
Setelah perjumpaannya dengan Frank dan mengatakan kalau dia sudah menjadi kekasih resmi Angel, Dante merasa hidupnya menjadi lebih ringan dan senyum tak lekang dari wajahnya.
Perubahan itu di rasakan tak hanya oleh Frank, tetapi juga oleh semua karyawan dan kolega kerjanya. Dante pun sudah memberitakan kalau dia sudah bercerai dari istri pertamanya dan dia sudah mendapatkan cinta baru di hidupnya.
Betapa terkejutnya mereka, saat Dante memperkenalkan Angel ke perusahaannya. Beberapa waktu lalu, Dante sempat membawa Angel dan memperkenalkan gadis itu sebagai asistennya.
"Loh, bukannya ini asisten Anda, Tuan?" tanya salah seorang pegawainya.
Dante tersenyum dan dengan santai dia berkata, "Asisten yang kuangkat menjadi kekasihku, hahaha!"
Begitulah cara Dante memperkenalkan Angel kepada teman-temannya. Kebahagiaannya semakin bertambah, karena Angel mengizinkan Dante untuk tinggal bersama di rumahnya.
"Di sini sempit. Apa kau tidak apa-apa, Dad?" tanya Angel.
"Justru sempit lebih enak karena aku bisa selalu berada di dekatmu," jawab Dante manis sambil mendekap erat tubuh Angel.
Karena kesepakatan itu, akhirnya sejak beberapa hari yang lalu, Dante memutuskan untuk tinggal bersama Angel. Tentu saja, dia harus beradaptasi. Biasanya, Dante selalu dilayani oleh pelayan, sedangkan saat dia berada di rumah Angel, dia harus melakukannya sendiri.
Hubungan keduanya semakin dekat dan karena mereka tinggal bersama, mereka jadi saling mengetahui satu sama lain. Seperti contohnya, Dante baru mengetahui kalau Angel tidak pandai bersih-bersih, sedangkan Angel baru mengetahui kalau Dante selalu berputar dalam tidurnya.
Pada suatu hari, Dante menghubungi Josh, pengacaranya untuk menanyakan perihal progress perceraiannya dengan Evelyn. "Josh, bagaimana? Sudah masuk sidang? Kau tidak mengabariku sama sekali dan seperti lenyap ditelan bumi!"
("Sebentar lagi akan diumumkan hasil persidangannya, Tuan,") jawab Josh.
"Oke. Kabari aku secepatnya!" titah Dante.
Sebelum persidangan meresmikan perceraian dirinya dengan Evelyn, dia tidak akan membawa Angel ke rumahnya. Pria itu memang berniat untuk meminang Angel dan hidup bahagia bersamanya. Hanya itu tujuan hidupnya saat ini.
Sementara Dante menunggu hasil persidangan cerainya, Frank menemui Angel di tempat gadis itu bekerja. Tak mau menunggu, dokter muda itu segera masuk ke dalam kedai untuk mencari Angel. Namun sejauh mata memandang, tidak terlihat Angel di kedai itu.
__ADS_1
"Hei, di mana Angel?" tanya Frank kepada salah satu waiters di kedai kopi.
"Selamat pagi, Tuan. Angel mungkin berada di luar sedang mengantarkan pesanan tamu kami. Silahkan cari tempat duduk dahulu atau mau memesan langsung?" tanya si karyawan wanita itu dengan ramah.
Frank mengangguk dengan tak sabar dan dia mengambil salah satu buku menu, kemudian dia membawanya ke meja yang berada di luar. Matanya terus mencari sosok Angel, sampai, "Angel!"
Seorang gadis dengan ikat kuda serta pita hijau menghiasi rambutnya, menoleh ke arah sumber suara, dan dia tersenyum lebar saat kedua netra mereka saling bertemu. "Tuan Stanley, hai!"
Gadis itu berlari menghampirinya. "Hai, kau tidak bekerja?"
Frank menggelengkan kepalanya. "Aku jaga malam sampai sebulan ke depan,"
"Oh, kau sudah memesan. Aku akan mencatat pesananmu," kata Angel.
Akan tetapi, Frank meminta gadis waiters itu untuk duduk di kursi yang ada di sebelahnya. "Aku hanya ingin berbicara denganmu, Angel. Bisakah kau menyempatkan waktu untukku?"
Angel melihat jam tangannya. "Bisa saja, sih. Aku akan bertukar dengan temanku. Tunggu sebentar di sini, Tuan, aku akan kembali dengan cepat,"
"Thank's," kata Frank dan dia menyesap kopi yang dibawakan oleh Angel tadi. "Hei, ayo, bicara di dalam mobil. Di sini terlalu ramai,"
Angel mengangguk dan mengekor di belakang Frank. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Frank mendekatkan wajahnya pada Angel.
Angel mendorong pria itu menjauh. "T-, Tuan-, ...."
Tak puas dengan respon yang diberikan Angel, Frank menurunkan bibirnya ke ceruk leher Angel. Lagi-lagi, Angele memberontak dan mengalihkan wajahnya. "Tuan Stanley, tolong jangan begini!"
Seperti tuli, Frank melanjutkan serangannya. Kali ini, dia memainkan tangannya di dua bukit Angel yang tertutup oleh seragam.
Merasa kesal karena ucapannya tak digubris, Angel melayangkan tangannya di wajah Frank. "Hentikan!"
__ADS_1
Frank tercengang. "Ada apa denganmu? Terakhir kali, kau mau bermain denganku! Kenapa sekarang tidak mau? Kau jual mahal kepadaku?"
Angel merapikan pakaiannya dan memandang Frank dengan kesal. Nyaris saja gadis itu menangis karena menahan amarah yang memuncak begitu bibir Frank berkeliaran di lehernya. "Maaf, Tuan, tapi aku punya prinsip. Prinsipku adalah, jika suatu saat nanti aku bertemu dengan pria yang sanggup membuatku jatuh cinta dan mencintaiku, maka, aku akan berhenti dari pekerjaanku dan akan setia pada pria tersebut. Saat ini, aku sudah menemukannya!"
"Dante?" tanya Frank.
"Ya! Aku pun baru menyadari kalau aku jatuh cinta kepadanya setelah kita bercinta malam itu! Aku tidak akan berbohong kepadamu, malam itu, aku menikmati kebersamaan kita, tapi, perasaanku tidak untukmu, Tuan. Maafkan aku," jawab Angel tertunduk.
Frank menghembuskan napasnya kasar. Dia merenungi apa yang baru saja dia perbuat dan bagaimana perasaannya kepada gadis yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca itu? Apakah dia benar-benar menaruh hati pada Angel?
"Aku yang seharusnya minta maaf kepadamu. Aku ingin bersamamu, tapi aku tidak tau apakah itu cinta atau sekedar nafsu belaka? Tapi, aku ingin bersamamu, Angel," ucap Frank.
"Satu lagi, bisakah kau tidak memanggilku Tuan? Panggil saja aku dengan Frank atau Franky," sambung Frank lagi sambil tersenyum.
Angel yang masih menatapnya dapat merasakan kalau pria berkacamata itu tulus meminta maaf kepadanya. "Aku juga belum bisa membedakan mana cinta dan mana nafsu. Yang aku tau saat aku jatuh cinta pada seseorang adalah, aku ingin selalu bersamanya dan aku tidak suka jika orang itu dekat dengan wanita lain,"
"Kita sama, Angel. Ah, sekarang aku terlihat sangat menyedihkan, hahaha!" ujar Frank mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Entah bagaimana hubungan mereka ke depannya karena mereka memulai hubungan itu dengan cara mabuk dan bermalam bersama. Apalagi keduanya bingung, apakah yang mereka rasakan saat ini adalah cinta atau hanya sekedar nafsu?
Di tempat lain, Evelyn beranjak dari ranjangnya dengan tubuh polos tanpa seutas benang pun menempel di tubuhnya. Dia mengecup kening seorang pria kemudian berlalu untuk mengambil ponselnya.
Panggilan dan pesan dari Dante, mantan suaminya. Wanita itu tersenyum licik dan meletakkan kembali ponselnya. Dia menghampiri pria yang tertidur bersamanya dan memainkan dada bidang pria itu. "Josh, bangunlah,"
Pria bernama Josh itu terbangun dan tampak terkejut. "Ny-, Nyonya! Maaf,"
"Sshhh! Ssshh! Santai saja. Di mana ponselmu?" tanya wanita itu lagi dengan suara menggoda. Tangannya tidak berhenti memainkan senjata tumpul milik Josh. "Hubungi klienmu dan katakan kepadanya, Evelyn mengajukan banding, walaupun persidangan itu tidak pernah ada, hahahaha!"
"Aku pikir kau pria tangguh, Josh. Tapi ternyata, kau luluh oleh pesonaku. Aku senang sekali! Cepat lakukan perintahku, setelah itu akan kembali memberikan kenikmatan padamu!" titahnya lagi sambil tersenyum puas.
__ADS_1
Dengan patuh, Josh mengambil ponselnya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Evelyn yang sudah berada di atas tubuhnya.
...----------------...