
Pagi itu, suasana hati Angel sedang riang gembira. Berkat kejadian semalam, hubungannya dengan Sid kini menjadi semakin dekat walaupun masih sering dibumbui dengan pertengkaran dan adu mulut yang berakhir Sarah harus memarahi keduanya.
Sambil membantu Sarah membawakan barang-barang dan bahan-bahan keperluan rumah makan, mereka berdua saling membenturkan tubuh mereka dan sesekali berkejaran.
"Sid! Carmen! Kalau sampai daun bawang itu jatuh, aku tidak akan memberikan kalian sarapan! Lihat saja!" tukas Sarah galak.
"Ya, Bu," sahut mereka bersamaan.
Ada saja tingkah Sid dan Angel yang membuat Sarah harus berteriak dan menggelengkan kepalanya. Tidak akan ada orang yang menyangka kalau Angel bukan anak kandung Sarah karena kedekatannya dengan Sid dan cara Sarah memperlakukan Angel yang sudah seperti anak kandungnya sendiri.
Setibanya di tenda rumah makan mereka, Angel membantu Sarah untuk merapikan dapur. Sedangkan Sid mendirikan tiang tenda dan meletakkan kursi serta meja makan.
Selagi mereka sibuk mempersiapkan segala peralatan dan bahan masakan, seorang pria datang dan memasuki tenda. Sarah menyambutnya dengan ramah. "Selamat pagi, Tuan. Maaf, kami belum buka di pagi hari,"
Pria itu membungkukan badannya dengan hormat kepada Sarah. "Selamat pagi, Nyonya. Oh, saya ingin bertemu dengan Ang-, ah maksud saya, Carmen,"
Sarah mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Carmen? Wah, ternyata kau salah satu dari tamu kami yang ingin menjalin hubungan serius dengan anakku rupanya, ya? Hahaha! Duduklah dulu, dia sedang membantuku di belakang,"
Sarah pun kembali melanjutkan pekerjaannya dan kembali ke belakang untuk memberitahukan kepada Carmen tentang seorang pria yang mencarinya.
"Pria? Aku tidak pernah berkenalan dengan siapa pun dan aku juga tidak pernah menyebutkan namaku kepada para tamu. Aneh sekali," ucap Angel sambil berusaha menjulurkan kepalanya selagi tangannya sibuk menggosok kerang. "Tidak terlihat dari sini,"
Sid datang sambil meletakkan kain pembersih di atas kepala Angel dan membuat gadis itu menginjak kakinya dengan kencang.
"Ouch! Gadis bar-bar, kakimu seperti kaki gajah! Biar aku yang menemui pria itu! Mengganggu saja!" tukas Sid.
__ADS_1
Pemuda itu berjalan ke depan dan dengan sopan menyapa pria yang sedang menunggu Angel. "Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu,"
Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar kepada Sid. "Hai, senang berjumpa denganmu lagi,"
"Kau! Kenapa kau kembali?" tukas Sid kesal.
Tentu saja Sid kesal karena pria dihadapannya itu adalah pria yang kemarin datang dan membuat adiknya menangis. Sid tidak tahan jika melihat Angel sedih atau menangis.
"Aku berubah pikiran, Anak Muda. Aku tidak jadi menjemput Carmen karena ternyata kekasihnya sudah berubah menjadi seekor buaya brengsek. Aku hanya ingin berbicara dengannya saja. Apa kau memberikanku izin untuk itu?" tanya pria tampan berkacamata itu.
Sid mencibir. Bukannya dia tidak mengizinkan, tetapi dia tidak ingin melihat Angel bersedih apalagi sampai menangis. Hatinya ikut teriris pedih melihat Angel menangis seperti kemarin. Sid pun tidak tau mengapa dia ikut sedih melihat Angel menangis.
"Setiap kali adikku bertemu denganmu, dia selalu sedih. Aku tidak suka melihatnya seperti itu, jadi maaf, aku tidak mengizinkanmu," tolak Sid tegas.
Pria itu mendengus dan memberikan seulas senyum pada Sid. "Huh! Rupanya kau sangat menyayangi adikmu, ya?"
"Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan datang lagi sampai kau mengizinkanku untuk berbicara dengan Carmen," pria itu beranjak dari kursinya dan tiba-tiba saja dia mendekati Sid. "Kau menyayangi Carmen sebagai seorang kakak kepada adiknya atau sebagai seorang laki-laki kepada seorang gadis?"
"Sampai jumpa," sahut pria itu lagi sambil melambaikan tangannya ke arah Sid yang masih termangu mendengar pertanyaan dari pria itu.
Sementara itu di tempat yang cukup jauh dari Pantai Kencana, seorang pria sedang mengacak-acak rambutnya dengan kasar, hingga rambutnya berantakan.
"Aarrghh! Berita sampah! Apa tidak bisa di take down?" tanya pria itu berang.
Asisten pribadi pria itu yang selalu setia menemaninya menggeleng lemah. "Tidak bisa, Tuan. Berita ini naik dengan cepat. Kalau pun di take down, orang-orang pasti sudah mengingat berita ini dan mereka akan curiga,"
__ADS_1
Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa sambil memijat-mijat pelipisnya. "Harusnya berita perceraian itu kita naikkan,"
"Tapi, kita semua fokus untuk mencari Nona Angel dan tidak ada yang ingat hasil sidang sudah keluar," kata Theo lagi.
"Ah, Angel! Di mana gadis itu, Theo? Apa dia sudah menemukan seorang pria baru atau dia benar-benar sudah meninggal seperti kata Evelyn?" tanya pria itu lagi. Tatapan matanya menerawang ke atas dan kosong. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu saat ini. "Bagaimana menurutmu, Theo?"
Theo menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin percaya pada ucapan Evelyn yang mengatakan kalau Angel mencoba bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri ke laut. Rasa-rasanya itu bukan sifat Angel.
Walaupun baru sebentar mengenal gadis yang sempat menjadi kekasih tuannya itu, dia tau kalau gadis itu bukan tipe gadis yang mudah menyerah dan bunuh diri, tidak mungkin ada dalam hidupnya. Itulah yang dipikirkan oleh Theo.
"Entahlah, Tuan. Tapi menurutku, Nona Angel masih hidup. Aku berharap dia hidup bahagia di manapun dia berada saat ini," jawab Theo. Kemudian, dia berdeham dan bertanya kepada tuannya, "Maaf sebelumnya, Tuan Morgan, aku ingin bertanya, apa yang kau harapkan dari Nona Angel? Karena aku lihat, Tuan menjadi semakin dekat dengan Nyonya Smith. Untuk apa bercerai kalau kalian berdua masih seperti suami istri?"
Pria itu terdiam dan merasa terpukul mendengar pertanyaan dari asisten pribadinya itu. "Aku tidak tau. Mungkin aku tidak bisa hidup tanpa ada wanita di sampingku,"
"Tapi, bukankah itu akan membuat Nona Angel sakit hati? Katakanlah dia masih hidup, lalu membaca berita tentang Tuan dan Nyonya Evelyn. Bagaimana perasaannya? Apakah Tuan pernah memikirkan itu?" tanya Theo lagi.
Mungkin saja Theo sudah muak dengan tingkah laku Dante Morgan yang tetap meladeni Evelyn dan berhubungan selayaknya suami istri. Theo juga kecewa pada tuannya itu, mengapa dia berhenti mencari kekasihnya? Apa yang diharapkan oleh seorang Dante Morgan di hidupnya? Tanpa sadar, Theo menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
Lamunannya pecah saat dia mendengar suara berkeletuk sepatu hak tinggi milik seorang wanita yang masuk begitu saja ke dalam ruangan kerja Dante.
Wanita itu tersenyum pada Theo dan segera saja dia duduk dipangkuan Dante dan mencumbu bibir pria itu dengan panas. "Kau sudah lihat berita pagi ini?"
Theo kembali berdeham. "Ehem! Permisi, Tuan, aku akan menunggu di luar dan tolong pikirkan ucapanku yang tadi. Permisi, Tuan dan Nyonya Evelyn,"
"Ya, akan kupikirkan," jawab Dante singkat.
__ADS_1
Setelah Theo keluar, Evelyn mulai melahap bibir Dante dan menyesapnya dengan penuh gairah. Sementara Dante, menerima pagutan-pagutan itu sambil mengukir wajah Angel di dalam benaknya.
...----------------...