
"Carmen, udang bakar dan sup kepiting! Berikan minuman ini pada meja di ujung sana, ini tambahan pesanan," pekik seorang wanita bertubuh sedikit gemuk dengan rambut di gulung ke belakang.
"Baik, Nyonya Jones. Akan kucatat," sahut gadis bernama Carmen yang segera mengeluarkan buku menu dari kantung depan apronnya dan menuliskan tambahan pesanan berupa satu botol minuman. Setelah selesai menulis, dia membawa nampan berisi udang bakar dan sup kepiting dengan hati-hati lalu, menyuguhkannya kepada tamu yang memesan menu tersebut. "Silakan, selamat menikmati,"
Rumah makan bernama Hello Seafood itu, kini semakin ramai dengan hadirnya karyawan baru mereka yang bernama Carmen Brooke sejak beberapa bulan yang lalu. Carmen tak lain tak bukan adalah Angel.
Gadis itu menyembunyikan nama Angel dan memakai nama Carmen karena dia tidak ingin ditemukan oleh Jarrel atau Evelyn. Dia pun mengecat rambut cokelatnya menjadi warna merah maroon dan menambahkan poni pada rambutnya.
Tak hanya rumah makan Nyonya Sarah Jones saja yang semakin ramai, rumah wanita berwajah Latin itu pun bertambah ramai. Bagaimana tidak? Hampir setiap menit, Carmen dan Sid beradu mulut. Mulai dari berebutan makanan hingga saling mengejek satu sama lain.
"Sid! Jangan menggoda adikmu!" tukas Sarah kepada Sid saat suatu hari dia mendengar Angel berteriak kesal kepada putra semata wayangnya itu.
Karena Sarah sangat mendambakan seorang anak perempuan, maka kedatangan Angel di hidupnya dia katakan sebagai suatu berkah. Ditambah lagi, Angel mendatangkan keberuntungan bagi bisnisnya yang semakin ramai sejak kehadiran Angel di sana. Posisi Sid yang sebelumnya menjadi anak kesayangan Sarah, kini terpaksa bergeser.
Sarah benar-benar memanjakan Angel. Apalagi saat Angel pertama kali datang ke rumahnya, Sarah segera membelikan sekodi pakaian untuk gadis yang tidak memiliki pakaian tersebut.
Tentu saja hal itu membuat Sid iri dan cemburu. Hanya Sid-lah satu-satunya pria yang tidak pernah memuji kecantikan Angel.
"Cih! Badannya bau, dia dekil, dan kumal! Pertama kali dia datang, kupikir dia gadis gila yang meminta-minta," ucap Sid setiap kenalannya datang ke rumah makan dan mendengar Sid dan Angel bertengkar.
Angel menyebut Sid sebagai musuh barunya. Mereka seperti seekor anjing dan kucing yang setiap kali bertemu, akan selalu bertengkar.
Suatu hari, Sarah kembali harus memarahi kedua anak itu karena bertengkar di pagi hari, hanya karena sisa ayam goreng.
"Itu milikku!" tukas Angel sambil memegang ayam goreng tersebut.
Di sisi lain, Sid mempertahankan ayam yang dirasa menjadi miliknya. "Oh yah? Sejak kapan? Ibuku memasaknya untukku, bukan untukmu! Berikan kepadaku!"
Angel bersikeras. Dia tidak akan menyerahkan ayam goreng krispi itu kepada siapa pun. "Terlepas dari itu semua, ayam ini memohon kepadaku supaya aku memakannya! Jadi, biarkan aku mengabulkan keinginan terakhirnya sebelum dia berakhir di perutku!"
__ADS_1
"Sejak kapan ayam memohon? Dia sudah mati!" balas Sid sambil menjulurkan lidahnya kepada Angel.
Tak lama, Sarah datang. Dia mengambil ayam goreng yang menjadi sengketa itu dan membelahnya menjadi dua bagian, lalu dia memberikan ayam itu satu bagian untuk Sid dan bagian lain untuk Angel. "Makanlah! Setelah itu, kita harus bekerja kalau kalian masih mau makan ayam!"
Setelah selesai membersihkan piring serta meja makan, mereka pun berjalan kaki menuju rumah makan Hello Seafood. Jarak antara rumah dan rumah makan mereka, tidak begitu jauh serta dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Hari itu, Angel memakai kaus seatas perut serta rok panjang dan sepatu kets dengan rambut terikat satu ke belakang dan poni menjuntai di samping kedua pipinya. Menurut Sid, semua akan sia-sia karena tak lama lagi, sepatu itu akan dipenuhi oleh pasir.
Namun, Sarah membelanya. "Dia wanita! Biarkan dia berdandan! Akan aneh jika kau yang memakai pakaian seperti ini! Lagi pula, Carmen cantik. Apa pun yang dipakainya tetap akan terlihat cantik,"
"Terima kasih, Bu," ucap Carmen kepada Sarah.
Begitu tiba di tenda rumah makan mereka, ketiga orang itu mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus disiapkan.
Angel bertugas mengelap meja dan kursi juga memasang papan menu di depan rumah makan mereka. Selagi, dia mencoba mendirikan papan menu itu, angin yang cukup besar datang dan menerbangkan papan menu tersebut.
Angel mengejarnya. "Hei, kau mau ke mana!"
Angel menundukkan kepalanya. "Terima kasih,"
"Hei, aku mengenal suaramu!" seru pria itu, kemudian dia memegang pundak Angel.
Saat gadis itu menoleh, si pria segera mengenalinya. "Angel!"
"Sssttt! Ssstt!" bisik Angel sambil menengok ke kiri dan ke kanan dengan wajah ketakutan. "Aku bukan Angel, aku Carmen Brooke. Lalu, siapa kau?"
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Angel. "Kau lupa padaku, Cantik?"
Sementara itu di tempat yang sangat jauh dari Pantai Kencana, Dante lagi-lagi termenung sambil memainkan pulpennya di dagu.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya Smith datang," kata Theo.
Dante memejamkan kedua matanya sesaat. "Untuk apa dia datang lagi, sih? Apa kekasihnya tidak mencari dia?"
Sebelum Theo memintanya datang, seorang wanita berpenampilan sekssi dengan gaun berwarna merah terang berjalan mendekati Dante. "Selamat siang, Tuan Morgan,"
"Katakan, apalagi maumu kali ini, Ev? Hampir setiap hari kau datang ke sini dan mengganggu pekerjaanku!" tukas Dante kesal.
Wanita itu tersenyum genit. "Bukankah kau senang kalau aku datang? Seperti kemarin, hampir saja kita melakukan itu. Aaah, bagaimana kalau kita keterusan? Aku akan senang sekali, Morgan!"
Dante menoleh menatap mantan istrinya tersebut lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pergilah, Ev. Aku sedang tidak ingin berdebat,"
"Pasti kau memikirkan gadis itu lagi. Ya, 'kan?" desak Evelyn.
Beberapa bulan yang lalu, saat dia baru saja kembali menjalin hubungan yang cukup baik dengan Dante, Jarrel menghubunginya dan mengatakan kalau gadis yang ditawannya melarikan diri.
Mereka mencari ke sana kemari di sekitar pesisir pantai, tetapi mereka tidak dapat menemukan jejak Angel. Sampai pada akhirnya, Evelyn dan Jarrel memutuskan untuk menganggap Angel telah mati atau tenggelam di lautan luas.
Setelah pencarian itu, Evelyn kembali kepada Dante yang masih bersikeras untuk tetap tinggal di daerah dekat dia berlibur sebelumnya sampai sekarang.
Namun sudah beberapa kali, Evelyn berhasil menjebak pria itu untuk berhubungan dengannya. Dengan begitu, Dante akan kembali menjadi miliknya. Akan tetapi, Dante selalu teringat dengan Angel, sehingga permainan mereka akan berhenti di tengah.
"Dia kekasihku, Ev! Aku mencintainya dan aku akan tetap menunggu sampai dia datang lagi ke sini. Aku yakin, dia juga mencariku!" tukas Dante.
Evelyn melipat tangan dan merendahkan tubuhnya untjk berbisik kepada Dante. "Apa kau ingin tau sebuah informasi kecil mengenai kekasihmu itu?"
Dengan cepat, Dante menatap tajam Evelyn. "Apa maksudmu? Kau bilang, kau tidak tau di mana dia!"
"Well, aku juga mencari. Beberapa bulan lalu seseorang menghubungiku dan mengatakan dia melihat gadis yang mirip sekali dengan Angel, tubuhnya mengapung di lautan. Dia sudah tidak bernyawa, Morgan," bisik Evelyn dramatis, wajahnya mengukir senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Dante menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan tampak sekali dia seperti kehabisan kata-kata. "Tidak! Tidak mungkin!"
...----------------...