantai dan kembali melahap bibir kekasihnya. Setelah puas, Angel kembali memimpin Sid yang pasrah. Dia mengarahkan ciuman Sid supaya terus turun ke bawah.


Namun saat dia menyibakan rambut kekasihnya, dia melihat tanda merah yang belum pernah dia buat di ceruk leher sebelah kanan Angel.


Tiba-tiba saja Sid tersadar. Dia beranjak dari ranjangnya. "Ini salah, Carmen! Lalu, tanda merah itu, direktur itukah yang menbuatnya? Boleh aku tau, kapan?"


Angel meraba tengkuknya. "Hari ini,"


Sid bersiul panjang. Hasratnya kini berganti menjadi kemarahan sekaligus kekecewaan. "Kalian berbuat seperti ini di restoran kami?"


"Kami?" tuntut Angel.


"Ya, kami! Aku dan ibuku, juga Carmen! Kau yang bilang kalau kau bukan Carmen. Lalu, siapa kau? Aku tidak mengenalmu!" tanya Sid kecewa. Bodohnya dia baru saja terjebak dalam gairah sialan karena godaan gadis yang ada di hadapannya itu. "Maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu tadi. Aku hanya-, ... Maafkan aku,"


Angel memakai kembali pakaiannya yang tadi sempat dia lepas. "Sid, aku, ...."

__ADS_1


"Katakan pada Carmen aku mencarinya! Dia yang memintaku untuk menahan kepergiannya dan dia juga yang memintaku untuk melarangnya melakukan hal bodoh yang akan membuat dia terpisah dari keluarga ini! Panggil Carmen sekarang, Angel! Aku ingin dia kembali!" tukas Sid.


Angel sangat merasa bersalah saat ini. Entah apa yang dia pikirkan saat dia meminta Sid untuk berhubungan. "Sid, aku yang seharusnya minta maaf kepadamu. Tiba-tiba saja sosok Angel datang dan menguasai diriku. Soal Dante, aku-, ...."


"Dia yang memunculkan Angel, bukan? Bagus!" tukas Sid lagi sambil berkacak pinggang. "Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini denganmu,"


Kini, Angel sudah tidak dapat menahan laju air matanya lagi. "Sid, kumohon jangan seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu dan ibu. Kumohon, Sid,"


Sid menghela napas panjang. "Carmen, deng-, ... Angel, aku tidak mau merusakmu walaupun kita saat ini sudah menjadi sepasang kekasih. Lagipula, aku rasa sebagai Angel, kau belum bisa menuntaskan perasaanmu pada Morgan. Kupikir, ini keputusan yang terbaik untuk kita,"


"Selesaikan apa yang harus kau selesaikan. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan melarangmu untuk pergi dan aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal. Jadi, Angel, kau boleh pergi," kata Sid lembut.


"Aku tidak memintamu untuk memilih. Lagipula, aku bukan pilihan. Aku akan tetap berada di sini dan menunggu sampai Carmen kembali," sambung pria berambut spikey itu.


Angel terisak-isak. Dia tidak menyangka kalau Sid akan memutuskan hubungan dengannya. Akhirnya, mimpi buruk itu pun tiba. Dia harus pergi dan meninggalkan keluarga kecil yang selalu mencintainya dengan tulus itu.


"Aku bodoh, Sid. Aku melepaskan sesuatu yang berharga hanya untuk mengejar sebuah kenikmatan. Maafkan aku. Aku berharap, aku masih pantas kembali ke sini," ucap Angel tersedu-sedu.


Sid mengangguk. "Sudah kubilang, aku menunggu Carmen. Pergilah, lakukan semaumu, dan semoga kau menemukan kebahagiaanmu, Angel,"


Angel memeluk Sid dan menumpahkan tangisnya yang terakhir di dalam pelukan pria yang akan selalu dia kenang itu.


Malam hari itu, terdengar suara ketukan di pintu rumah Sarah. "Oh, Tuan Morgan. Dia sudah siap, tunggu sebentar,"


Tak lama, Angel keluar kamar tanpa membawa apa pun. Dia memeluk Sarah dan membisikkan sesuatu di telinga ibu angkatnya itu. Sid tak ada dan Angel tau kalau pria itu tidak ingin melihat kepergiannya.


"Sampaikan salamku pada Sid, Bu," kata Angel.


"Pasti, Sayang. Semoga kau berbahagia dan jaga dirimu, Carmen," balas Sarah. Berat rasanya wanita itu untuk melepaskan anak gadis kesayangannya.


Angel mengangguk. Seorang pria menggandengnya saat dia keluar dari rumah itu. "Sudah siap?"


"Ya, ayo pergi, Dad," jawab Angel.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2