Selimut Cinta Tuan Presdir

Selimut Cinta Tuan Presdir
Keep Fighting


__ADS_3

Beberapa waktu lalu,


Theo dan Sid mendatangi alamat rumahmu yang telah diberikan oleh Angel. Mereka tak langsung menangkap Jarrel Rivers di sana, tetapi mengadakan penyelidikan selama dua hari.


"Itukah Jarrel Rivers? Pria botak dan berwajah seram itu? Pantas saja Carmen ketakutan setengah mati. Orang gila dia!" tanya Sid berbisik saat dia melihat pria yang tadi dia sebutkan masuk ke dalam rumah itu.


Theo memincingkan kedua matanya. "Ya, itu Tuan Rivers. Nyonya Smith pernah memintaku untuk mengantar mereka ke sebuah hotel beberapa kali. Kalau dipikir-pikir, aku bukan supir, tapi kenapa mereka selalu memintaku untuk mengantarkan mereka?"


"Itulah resiko orang baik. Mereka tidak sadar jika dimanfaatkan," kata Sid bijak.


"Kau benar. Setelah ini, aku rasa aku akan dipecat oleh Tuan Morgan. Di mana aku akan bekerja nanti?" tanya Theo menghela napas.


"Keuntungan orang baik adalah ada banyak tangan yang akan siap membantu mereka kapanpun. Percayalah! Oh, dia keluar lagi! Ke mana dia?" tanya Sid. Kedua matanya mengekori Jarrel berjalan hingga mobil yang dinaiki oleh pria itu menghilang dari pandangan.


Begitu yang mereka lakukan selama 2 hari. Hasil yang mereka dapatkan selama mengintai adalah Jarrel selalu pergi pada pukul 10 pagi sampai pukul 3 sore. Kemudian di malam hari, dia akan keluar pada pukul 7 malam hingga pukul 11 malam.


Mereka juga telah mengintip rumah megah itu beberapa kali dan bertanya-tanya kepada orang sekitar tentang rumah itu. Beberapa orang mengatakan rumah itu kosong sejak lama dan akhir-akhir ini memang seorang pria terlihat keluar masuk rumah itu.


Ada seorang tetangga juga yang mengatakan kalau setahun lalu, sempat terdengar suara seorang gadis berteriak minta tolong. Akan tetapi, karena mereka pikir itu hanya pertengkaran biasa, mereka tidak mengambil pusing dengan rintihan minta tolong tersebut.


Sid dan Theo saling berpandangan dan mengangguk. Itu pasti Angel yang meminta tolong. Mereka berdua merasakan ketakutan Angel saat disekap di dalam sana. Rumah megah yang berdiri di atas jalanan tertinggi di daerah itu memang tampak suram dan sepi. Ditambah lagi, pagar tinggi yang berdiri kokoh mengelilingi rumah itu menambah kesan seram bagi siapa pun yang melihatnya.


Pengawal yang ada di sana tidak begitu banyak. Hanya ada satu orang petugas keamanan yang berjaga di pos dan dua orang pengawal yang berdiri di depan pintu masuk. Sedangkan di dalam, tidak ada pengawasan apa pun, kamera pengawas pun tidak ada.


Maka di hari ketiga, Sid dan Theo memutuskan untuk menyelinap masuk ke dalam rumah itu. Sid ingat kalau Angel pernah berkata saat dia melarikan diri, gadis itu memanjat salah satu pagar yang mengarah ke pantai.


Di sisi barat rumah itu memang berhadapan langsung dengan pantai sehingga saat itu, Angel berpikir kalau rumah itu berdiri di tengah-tengah laut atau di tepi jurang, tetapi ternyata rumah itu berseberangan dengan pantai.


"Jadi, kita masuk dari situ?" tanya Theo.

__ADS_1


Sid mengangguk. Setelah persiapan yang matang, akhirnya mereka pun memberanikan diri untuk memanjat pagar di sisi barat rumah itu.


Dengan mengendap-endap, mereka masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci itu. Dalam rumah itu sangat luas dan kosong. Itulah kesan pertama yang Sid dapatkan saat memasuki rumah tersebut.


Hanya ada satu buah sofa serta beberapa kursi berlengan, sebuah televisi, meja makan kecil, dan meja panjang. Lemari pendingin berada di sudut ruangan itu dan kebanyakan berisi minuman keras.


Bau rokok sangat menyengat di setiap ruangan yang mereka masuki. Ketika sampai di salah satu ruangan, Sid tertegun. "Theo, di sini!"


"Apa yang di sini?" tanya Theo menghampiri Sid. Saat sampai di depan sebuah ruangan yang berisi satu ranjang berukuran queen bed, mereka menemukan dua buah borgol dan seutas tali panjang di masing-masing frame ranjang itu.


Mereka berdua pun masuk ke ruangan itu dan entah mengapa mereka dapat mendengar isak tangis serta rintihan kesakitan Angel di kamar itu.


"Sid, kita harus cepat bergerak!" ucap Theo. Dia mengambil gambar kondisi ruangan itu dan memasukan barang bukti berupa borgol dan tali ke dalam plastik bening dengan menggunakan sarung tangan.


Ada sebuah jendela kecil di dekat ranjang yang langsung menghadap jalanan besar. Theo beringsut mendekati jendela itu. "Dari sinikah Nona Angel berteriak meminta tolong?"


Sid mendekati Theo dan merasakan betapa putus asanya Angel saat berteriak dari jendela kecil ini. "Mengerikan! Ayo, bergegas! Aku mual lama-lama berada di dalam sini,"


Seolah mendapatkan petunjuk, Sid menemukan sebuah lemari. Pria itu membuka lemari tersebut dan menemukan sebuah gundukan seprai yang dilipat acak dan diselipkan begitu saja ke dalam lemari. "Aku menemukannya!"


Mereka pun bergerak cepat dan kembali keluar dari rumah itu tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun. "Fiuuh, kita selamat,"


"Semesta mendukung kita, Sid," kata Theo.


Tanpa menunda-nunda, mereka berdua segera memberikan bukti-bukti tersebut kepada polisi setempat. Theo juga meminta bantuan pada Nicholas Hoult untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi.


("Sebenarnya, aku juga memiliki pertanyaan yang sama denganmu. Keputusan sidang perceraian Tuan Morgan sudah keluar, tetapi mereka masih sering berhubungan. Aku merasa, aku yang diselingkuhi. Kasihan Nona Angel. Baiklah, aku akan membantu kalian,") jawab Nick.


Setelah bukti diserahkan disertai dengan penemuan kamera pengawas yang ternyata disembunyikan oleh Evelyn, polisi pun bergerak untuk menangkap Jarrel di tempat.

__ADS_1


Keesokan harinya, Jarrel diterbangkan ke negara asalnya untuk diadili di sana. Tugas Theo dan Sid sudah selesai dan tongkat estafet tugas diserahkan pada Nicholas Hoult, sang pengacara.


Setelah makan malam bersama Dante, Angel menghubungi Theo dan menceritakan apa yang terjadi saat makan malam itu. Dengan terisak-isak, Angel menceritakan segalanya pada asisten pribadi Tuan Morgan itu.


Theo pun dengan sigap meneruskan laporan Angel kepada Nick. "Bisakah laporan itu diproses?"


"Bisa. Katakan saja padaku di restoran mana makan malam itu berlangsung, aku akan meminta para pramusaji dan semua yang bertugas malam itu untuk memberikan kesaksian. Tolong bantu aku untuk menyimpan kamera pengawas di sana," pinta Nicholas.


"Oke," balas Theo menyanggupi.


Maka saat berita tentang Jarrel Rivers turun, Theo memberikan surat pengunduran diri kepada Dante. Betapa hebatnya kemarahan Dante saat itu. "Angel! Pasti karena perempuan itu, 'kan? Penangkapan Rivers juga pasti ulahmu! Aku tidak tau bagaimana kau bisa menemukan ini semua, tapi menurutku ini sudah keterlaluan!"


"Bukankah seharusnya Anda berterima kasih kepadaku karena aku berhasil menemukan siapa pelaku penculikan itu?" tanya Theo memasang wajah polos.


"Enyah kau dariku! Tidak ada bonus dan tidak ada pesangon!" tukas Dante murka..


Sayangnya di hari persidangan, Jarrel justru menyebut nama Dante Morgan sebagai dalang penculikan tersebut hanya untuk melindungi Evelyn dari jerat hukum. Paling tidak hukuman mereka tidak terlalu berat nantinya.


Di saat yang bersamaan, Nicholas memasukan laporan tentang Dante yang memaksa Angel untuk melakukan hubungan badan di restoran dan para pramusaji serta beberapa staff lain bersedia untuk memberikan kesaksian kejadian pada malam itu.


Maka malam itu, polisi dikerahkan untuk menangkap Dante di tempat atas tuduhan perbuatan asusila kepada gadis fi bawah umur serta menjadi dalang penculikan Angel setahun yang lalu.


"Theo, terima kasih atas segala bantuanmu kepadaku. Aku sungguh menghargai itu," kata Angel setelah penangkapan Dante.


Theo tersenyum dan merangkul pundak Angel dengan sayang. "Alasanku membantumu karena aku sudah muak dengan kelakuan Morgan dan Evelyn Smith terhadapmu. Nafsu serta kekayaan menggelapkan hati mereka berdua. Itu yang aku sayangkan. Padahal dulu Dante Morgan adalah sosok pria yang hangat tapi mungkin karena pengaruh Evelyn Smith, dia banyak berubah,"


"Ya, aku tau itu. Urusanku belum selesai dan masih banyak yang harus aku kerjakan. Jadi, maukah kau menemaniku?" tanya Angel lagi.


Theo pun mengangguk. "Pasti! Aku pasti akan membantumu, Angel,"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2