
Angel berhasil memanjat gerbang rumah itu dan melompat keluar. Beruntunglah dia terjatuh di atas semak-semak, sehingga tidak ada luka berat yang menimpanya.
Setelah merasa tidak diikuti lagi, Angel mulai berjalan terseok-seok karena menahan lelah dan sakit di sekujur tubuhnya. Untunglah tidak orang di sekitar pantai itu, kalau pun ada beberapa orang yang lewat, mereka akan melihat Angel dan memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.
Angel hanya memakai gaun tidur yang tipis dan menerawang. Ditambah lagi, dia tidak memakai alas kaki. Rambutnya acak-acakan dan ada beberapa luka lebam di wajahnya akibat pukulan Jarrel.
Dia terus berjalan dan berhenti saat dia lelah. Gadis cantik itu tidak tau harus pergi ke mana karena memang dia tidak tau di mana saat ini dia berada.
"Aah, aku harus berjalan sampai mana lagi?" tanya Angel bermonolog.
Putus asa, dia turun ke pantai dan berjalan menyusuri pantai itu sambil sesekali membasahi kakinya dengan air laut.
Setelah agak jauh berjalan, samar-samar dia melihat sebuah rumah makan dan seorang wanita berusia 50-an tahun tampak sedang memasak makanan di belakang rumah makan itu untuk para tamu yang datang. Angel pun menghampiri rumah makan tersebut.
"Halo, Nyonya," sapa Angel.
Wanita tua itu terperanjat kaget saat melihat Angel. "Ya, Tuhan! Apa yang terjadi dengan wajahmu, Nak? Dan, pakaianmu? Astaga, ada apa denganmu? Masuklah! Masuk!"
Dia menuntun tangan Angel dan mempersilakan gadis itu untuk duduk di dekatnya. "Maaf, aku tidak bisa mengajakmu ke depan karena di depan sana sedang ramai sekali. Makan siang, kau tau? Apa kau sudah makan? Kau pucat dan kurus sekali seperti tidak makan berhari-hari! Luka-luka di wajahmu itu, siapa yang habis memukulimu? Tunggu di sini, aku akan mengantarkan ini pada pegawaiku!"
Wanita itu kemudian berteriak lantang. "Risotto seafood dan shrimp fried!"
Tak lama, dia sudah kembali ke dapur lagi sambil membawa segelas air putih di dalam gelas besar dan menyodorkannya pada Angel. "Minumlah! Ini air hangat, kau pasti lelah sekali, 'kan?"
Dengan cepat, dia memutar tubuhnya menghadap kompor kemudian memasukan ini itu ke dalam penggorengan, dan beberapa menit kemudian, dia memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk ala boga bahari kepada Angel. "Nah, makanlah!"
Angel memandang wanita itu penuh terima kasih dan tak perlu menunggu diperintah dua kali, gadis itu segera melahap makanan yang sudah disajikan kepadanya. "Terima kasih makanannya,"
__ADS_1
Setelah perutnya terisi penuh, Angel tampak lebih tenang. Dia mulai dapat berpikir apa yang akan dia lakukan untuk tetap bertahan hidup di sana. Namun sebelumnya, dia harus mencari tau, di mana dia berada saat ini.
"Aku sudah mencuci piringnya, Nyonya. Terima kasih. Kalau boleh aku tau, ini di mana?" tanya Angel dengan sopan.
Wanita itu memandang Angel dengan tatapan prihatin. "Ini pantai Kencana di kota Metropole, Sayang,"
"Kota Metropole?" tanya Angel. Dia tidak pernah mendengar tentang kota Metropole ini. Apalagi tentang Pantai Kencana. "Maaf, Nyonya, ini di negara mana?"
Kali ini, wanita itu benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia merasa sangat bersimpati kepada Angel dan berpikir apa yang terjadi pada gadis malang yang ada di hadapannya itu. "Ini di negara CBA, Sayang. Kau yakin baik-baik saja, Nak?"
Angel tercengang mendengar nama negara yang disebutkan oleh wanita itu. Jauh sekali dan bahkan dia sudah menyebrangi resort tempatnya menginap.
"Nyonya, bisakah aku bekerja di sini? Aku akan mencuci setiap piring dan bahkan aku akan merapikan segalanya saat restoran ini tutup. Aku butuh tempat tinggal dan uang. Lalu, apakah aku bisa tinggal di sini sementara sampai aku mendapatkan uang dan tempat tinggal?" tanya Angel memohon.
Wanita itu mengangguk cepat. "Silakan, Sayang. Kau bisa tinggal bersamaku, Nak. Kebetulan aku hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakiku,"
Jari telunjuk besar wanita itu menunjuk ke arah seorang pemuda tinggi berpakaian pantai. "Itu anakku. Namanya Sidney Jones. Panggil saja dia, Sid,"
Maka, setelah jam tutup rumah makan, wanita itu memperkenalkan dirinya. "Namaku Sarah. Kau?"
"An-, Carmen Brooke," jawab Angel.
Sarah tersenyum dan dia memanggil, Sid, putranya. "Sid! Kemarilah! Nah, ini kenalkan. Dia akan membantu kita dan akan tinggal bersama kita,"
Carmen mengulurkan tangannya kepada pemuda itu, tetapi pemuda itu tidak menyambut balik uluran tangannya. Alih-alih tersenyum ramah, dia mencibir dan mencemooh Angel. "Pakaian apa yang kau kenakan? Kau seperti orang gila!"
Sarah memukul belakang kepala anak laki-lakinya itu. "Jaga ucapanmu!"
__ADS_1
Kemudian, dia mengajak Angel untuk pulang bersamanya malam itu. Entah kehidupan apa yang menanti Angel selanjutnya, tetapi dia berharap semoga segalanya akan berjalan dengan baik.
Sementara itu di resort, Dante menatap tajam pada wanita yang baru saja dia ceraikan. "Ev! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku mencarimu karena ingin mengucapkan terima kasih atas waktu yang mau berikan kepadaku selama ini," jawab Evelyn dengan suara manis.
"Aku semakin yakin kau terlibat atas menghilangnya Angel! Di mana dia? Katakan kepadaku!" tukas Dante dengan suaranya yang berbisik dan nyaris mendesis.
"Kita bicara di kamar. Apa kau tak malu, kalau kau dilihat orang sedang bertengkar denganku di sini? Bisa anjlok sahammu nanti," jawab Evelyn dan dia berjalan mendahului Dante menuju resort tempat pria itu menginap.
Setibanya di kamar resort, Dante segera meledak. "Di mana dia, Ev? Aku tau kau tidak baru datang!"
Evelyn mengulum senyumnya. Wanita itu melipat kedua tangan di depan dada sambil menggelengkan kepalanya. Sesekali, dia memutar bola matanya ke atas dan menatap Dante prihatin. "Selalu fitnah yang keluar dari mulutmu, Dad. Oh, maaf, Morgan. Pernahkah seumur hidupmu kau percaya padaku, sekali saja?"
"Tidak!" lahap Dante panas. "Aku tidak pernah mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutmu!"
"Malang sekali nasibku. Tapi kali ini, kau harus percaya padaku, aku sama sekali tidak pernah menyentuh Angel! Kau bisa memeriksa agen penerbangan dan juga kamera pengawas di bandara! Buktikan segalanya, Morgan!" tukas Evelyn menantang.
Dante berkacak pinggang. Dia tidak tau apakah dia harus percaya kepada mantan istrinya atau tidak? Tetapi, Evelyn tampak meyakinkan sekali. Walaupun begitu, Dante tetap meminta Theo untuk memeriksa apa yang tadi dikatakan oleh Evelyn. "Cek semuanya dan kabarkan aku secepatnya!"
"Ya, Tuan," sahut Theo, lalu dia bergegas keluar untuk pergi ke bandara.
Setelah kepergian Theo, Evelyn menggenggam tangan Dante. "Morgan, walaupun kita sudah bercerai, aku berharap, kita bisa menjadi teman. Kau bisa mengandalkan aku untuk apa pun. Bagaimana pun, dulu kita berteman dengan baik dan aku tidak mau hubungan pertemanan kita putus hanya karena perceraian,"
Dante melepaskan tangan Evelyn. Butiran bening dari sudut matanya jatuh menggelincir dan dengan cepat Dante mengusapnya. "Ya, thank's,"
Merasa sudah memenangkan sebuah perlombaan, Evelyn tersenyum sambil merangkul pundak Dante dan menyandarkan kepala pria itu di lengannya. "Ada aku di sini, Morgan. Kau bisa bercerita kepadaku tentang apa yang kau rasakan,"
__ADS_1
...----------------...
***